Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran dapat menghubungi Washington jika ingin membuka kembali negosiasi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama dua bulan. Pernyataan ini muncul di tengah upaya diplomatik intensif Teheran yang mencari dukungan internasional.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi tiba di Rusia pada Senin (27/4/2026) untuk bertemu Presiden Vladimir Putin, setelah sebelumnya melakukan diplomasi shuttle ke Pakistan dan Oman sebagai mediator konflik.
Namun, harapan tercapainya perdamaian kembali meredup setelah Trump membatalkan kunjungan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad. Kedua pihak masih memiliki perbedaan signifikan, terutama terkait program nuklir Iran dan akses pelayaran di Selat Hormuz.
Negosiasi Buntu, Harga Minyak Bergejolak
Kebuntuan pembicaraan damai berdampak langsung pada pasar global. Harga minyak mengalami kenaikan, sementara kontrak berjangka saham AS melemah dalam perdagangan awal di Asia, seiring ketidakpastian yang meningkat.
Baca Juga: Indeks Nikkei Melejit ke Rekor Tertinggi: Tembus ke Atas 60.000
Trump menegaskan bahwa Iran mengetahui syarat utama kesepakatan, yakni tidak memiliki senjata nuklir. “Jika mereka ingin berbicara, mereka bisa datang atau menelepon kami. Ada jalur komunikasi yang aman,” ujarnya dalam wawancara dengan Fox News.
Di sisi lain, Iran tetap menuntut pengakuan atas haknya untuk memperkaya uranium untuk tujuan damai, meskipun negara-negara Barat menilai aktivitas tersebut berpotensi digunakan untuk pengembangan senjata nuklir.
Tekanan Domestik dan Proposal Baru
Meski gencatan senjata telah menghentikan pertempuran skala besar sejak konflik dimulai pada 28 Februari, belum ada kesepakatan konkret untuk mengakhiri perang yang telah menewaskan ribuan orang dan memicu lonjakan harga energi global.
Trump kini menghadapi tekanan domestik yang meningkat untuk segera mengakhiri konflik. Penurunan tingkat persetujuan publik serta dampak ekonomi, termasuk inflasi akibat kenaikan harga energi, menjadi tantangan politik serius menjelang pemilu.
Laporan Axios menyebut Iran telah mengajukan proposal baru melalui mediator Pakistan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian perang, sementara pembahasan nuklir akan ditunda ke tahap berikutnya. Namun, pemerintah AS belum memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut.
Diplomasi Intensif dan Sikap Tegas Iran
Setelah pertemuan di Oman, Araqchi kembali ke Pakistan sebelum melanjutkan perjalanan ke Rusia. Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, menyatakan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya diplomatik untuk menghadapi tekanan eksternal.
Baca Juga: Laba Industri China Tumbuh Pesat Meski Perang Iran Meningkatkan Risiko
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan menerima negosiasi yang dipaksakan di bawah ancaman atau blokade. Ia menuntut Amerika Serikat mencabut hambatan, termasuk blokade maritim, sebelum proses perundingan dapat dimulai.
Perbedaan Fundamental Belum Terselesaikan
Perbedaan antara Washington dan Teheran tidak hanya terbatas pada isu nuklir dan Selat Hormuz. Trump juga menuntut Iran menghentikan dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan, seperti Hezbollah di Lebanon dan Hamas di Gaza, serta membatasi kemampuan serangan rudal balistiknya.
Sebaliknya, Iran menuntut pencabutan sanksi ekonomi dan penghentian serangan Israel terhadap sekutunya di kawasan.
Di Lebanon, serangan Israel pada Minggu dilaporkan menewaskan 14 orang dan melukai 37 lainnya. Militer Israel juga memperingatkan warga untuk meninggalkan sejumlah wilayah di luar zona penyangga, menandakan bahwa ketegangan regional masih jauh dari mereda.













