kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.843   41,00   0,24%
  • IDX 8.265   -25,61   -0,31%
  • KOMPAS100 1.168   -3,76   -0,32%
  • LQ45 839   -2,54   -0,30%
  • ISSI 296   -0,31   -0,10%
  • IDX30 436   -0,20   -0,04%
  • IDXHIDIV20 521   0,94   0,18%
  • IDX80 131   -0,34   -0,26%
  • IDXV30 143   0,44   0,31%
  • IDXQ30 141   0,17   0,12%

IEA Pangkas Proyeksi Permintaan Minyak 2026, Pasar Terancam Surplus 3,7 Juta Barel


Kamis, 12 Februari 2026 / 17:33 WIB
IEA Pangkas Proyeksi Permintaan Minyak 2026, Pasar Terancam Surplus 3,7 Juta Barel
ILUSTRASI. Harga minyak (REUTERS/Orhan Qereman)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan, pertumbuhan permintaan minyak global pada 2026 akan lebih lambat dari perkiraan sebelumnya, di tengah ketidakpastian ekonomi dan harga minyak yang lebih tinggi.

Dalam laporan pasar minyak bulanannya Kamis (12/2/2026), IEA memproyeksikan permintaan minyak dunia hanya akan meningkat 850.000 barel per hari (bpd) tahun ini, turun 80.000 bpd dibanding proyeksi bulan lalu.

Baca Juga: Harga Minyak Naik, Investor Menimbang Ketegangan AS-Iran

Angka ini juga jauh lebih rendah dibandingkan estimasi kelompok produsen OPEC yang dirilis sehari sebelumnya.

IEA menyebut “ketidakpastian ekonomi dan harga minyak yang lebih tinggi” menjadi faktor utama yang menekan konsumsi.

Surplus Tetap Besar

Meski terjadi gangguan pasokan pada Januari, IEA menilai pasar global masih menghadapi surplus yang signifikan.

Lembaga penasihat negara-negara industri itu memproyeksikan pasokan minyak global akan melampaui permintaan sebesar 3,73 juta bpd pada 2026 — setara sekitar 4% dari total permintaan dunia.

Proyeksi ini relatif tidak berubah dari laporan bulan sebelumnya dan lebih besar dibandingkan sejumlah perkiraan lain di pasar.

Baca Juga: Singapura Perkirakan Surplus Anggaran Tahun 2026 Sebesar 1% dari PDB

Harga Naik karena Geopolitik

Harga minyak sendiri telah naik sekitar 14% sejak awal tahun, didorong ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta gangguan pasokan di sejumlah negara produsen.

IEA mencatat bahwa eskalasi geopolitik, badai salju dan suhu ekstrem di Amerika Utara, serta gangguan pasokan dari Kazakhstan sempat memicu sentimen bullish di pasar.

Pada perdagangan Kamis, harga minyak Brent berada di kisaran US$70 per barel.

Produksi Melonjak

Pasokan minyak tumbuh lebih cepat dibanding permintaan, terutama setelah OPEC+—yang terdiri dari OPEC dan sekutunya termasuk Rusia—mulai meningkatkan produksi pada April 2025 setelah bertahun-tahun memangkas output.

Baca Juga: Unilever Wanti-wanti Pertumbuhan 2026 di Ujung Bawah Target, AS dan Eropa Melemah

Selain itu, produsen lain seperti Amerika Serikat, Guyana, dan Brasil juga meningkatkan produksi.

IEA memangkas sedikit proyeksi pertumbuhan pasokan global tahun ini menjadi 2,4 juta bpd dari sebelumnya 2,5 juta bpd.

Namun, laju ini tetap jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan permintaan.

Selanjutnya: Jelang Libur Imlek, IHSG Turun 0,31% ke 8.265, Ini Proyeksi Pergerakan Selanjutnya

Menarik Dibaca: Anti Pucat! Ini 4 Warna Lipstik yang Cocok untuk Kulit Kuning Langsat




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×