kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.959   -71,00   -0,39%
  • IDX 5.902   155,73   2,71%
  • KOMPAS100 783   23,11   3,04%
  • LQ45 589   20,16   3,54%
  • ISSI 202   4,81   2,44%
  • IDX30 335   12,48   3,87%
  • IDXHIDIV20 413   15,31   3,84%
  • IDX80 88   2,33   2,70%
  • IDXV30 111   2,33   2,15%
  • IDXQ30 108   3,73   3,59%

Akses Mineral Kritis dari China Masih Sulit, Perusahaan AS Cari Pasokan Alternatif


Rabu, 10 Juni 2026 / 21:50 WIB
Akses Mineral Kritis dari China Masih Sulit, Perusahaan AS Cari Pasokan Alternatif
ILUSTRASI. Pembatasan ekspor China membuat mineral tanah jarang sulit diperoleh perusahaan AS. (AFP/KENNY HOLSTON)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Akses Amerika Serikat terhadap mineral kritis dari China masih menghadapi berbagai hambatan akibat kebijakan kontrol ekspor dan lambatnya proses perizinan. Kondisi tersebut mendorong sebagian besar perusahaan AS yang terdampak untuk mulai mencari sumber pasokan baru di luar China.

Lobi bisnis Amerika Serikat, U.S.-China Business Council (USCBC), dalam laporan terbarunya yang dirilis Rabu (10/6/2026), mengungkapkan bahwa pembatasan ekspor yang diterapkan Beijing telah membuat sejumlah elemen tanah jarang (rare earth) menjadi sangat sulit diperoleh oleh perusahaan-perusahaan AS.

Kontrol ekspor tersebut mulai diberlakukan pada April 2025 sebagai respons atas kebijakan tarif yang diterapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kebijakan Beijing membatasi secara ketat ekspor beberapa jenis mineral tanah jarang yang sangat penting bagi industri manufaktur berteknologi tinggi.

Padahal, Trump dan Presiden China Xi Jinping sebelumnya telah mencapai kesepakatan pada Oktober lalu, di mana Gedung Putih menyatakan bahwa China berkomitmen untuk "secara efektif menghapus seluruh pembatasan ekspor mineral kritis yang saat ini berlaku maupun yang diusulkan."

Namun demikian, USCBC menyebut beberapa unsur tanah jarang hingga kini masih "hampir tidak mungkin diperoleh."

Baca Juga: Harga Minyak Global Naik Usai Trump Ancam Iran, Pasar Khawatir Pasokan Terganggu

Berdasarkan hasil survei tahunan USCBC yang dilakukan pada Februari hingga Maret terhadap para anggotanya, organisasi tersebut menyatakan, "Meskipun terdapat beberapa kemajuan, tingkat kepercayaan terhadap akses jangka panjang masih tetap rendah."

Dari 38 perusahaan yang terdampak dalam survei tersebut, sebanyak 29% mengaku telah secara aktif beralih ke pemasok mineral kritis di luar China. Sementara itu, 47% lainnya menyatakan masih mencari alternatif, namun belum menemukan pemasok yang layak untuk menggantikan China.

Presiden USCBC Sean Stein mengatakan bahwa justru kebijakan Beijing mendorong perusahaan-perusahaan untuk melakukan diversifikasi rantai pasok mereka.

"China sedang memaksa terjadinya diversifikasi menjauh dari China dan menciptakan minat yang sangat kuat dari sektor korporasi untuk mencari alternatif lain," ujar Stein kepada Reuters.

Meski hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China sempat mereda setelah tercapainya gencatan perang dagang sementara terkait mineral kritis, pemerintahan Trump tetap mendorong upaya membangun kembali rantai pasok mineral melalui produksi domestik maupun kerja sama dengan negara-negara mitra.

Namun, Stein menilai upaya tersebut belum akan mampu menghilangkan persoalan pasokan dalam waktu dekat.

Menurutnya, akan sangat sulit bagi Amerika Serikat untuk mengatasi masalah pasokan mineral kritis dalam tiga tahun ke depan meskipun berbagai inisiatif telah dijalankan.

Stein juga mengungkapkan bahwa magnet samarium-kobalt yang penting untuk industri kedirgantaraan bersuhu tinggi dan sektor pertahanan, serta mineral yttrium dan kadmium, masih sangat sulit diakses oleh perusahaan-perusahaan AS.

Baca Juga: Trump: Iran Harus Menanggung Akibat karena Terlalu Lama Negosiasi

Wakil Presiden USCBC Kyle Sullivan menambahkan bahwa tantangan tidak hanya terletak pada memperoleh bahan baku mineral tanah jarang, tetapi juga mendapatkan magnet jadi berbahan rare earth karena China menguasai baik sektor pertambangan maupun proses pengolahannya.

Stein menilai persoalan tersebut memerlukan keterlibatan legislatif di Amerika Serikat.

"Ini merupakan contoh yang sangat tepat untuk melibatkan Kongres, karena persoalan ini tidak dapat diselesaikan oleh pemerintahan Trump sendirian," katanya.

Selain persoalan pasokan, ketidakpastian hubungan antara Amerika Serikat dan China juga dinilai menekan minat investasi perusahaan AS di Negeri Tirai Bambu.

Laporan USCBC mencatat hanya sekitar separuh atau 49% dari total 134 perusahaan yang disurvei berencana melakukan investasi di China pada tahun ini.

Dalam laporannya, USCBC juga menilai lingkungan bisnis di China bagi perusahaan asing belum menunjukkan perbaikan.

"Lingkungan bisnis China bagi perusahaan asing tidak mengalami perbaikan. Dukungan pemerintah terhadap perusahaan domestik, termasuk melalui kebijakan industri dan perlakuan istimewa dalam pengadaan pemerintah, telah mengikis manfaat dari pembukaan akses pasar secara formal," tulis USCBC dalam laporannya.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×