Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - TOKYO/SINGAPURA. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3% pada Kamis (5/3/2026), memperpanjang reli dalam lima sesi perdagangan terakhir. Lonjakan ini dipicu meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang memicu kekhawatiran gangguan berkepanjangan terhadap pasokan minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah.
Harga minyak acuan global Brent crude naik US$ 2,44 atau sekitar 3% menjadi US$ 83,84 per barel pada pukul 07.22 GMT. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga meningkat US$ 2,44 atau 3,27% menjadi US$ 77,10 per barel.
Analis dari Australia and New Zealand Banking Group menyebut pasar minyak masih berada dalam kondisi waspada karena risiko gangguan pasokan terus meningkat setelah rangkaian serangan di Timur Tengah. Kekhawatiran utama tertuju pada jalur perdagangan energi melalui Strait of Hormuz, jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak dan gas global.
Ketegangan Militer Meningkat
Iran meluncurkan gelombang serangan rudal ke Israel pada Kamis dini hari, memaksa jutaan warga Israel berlindung di bunker saat konflik memasuki hari keenam. Serangan tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah upaya menghentikan serangan militer Amerika Serikat diblokir di Washington.
Baca Juga: Bank Sentral Malaysia Tahan Suku Bunga ke-4 Kali Berturut-Turut, Ini Alasannya
Sehari sebelumnya, sebuah kapal selam Amerika Serikat menenggelamkan kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka yang menewaskan sedikitnya 80 orang. Pada saat yang sama, sistem pertahanan udara NATO menghancurkan rudal balistik Iran yang ditembakkan menuju Turkey.
Pasukan Iran juga dilaporkan menyerang kapal tanker minyak di sekitar Strait of Hormuz. Bahkan, ledakan dilaporkan terjadi di dekat sebuah kapal tanker di lepas pantai Kuwait, menurut laporan badan pengawasan pelayaran Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations.
Risiko Gangguan Pasokan Energi
Eskalasi konflik ini terjadi ketika putra dari pemimpin tertinggi Iran yang tewas mulai muncul sebagai kandidat kuat pengganti, menandakan bahwa Teheran tidak akan segera menyerah pada tekanan internasional. Konflik yang dimulai lima hari lalu setelah kampanye militer gabungan Amerika Serikat dan Israel telah menewaskan ratusan orang serta mengguncang pasar global.
Situasi geopolitik juga mulai berdampak langsung pada produksi energi di kawasan. Iraq, produsen minyak terbesar kedua di dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries, memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari akibat keterbatasan fasilitas penyimpanan dan jalur ekspor.
Sementara itu, Qatar yang merupakan produsen gas alam cair terbesar di kawasan Teluk, mengumumkan status force majeure atas ekspor gas pada Rabu (4/3). Sumber industri menyebutkan bahwa pemulihan produksi ke tingkat normal kemungkinan membutuhkan waktu setidaknya satu bulan.
Ratusan Kapal Tertahan di Teluk
Ketidakpastian keamanan di kawasan Teluk membuat ratusan kapal pengangkut energi tertahan di laut. Berdasarkan data pelacakan kapal dari platform MarineTraffic, sekitar 200 kapal—termasuk tanker minyak, kapal pengangkut gas alam cair (LNG), dan kapal kargo—berlabuh di perairan terbuka di lepas pantai produsen utama seperti Iraq, Saudi Arabia, dan Qatar.
Baca Juga: Konflik Iran Berpotensi Ganggu Pasokan Bahan Baku Chip Global
Ratusan kapal lainnya juga terpaksa menunggu di luar Strait of Hormuz karena tidak dapat mencapai pelabuhan tujuan. Jalur ini merupakan arteri utama perdagangan energi global yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia.
Di sisi lain, pemerintah China dilaporkan meminta perusahaan-perusahaan domestik untuk menangguhkan penandatanganan kontrak ekspor bahan bakar olahan baru serta berupaya membatalkan pengiriman yang sudah disepakati, menurut sumber industri dan perdagangan.
Para pelaku pasar memperkirakan harga minyak masih berpotensi melanjutkan penguatan dalam waktu dekat, mengingat peluang penyelesaian cepat konflik tersebut dinilai sangat kecil.













