kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.700.000   20.000   0,75%
  • USD/IDR 17.901   19,00   0,11%
  • IDX 6.322   -51,70   -0,81%
  • KOMPAS100 825   -10,19   -1,22%
  • LQ45 627   -6,67   -1,05%
  • ISSI 218   -2,04   -0,93%
  • IDX30 351   -3,58   -1,01%
  • IDXHIDIV20 427   -2,84   -0,66%
  • IDX80 94   -1,12   -1,17%
  • IDXV30 117   -0,97   -0,82%
  • IDXQ30 111   -0,81   -0,73%

Bursa Asia Menguat Kamis (13/8) Pagi, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Mereda


Kamis, 13 Agustus 2026 / 08:13 WIB
Bursa Asia Menguat Kamis (13/8) Pagi, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Mereda
ILUSTRASI. Bursa Asia - Kospi Korea Selatan (REUTERS/Kim Soo-hyeon)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Kamis (13/8/2026) setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) sesuai ekspektasi pasar, sehingga meredakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,97%. Penguatan dipimpin saham Korea Selatan yang melonjak 4,4%. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang naik 1,86% dan kontrak berjangka S&P 500 menguat tipis 0,02%.

Baca Juga: Taiwan Gelar Latihan Anti-Blokade di Tengah Tekanan Maritim China

Data pemerintah AS menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) naik 0,1% pada Juli 2026 secara bulanan, sesuai dengan perkiraan ekonom.

Angka tersebut berpotensi mengurangi tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang.

Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 40% pada September, turun dari 54% sepekan sebelumnya berdasarkan CME FedWatch.

"Baik The Fed maupun pasar kemungkinan akan menunggu dan mencermati data hingga menjelang pertemuan FOMC September," kata Den Miki, senior rate strategist di SMBC Nikko Securities.

Namun, pelaku pasar masih akan menunggu data CPI Agustus yang akan dirilis sebelum pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan depan. Harga minyak juga menjadi faktor penting karena meningkat moderat sejak Juli.

Baca Juga: Trump Izinkan Penggunaan Perangkat Siber untuk Lawan Organisasi Kriminal

Wall Street Bergerak Campuran

Pergerakan bursa Asia mengikuti Wall Street yang ditutup bervariasi pada perdagangan Rabu (12/8/2026).

Indeks Nasdaq Composite dan S&P 500 masing-masing mencatat kenaikan tipis, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah.

Di pasar valuta asing, dolar AS sedikit melemah terhadap yen Jepang sebesar 0,06% menjadi 159,32 yen per dolar AS.

Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya spekulasi bahwa Bank of Japan (BoJ) dapat menaikkan suku bunga pada bulan depan, lebih cepat dari perkiraan sebelumnya pada Desember.

Ekspektasi tersebut semakin menguat setelah data menunjukkan harga grosir Jepang melonjak 7,2% pada Juli secara tahunan, menandakan tekanan harga yang semakin meluas.

Indeks dolar AS relatif stabil di level 99,93. Sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 0,62 basis poin menjadi 4,688%.

Baca Juga: Berlaku 17 Agustus 2-26, Gaji Ojol Di Negara Tetangga RI Ini Lebih Tinggi Dari UMR

Harga Minyak Tetap Tinggi

Di pasar komoditas, harga minyak mentah bergerak melemah tetapi masih bertahan di level tinggi.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,83% menjadi US$82,58 per barel, sedangkan Brent turun 0,71% menjadi US$88,35 per barel.

Pergerakan harga minyak masih dibayangi ketidakpastian konflik di kawasan Teluk. Amerika Serikat dan Iran masih belum mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang di kawasan tersebut.

Seorang sumber senior Iran mengatakan pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni belum menunjukkan kemajuan dan belum ada jadwal penerapannya.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz.

Klaim tersebut langsung dibantah Iran yang menegaskan bahwa jalur pelayaran strategis itu masih diblokade.

Baca Juga: Fenomena Langka dalam 27 Tahun, Gerhana Matahari Total Bikin Spanyol Gelap

Dolar Australia Stabil, Emas Menguat

Di Australia, Assistant Governor Reserve Bank of Australia (RBA) Christopher Kent mengatakan tiga kali kenaikan suku bunga yang dilakukan bank sentral pada tahun ini mulai memberikan dampak sesuai yang diharapkan.

Berbicara dalam acara Reuters NEXT Newsmaker di Sydney, Kent mengatakan kebijakan moneter yang lebih ketat membutuhkan waktu untuk memberikan dampak penuh terhadap aktivitas ekonomi dan inflasi.

Dolar Australia relatif stabil di level US$0,7062.

Sementara itu, harga emas di pasar spot naik 0,28% menjadi US$4.419,28 per ons. Harga perak spot juga menguat 0,3% menjadi US$65,50 per ons.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×