Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank of Japan (BOJ) diperkirakan akan menunda kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan pekan depan, seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Lima sumber yang mengetahui pemikiran internal BOJ mengatakan bank sentral Jepang cenderung mempertahankan suku bunga pada level saat ini untuk sementara waktu, sambil memantau dampak perang terhadap inflasi, harga energi, dan prospek pertumbuhan ekonomi Jepang.
Pertemuan kebijakan BOJ dijadwalkan berlangsung pada 27–28 April. Meskipun peluang kenaikan suku bunga sempat dipandang besar, harapan tersebut mulai memudar setelah prospek berakhirnya perang di Timur Tengah semakin kecil dan memicu volatilitas pasar global.
Salah satu sumber menyebut bahwa tingginya ketidakpastian membuat BOJ kemungkinan besar memilih menunggu dan melihat perkembangan lebih lanjut sebelum mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter. Sumber lain mengatakan pasar saat ini hampir sepenuhnya menghapus ekspektasi kenaikan suku bunga pada April.
Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Buyar, Kapal Iran Disita dan Negosiasi Mandek
Tekanan Inflasi dan Harga Energi
Konflik di Timur Tengah telah mempersulit rencana BOJ untuk menaikkan biaya pinjaman. Lonjakan harga minyak menambah tekanan inflasi, namun di saat yang sama juga berpotensi melemahkan ekonomi Jepang yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan tersebut.
Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, sebelumnya telah memperingatkan bahwa konflik dapat menekan produksi manufaktur dan memperburuk prospek ekonomi Jepang.
Taruhan pasar terhadap kenaikan suku bunga pada April turun di bawah 20% setelah Ueda tidak memberikan sinyal jelas mengenai kenaikan suku bunga dalam konferensi pers di Washington pekan lalu. Ia hanya menegaskan bahwa keputusan BOJ akan sangat bergantung pada durasi dan besarnya guncangan energi akibat perang.
Peluang Kenaikan Suku Bunga pada Juni
Meski diperkirakan mempertahankan suku bunga pada April, BOJ diyakini tetap membuka peluang untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya di pertengahan Juni.
Saat ini, suku bunga kebijakan Jepang berada di level 0,75%, yang masih dianggap lebih rendah dibandingkan level netral bagi perekonomian. Sementara itu, inflasi Jepang terus bertahan di sekitar target 2% selama hampir empat tahun terakhir.
Ekonom utama di JPMorgan Securities Japan, Ayako Fujita, menilai BOJ kemungkinan besar akan tetap menegaskan niatnya untuk terus menaikkan suku bunga meskipun menahan diri bulan ini.
Baca Juga: Lalu Lintas di Selat Hormuz Nyaris Lumpuh, Hanya Tiga Kapal Melintas dalam 12 Jam
Menurut Fujita, jika pasar mulai khawatir bahwa Jepang akan mempertahankan kebijakan moneter terlalu longgar terlalu lama, hal itu dapat menekan nilai tukar yen dan meningkatkan ekspektasi inflasi lebih lanjut.
Proyeksi Pertumbuhan Dipangkas
Dalam laporan prospek triwulanan yang akan dirilis pekan depan, BOJ diperkirakan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dan menaikkan perkiraan inflasi untuk mencerminkan dampak kenaikan biaya energi akibat perang.
Namun demikian, bank sentral diperkirakan tetap mempertahankan pandangan bahwa ekonomi Jepang masih berada dalam jalur pemulihan moderat dan terus bergerak menuju kondisi yang memungkinkan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
BOJ mengakhiri kebijakan stimulus besar-besaran pada 2024 dan mulai menaikkan suku bunga, termasuk pada Desember lalu, setelah menilai Jepang semakin dekat mencapai target inflasi 2% secara berkelanjutan.













