Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Pemerintah China memperingatkan potensi krisis baru dalam rantai pasok semikonduktor global setelah konflik antara perusahaan chip Belanda, Nexperia, dan unit bisnisnya di China kembali memanas.
Kementerian Perdagangan China pada Sabtu (7/3/2026) menyatakan perselisihan baru antara kantor pusat Nexperia di Belanda dan anak usahanya di China berisiko memicu gangguan pasokan chip dunia, terutama bagi industri otomotif yang sangat bergantung pada komponen tersebut.
Chip produksi Nexperia banyak digunakan dalam sistem elektronik kendaraan.
Gangguan pada pasokannya sebelumnya sempat memukul produksi industri otomotif global pada Oktober lalu, ketika Beijing memberlakukan pembatasan ekspor chip Nexperia yang dibuat di China setelah pemerintah Belanda mengambil alih perusahaan tersebut dari induk asal China, Wingtech.
Baca Juga: China Longgarkan Pembatasan Ekspor Chip Nexperia untuk Keperluan Sipil
Meski ketegangan sempat mereda setelah adanya negosiasi diplomatik, konflik internal perusahaan justru kembali memburuk. Kantor pusat Nexperia di Belanda mendukung pencabutan kendali Wingtech, sementara unit perusahaan di China menuntut agar kendali tersebut dipulihkan.
Peringatan Beijing muncul sehari setelah unit perakitan dan pengemasan chip Nexperia di China menuduh kantor pusatnya menonaktifkan akun kantor seluruh karyawan di China. Menurut pemerintah China, langkah tersebut memperkeruh hubungan antara kedua pihak.
“Langkah ini memicu konflik baru dan menciptakan hambatan baru dalam negosiasi antarperusahaan,” kata Kementerian Perdagangan China dalam pernyataan resminya. 
Kementerian itu juga menilai tindakan kantor pusat di Belanda telah mengganggu operasi normal perusahaan. “Jika hal ini kembali memicu krisis produksi dan rantai pasok semikonduktor global, Belanda harus menanggung tanggung jawab penuh,” tegas kementerian tersebut.
Dalam pernyataannya pada Jumat, entitas Nexperia di Belanda tidak membantah adanya tindakan terkait sistem teknologi informasi tersebut. Namun mereka menolak tudingan bahwa langkah itu mengganggu produksi di fasilitas perakitan dan pengujian chip milik perusahaan di Provinsi Guangdong, China.
Baca Juga: Tiongkok Vs Belanda Panas: Sengketa Nexperia Ancam Krisis Cip Global Lebih Dalam
Perselisihan ini bermula ketika unit Nexperia di China pada September menyatakan diri independen dari kantor pusatnya di Belanda sebagai respons atas pencabutan kendali Wingtech. Sejak saat itu kedua pihak saling menuduh bernegosiasi dengan itikad buruk.
Kantor pusat Nexperia di Belanda juga dilaporkan menghentikan pasokan wafer semikonduktor ke pabrik di Guangdong, yang semakin memperburuk situasi.
Upaya mediasi yang melibatkan pemerintah China, Belanda, dan Uni Eropa sejauh ini belum berhasil memecahkan kebuntuan.
Beijing bahkan menilai pemerintah Belanda tidak cukup mendorong kantor pusat Nexperia untuk berkompromi, maupun menghentikan proses hukum di Amsterdam yang pada Oktober lalu memindahkan saham Wingtech kepada seorang pengacara Belanda.












