Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berpotensi memperburuk krisis energi di Eropa. Perang tersebut mengganggu produksi dan pengiriman gas alam cair (LNG), sehingga memperketat pasokan global dan mendorong lonjakan harga gas.
Situasi ini membuat upaya Eropa untuk mengisi kembali cadangan gas menjelang musim dingin menjadi jauh lebih berisiko dan mahal.
Cadangan gas memiliki peran penting bagi keamanan energi Eropa karena digunakan untuk memenuhi kebutuhan pemanas dan listrik selama musim dingin. Namun, tahun ini stok gas diperkirakan akan berakhir jauh di bawah tingkat normal pada akhir musim pemanasan.
Akibatnya, negara-negara Eropa harus membeli lebih banyak gas selama musim panas, ketika fasilitas penyimpanan bawah tanah dan tangki gas di seluruh benua diisi kembali.
Ketergantungan Eropa pada LNG Meningkat
Sejak menghentikan sebagian besar impor gas pipa dari Rusia setelah Invasi Rusia ke Ukraina 2022, Eropa semakin bergantung pada LNG untuk memenuhi kebutuhan energi dan mengisi cadangan.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus US$83 per Barel
Sebelum 2022, LNG hanya menyumbang sekitar 19% dari total pasokan gas Eropa. Namun menurut S&P Global, porsi tersebut diperkirakan meningkat menjadi 45% atau sekitar 174 miliar meter kubik (bcm) pada tahun ini. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 1.800 kapal tanker LNG.
Untuk mengisi kembali cadangan gas musim panas ini saja, pembeli di Eropa diperkirakan harus mendapatkan sekitar 700 kargo LNG atau sekitar 67 bcm. Angka ini sekitar 180 kargo atau 17 bcm lebih banyak dibandingkan tahun lalu, menurut analis dari Kpler.
Sebagian pasokan memang masih akan datang melalui pipa dari Norwegia, Aljazair, dan dalam skala yang jauh lebih kecil dari Rusia. Namun sebagian besar kebutuhan tambahan tersebut tetap harus dipenuhi dari LNG.
Harga Gas dan LNG Melonjak
Harga gas pipa maupun LNG melonjak tajam sejak konflik dengan Iran memanas.
Harga gas acuan di Eropa sempat mencapai level tertinggi sejak awal 2023 dan melonjak hampir 50% dalam sepekan setelah Qatar menutup ladang gasnya yang menyumbang sekitar seperlima pasokan LNG global.
Kontrak LNG acuan global, yaitu Japan-Korea Marker, juga melonjak hingga 68% karena pembeli berebut menggantikan volume LNG dari Qatar yang hilang.
Berdasarkan perhitungan Reuters, biaya tambahan bagi Eropa untuk membeli 180 kargo LNG kini meningkat menjadi sekitar US$10,1 miliar pada Rabu (5/3), naik dari US$6,7 miliar pada Jumat pekan lalu.
Baca Juga: Konflik Iran Berpotensi Ganggu Pasokan Bahan Baku Chip Global
Sementara untuk pengisian penuh cadangan musim panas sebesar 67 bcm, total biayanya melonjak sekitar US$13,6 miliar menjadi sekitar US$40 miliar.
Risiko Cadangan Gas Turun ke Level Terendah
Empat analis memperkirakan tingkat penyimpanan gas di Eropa akan berada di kisaran 22% hingga 27% pada akhir Maret. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata lima tahun sekitar 41%.
Jika dalam empat minggu ke depan pengiriman LNG dari Timur Tengah terus terganggu, cadangan gas Eropa berpotensi turun lebih rendah lagi.
Gangguan tersebut berkaitan dengan risiko kelumpuhan pengiriman energi di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang dilalui sekitar 120 bcm LNG per tahun atau sekitar 20% pasokan LNG global.
Analis dari Energy Aspects, Erisa Pasko, mengatakan jika gangguan pengiriman di Selat Hormuz berlangsung selama satu bulan, persediaan gas Eropa bisa turun ke level terendah dalam sejarah pada akhir musim dingin.
Persaingan Ketat dengan Asia
Analis komoditas dari SEB Research, Ole Hvalbye, memperkirakan gangguan selama satu bulan dapat menghilangkan sekitar 7 juta ton LNG atau sekitar 9,7 bcm dari pasar global.
Akibat persaingan dengan pembeli di Asia, Eropa berpotensi kehilangan sekitar 5,5 juta ton LNG atau sekitar 7,6 bcm dari pasokan yang tersedia.
Kondisi ini dapat mendorong harga gas Eropa melampaui 60 euro per megawatt hour (MWh), dari sekitar 50 euro saat ini dan 32 euro pada akhir pekan lalu.
Jika kompleks LNG utama Qatar di Ras Laffan LNG Complex mengalami penutupan berkepanjangan, pasar energi global berisiko menghadapi krisis serupa dengan yang terjadi pada 2022. Bahkan harga gas bisa menembus 100 euro per MWh atau lebih.
Pasokan Alternatif Terbatas
Sementara itu, Norwegia sebagai pemasok gas terbesar bagi Eropa sudah memproduksi pada kapasitas maksimum.
Gas yang akan disuntikkan ke fasilitas penyimpanan musim panas ini berasal dari kombinasi gas pipa dan LNG, tetapi permintaan tambahan tetap harus dipenuhi oleh LNG.
Baca Juga: Margin Penyulingan Asia Melonjak ke Level Tertinggi dalam Hampir 4 Tahun
Namun harga yang tinggi dapat mengurangi insentif bagi perusahaan untuk menyimpan gas, terutama jika pasar memperkirakan harga akan turun ketika konflik mereda dan pasokan LNG baru mulai beroperasi.
Peran Amerika Serikat dalam Pasokan LNG
Saat ini Amerika Serikat merupakan pemasok LNG terbesar bagi Eropa dan juga pemasok gas terbesar kedua bagi kawasan tersebut secara keseluruhan.
Washington mendorong Uni Eropa untuk membeli lebih banyak LNG dari proyek baru yang tengah dikembangkan di AS. Namun peningkatan produksi tersebut tidak dapat dilakukan cukup cepat untuk menggantikan volume LNG dari Qatar yang hilang.
Data Komisi Eropa menunjukkan bahwa Qatar menyumbang sekitar 3,5% pasokan gas Uni Eropa pada 2025, sedangkan Amerika Serikat menyumbang sekitar 25,4%.
Menurut International Energy Agency (IEA), pasokan LNG global diperkirakan meningkat lebih dari 7% atau sekitar 42 bcm pada 2026, dengan tambahan pasokan terbesar berasal dari Amerika Serikat.
Namun hingga pasokan baru tersebut tersedia, pasar energi global diperkirakan akan tetap menghadapi ketidakpastian tinggi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.












