Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - ISLAMABAD. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Minggu (26/4/2026) Iran dapat menghubungi Washington jika ingin merundingkan penghentian perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel, di tengah langkah Menteri Luar Negeri Iran yang kembali ke Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan tanpa kehadiran pihak AS.
Harapan untuk menghidupkan kembali upaya perdamaian sebelumnya meredup setelah Trump membatalkan kunjungan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi terus melakukan perjalanan antarnegara mediator.
“Jika mereka ingin berbicara, mereka bisa datang kepada kami, atau mereka bisa menelepon kami. Kami memiliki saluran yang aman,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News dalam program The Sunday Briefing dikutip Reuters.
Baca Juga: Trump Buka Jalur Negosiasi: Iran Bisa Hubungi Jika Ingin Akhiri Perang
Trump menegaskan bahwa syarat utama kesepakatan adalah Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. “Mereka tahu apa yang harus ada dalam perjanjian. Sangat sederhana: mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, jika tidak maka tidak ada alasan untuk bertemu,” ujarnya.
Iran selama ini menuntut agar Washington mengakui haknya untuk memperkaya uranium. Teheran menyatakan program tersebut bertujuan damai, namun negara-negara Barat dan Israel menilai hal itu terkait pengembangan senjata nuklir.
Meski gencatan senjata telah menghentikan pertempuran skala besar sejak konflik dimulai dengan serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari, belum ada kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah menewaskan ribuan orang, mendorong kenaikan harga minyak, serta memperburuk prospek ekonomi global.
Teheran disebut telah menutup sebagian besar Selat Hormuz, jalur penting yang biasanya dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dunia, sementara Washington memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Setelah melakukan pembicaraan di Pakistan, Araqchi terbang ke Oman dan bertemu pemimpinnya, Haitham bin Tariq al-Said, untuk membahas keamanan di Selat Hormuz. Ia juga menyerukan pembentukan kerangka keamanan kawasan tanpa campur tangan pihak luar.
Araqchi kemudian kembali ke Islamabad dan dijadwalkan bertemu dengan pimpinan Pakistan sebelum melanjutkan perjalanan ke Moskow. Media Iran melaporkan pembicaraan tersebut mencakup isu rezim hukum baru di Selat Hormuz, kompensasi, jaminan tidak ada agresi militer lanjutan, serta pencabutan blokade laut.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan kepada Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bahwa Teheran tidak akan menerima “negosiasi yang dipaksakan” di bawah ancaman atau blokade. Ia menegaskan AS harus terlebih dahulu menghapus hambatan, termasuk blokade maritim, sebelum pembicaraan dapat dimulai.
Baca Juga: AS Masih Jadi Tempat Favorit Investasi, Tapi Daya Tarik Asia Pasifik Kian Naik
Trump juga menyatakan bahwa kepemimpinan Iran tengah dilanda perpecahan dan kebingungan. Namun, Pezeshkian sebelumnya menegaskan bahwa Iran tetap bersatu di bawah pemimpin tertingginya.
Konflik ini telah mengguncang stabilitas Timur Tengah, dengan Iran menyerang negara-negara Teluk dan meningkatnya kembali konflik antara Israel dan kelompok Hezbollah di Lebanon. Militer Israel pada Minggu juga mengeluarkan perintah evakuasi baru bagi warga di Lebanon selatan, di luar zona penyangga yang sebelumnya diduduki.












