Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. China dan Taiwan kembali terlibat perselisihan terkait patroli kapal penjaga pantai China di perairan sebelah timur Taiwan.
Ketegangan ini muncul setelah Taipei menuding kapal-kapal China mengganggu pelayaran komersial dan mengklaim memiliki yurisdiksi di kawasan yang dianggap Taiwan berada dalam wilayah kewenangannya.
Perselisihan terbaru ini dipicu oleh langkah China mengirim kapal penjaga pantai untuk menjalankan operasi penegakan hukum maritim di perairan timur Taiwan.
Beijing menyebut operasi tersebut sebagai upaya sah untuk melindungi kedaulatan dan hak maritim China, terutama setelah Jepang dan Filipina sepakat memulai pembicaraan resmi mengenai batas maritim yang menurut China turut menyangkut perairan di sekitar Taiwan.
Baca Juga: China Kirim Kapal ke Timur Taiwan, Menhan Wellington Koo: Ini Perang Kognitif
Juru Bicara Kantor Urusan Taiwan China, Zhang Han, menegaskan patroli yang dilakukan penjaga pantai China merupakan tindakan penegakan hukum yang sesuai aturan. Beijing juga menegaskan akan terus memperkuat pengawasan dan kendali di perairan tersebut.
Namun, pemerintah Taiwan mengecam langkah tersebut. Menurut Taipei, kapal-kapal China dalam beberapa hari terakhir menghentikan dan meminta informasi kepada kapal dagang mengenai asal serta tujuan pelayaran mereka, sambil mengklaim memiliki kewenangan di wilayah tersebut.
Menteri Luar Negeri Taiwan Lin Chia-lung menilai China menggunakan dalih penegakan hukum untuk memperluas pengaruhnya di kawasan.
Ia menegaskan Beijing tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan perairan di timur Taiwan yang berkaitan dengan kedaulatan maupun yurisdiksi Taiwan.
"Komunis China tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam urusan perairan timur Taiwan," tegas Lin.
Taiwan juga menuduh China merusak status quo di kawasan dan melanggar hukum internasional melalui aktivitas patroli tersebut.
Sekretaris Jenderal Kabinet Taiwan Xavier Chang mengatakan pemerintahnya tidak akan menyerahkan sedikit pun wilayah maritim yang berada di bawah kendali Taiwan.
Baca Juga: AS–China Bersitegang di Peringatan Tiananmen, Taiwan Desak Akui Sejarah Kelam
Perselisihan ini kembali menegaskan ketegangan berkepanjangan antara kedua pihak. China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak mengakui klaim kedaulatan pemerintah di Taipei.
Sebaliknya, Taiwan menolak klaim tersebut dan menegaskan hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan mereka.
Ketegangan juga meluas ke kawasan Laut China Selatan. Dalam sebulan terakhir, Taiwan mengeluhkan kehadiran kapal penjaga pantai China yang beroperasi dekat Kepulauan Pratas yang dikuasai Taiwan dan berada di posisi strategis di bagian utara Laut China Selatan.
Menanggapi keluhan tersebut, Beijing kembali menegaskan bahwa Kepulauan Pratas merupakan wilayah kedaulatan China sehingga patroli yang dilakukan di sekitar pulau-pulau itu dianggap sebagai aktivitas normal.
China bahkan memperingatkan bahwa pemerintah Taiwan harus menanggung konsekuensi apabila terus melakukan langkah-langkah yang dinilai provokatif.












