Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - MUMBAI. Mata uang India, rupee, jatuh ke level terendah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa (12/5/2026).
Pelemahan ini dipicu lonjakan harga minyak dunia, derasnya arus keluar dana asing, serta memburuknya sentimen pasar akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Iran yang belum menunjukkan tanda mereda.
Baca Juga: China-AS Berpotensi Capai Kesepakatan Pertanian, Fokus pada Jagung dan Daging
Mengutip Reuters, rupee dibuka di level 95,50 per dolar AS, melewati rekor terendah sebelumnya di posisi 95,4325 yang tercatat pekan lalu.
Mata uang tersebut bahkan sempat melemah lebih dalam hingga 95,6250 per dolar AS. Sejak pecahnya perang Iran-AS, rupee telah kehilangan sekitar 5,2% nilainya.
Bank sentral India dilaporkan turun tangan di pasar valuta asing untuk meredam tekanan pelemahan mata uang domestik.
Rupee menjadi salah satu mata uang Asia yang paling terpukul bersama peso Filipina dan rupiah Indonesia, seiring lonjakan harga minyak mentah Brent sekitar 46% akibat konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Hampir 1%, Negosiasi AS-Iran yang Rapuh Picu Kekhawatiran Pasokan
Secara year to date (YTD), rupee telah melemah 6,5%, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia tahun ini.
Pelaku pasar menilai konflik AS-Iran yang telah berlangsung sekitar dua setengah bulan berpotensi membuat harga minyak tetap tinggi dalam waktu lebih lama. Kondisi tersebut dinilai akan terus memberi tekanan terhadap rupee.
Presiden AS Donald Trump pada Senin (11/5) bahkan mengatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran saat ini berada dalam kondisi “on life support” atau sangat rapuh karena masih adanya perbedaan besar terkait syarat perdamaian.
Kenaikan harga minyak diperkirakan memperlebar defisit transaksi berjalan India. Tekanan semakin berat karena arus modal asing juga terus melemah.
Baca Juga: Trump Boyong Bos-Bos Perusahaan Raksasa AS ke China, Siapa Saja?
Investor asing tercatat telah menarik dana lebih dari US$ 20 miliar dari pasar saham India sejak perang pecah. Nilai arus keluar sepanjang tahun ini bahkan telah melampaui rekor tahun lalu.
Data awal menunjukkan investor global menjual hampir US$ 900 juta saham India hanya pada perdagangan Senin (11/5).
Bank ANZ menilai kombinasi pelebaran defisit transaksi berjalan dan lemahnya arus modal dapat membuat rupee semakin tertekan sekaligus mengurangi cadangan devisa India.
Sejumlah ekonom juga mulai memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi India, menaikkan estimasi inflasi, serta menurunkan proyeksi nilai tukar rupee.
ANZ pekan lalu memangkas target rupee akhir tahun menjadi 97,5 per dolar AS dari sebelumnya 93. Sementara BMI, unit dari Fitch Ratings, memperingatkan rupee berisiko melemah hingga 100 per dolar AS jika konflik Iran memburuk.
Baca Juga: Trump Dukung Pemangkasan Pajak BBM AS di Tengah Lonjakan Harga Akibat Perang Iran
Di tengah tekanan tersebut, muncul ekspektasi bahwa pemerintah India akan kembali menerapkan kebijakan penopang mata uang seperti saat gejolak taper tantrum 2013.
Perdana Menteri India Narendra Modi bahkan telah meminta masyarakat mengurangi konsumsi bahan bakar, perjalanan, serta impor guna menghemat devisa negara.
Analis Nomura menilai pemerintah India kemungkinan akan mempertimbangkan langkah tambahan seperti pembatasan impor non-esensial, pengetatan remitansi luar negeri, hingga kenaikan harga bahan bakar domestik untuk menjaga stabilitas eksternal ekonomi India.













