kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

China-AS Berpotensi Capai Kesepakatan Pertanian, Fokus pada Jagung dan Daging


Selasa, 12 Mei 2026 / 11:36 WIB
China-AS Berpotensi Capai Kesepakatan Pertanian, Fokus pada Jagung dan Daging
ILUSTRASI. Fokus pembelian pertanian China bergeser dari kedelai ke jagung dan sorgum. (REUTERS/Evelyn Hockstein)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. China dan Amerika Serikat berpeluang mencapai kesepakatan baru di sektor pertanian dalam pertemuan tingkat tinggi pekan ini. Namun, pelaku pasar memperkirakan tidak akan ada lonjakan besar pembelian kedelai oleh Beijing di luar komitmen yang telah disepakati sebelumnya pada Oktober tahun lalu.

Sumber Reuters menyebutkan, kesepakatan tersebut kemungkinan akan memperluas pembelian China terhadap produk pertanian Amerika Serikat seperti biji-bijian dan daging. Meski demikian, arah akhir dari hasil pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping masih belum pasti.

Sektor pertanian dinilai menjadi salah satu area hubungan bilateral yang relatif kurang sensitif dibanding isu teknologi maupun keamanan. Pemerintah AS disebut mendorong Beijing agar meningkatkan komitmen pembelian kedelai dan produk pertanian lainnya.

"Mereka tahu itu adalah sesuatu yang mereka butuhkan. Mereka tahu itu adalah sesuatu yang ingin kami jual. Jadi, apakah itu akan terjadi saat kunjungan ini atau tidak lama setelahnya, masih harus dilihat," ujar seorang pejabat senior AS kepada wartawan tanpa merinci produk yang dimaksud.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Hampir 1%, Negosiasi AS-Iran yang Rapuh Picu Kekhawatiran Pasokan

Dalam kunjungan tersebut, lebih dari selusin CEO dan eksekutif perusahaan besar AS dijadwalkan ikut mendampingi Trump. Salah satunya adalah Brian Sikes, Chairman perusahaan perdagangan gandum asal AS, Cargill.

Namun, para analis menilai ruang peningkatan impor kedelai AS oleh China cukup terbatas. Hal ini disebabkan lemahnya permintaan domestik China dan harga kedelai Brasil yang lebih kompetitif.

Sebagai gantinya, pasar menaruh harapan pada potensi kesepakatan baru untuk produk lain seperti jagung, sorgum, gandum giling, daging sapi, dan unggas. Pembahasan terkait produk-produk tersebut sebelumnya sempat muncul dalam pertemuan tingkat tinggi pada Maret lalu.

"Masih ada ruang untuk mencapai kesepakatan pembelian bagi ekspor utama AS lainnya. Bentuknya bisa berupa kesepakatan pembelian dalam volume tertentu untuk produk-produk utama seperti jagung dan sorgum," kata Direktur Konsultan Trivium China yang berbasis di Beijing, Even Rogers Pay.

Pada 2024, sebelum Trump kembali menjabat sebagai presiden, China membeli produk jagung, sorgum, dan gandum dari AS senilai sekitar US$ 4,5 miliar. Nilai tersebut masih jauh lebih kecil dibanding impor kedelai yang mencapai US$ 12 miliar.

Meski demikian, ketidakpastian masih menyelimuti implementasi komitmen China untuk membeli 25 juta metrik ton kedelai AS per tahun hingga 2028. Volume tersebut akan menjadi yang terbesar sejak 2022.

Baca Juga: Trump Boyong Bos-Bos Perusahaan Raksasa AS ke China, Siapa Saja?

"China belum pernah secara resmi mengonfirmasi rincian kesepakatan tersebut. Selain itu, juga belum jelas apakah target tersebut berlaku untuk tahun kalender atau tahun panen," ujar Pay.

China sendiri telah mengurangi ketergantungannya terhadap produk pertanian AS sejak perang dagang pada masa jabatan pertama Trump. Pada 2016, sekitar 41% impor kedelai China berasal dari AS. Namun pada 2024 porsinya turun menjadi sekitar 20%, dan tahun lalu hanya mencapai 15%.

Pelaku pasar kini menunggu kepastian hasil pertemuan Trump dan Xi Jinping. Jika China kembali meningkatkan pembelian kedelai dari AS, harga kedelai di bursa Chicago berpotensi menguat lebih lanjut setelah saat ini berada di level tertinggi dalam dua bulan terakhir.

"Ketika Presiden Trump dan Xi bertemu, kami akan sangat senang melihat adanya tambahan pembelian dari China yang dapat membawa kami lebih dekat ke tingkat ekspor normal dalam satu tahun biasa," ujar Direktur Government Affairs American Soybean Association, Virginia Houston.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×