kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   -25.000   -0,89%
  • USD/IDR 17.847   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.195   68,05   1,11%
  • KOMPAS100 824   16,97   2,10%
  • LQ45 619   8,11   1,33%
  • ISSI 215   -1,05   -0,49%
  • IDX30 350   2,03   0,58%
  • IDXHIDIV20 428   1,77   0,41%
  • IDX80 94   1,01   1,10%
  • IDXV30 118   -0,67   -0,56%
  • IDXQ30 112   0,74   0,66%

Manufaktur Asia Tenggara Kembali Menguat, Ditopang Permintaan Domestik


Selasa, 02 Juni 2026 / 17:07 WIB
Manufaktur Asia Tenggara Kembali Menguat, Ditopang Permintaan Domestik
ILUSTRASI. ASEAN (REUTERS/Lisa Marie David)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - ​HANOI. Aktivitas manufaktur di Asia Tenggara kembali menunjukkan perbaikan pada Mei 2026 setelah sempat melambat selama tiga bulan berturut-turut. Peningkatan permintaan domestik menjadi penopang utama di tengah masih lemahnya kinerja ekspor kawasan.

Data Bloomberg menunjukkan indeks manajer pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) manufaktur Asia Tenggara naik menjadi 51,5 pada Mei, dibandingkan 50,7 pada April. Angka tersebut semakin menjauh dari level 50 yang menjadi batas antara ekspansi dan kontraksi.

Laporan S&P Global yang dirilis Selasa (2/6) mencatat kenaikan pesanan baru mendorong pabrik-pabrik di kawasan meningkatkan volume produksi. Perbaikan permintaan dalam negeri membantu mengimbangi tekanan yang masih membayangi sektor ekspor.

Di antara negara-negara Asia Tenggara, Vietnam mencatat kinerja terbaik dengan PMI sebesar 52,8. Thailand menyusul dengan angka 52,6. Sementara itu, Filipina dan Indonesia juga masih berada di zona ekspansi sepanjang Mei.

Sebaliknya, aktivitas manufaktur di Myanmar dan Malaysia masih mengalami kontraksi. PMI Myanmar tercatat sebesar 49,3, sedangkan Malaysia berada di level 49,9.

Baca Juga: Likuiditas Berlebih, Bank Sentral China Kian Agresif Serap Dana

Meski aktivitas produksi dan pembelian bahan baku meningkat, pelaku usaha masih berhati-hati dalam menambah jumlah pekerja. Kondisi tersebut membuat lapangan kerja di sektor manufaktur kawasan sedikit menyusut pada Mei.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Maryam Baluch, mengatakan ketidakpastian global masih menjadi tantangan bagi prospek manufaktur Asia Tenggara. Menurut dia, gangguan perdagangan internasional yang berlanjut serta tekanan inflasi akibat konflik geopolitik masih berpotensi menahan laju pertumbuhan sektor industri.

Kendati demikian, penguatan permintaan domestik memberikan sinyal positif bahwa aktivitas manufaktur kawasan tetap memiliki daya tahan di tengah berbagai tantangan ekonomi global.

Baca Juga: Trump Longgarkan Tarif Impor Alat Industri dan Pertanian AS




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×