Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Krisis yang melibatkan Iran bersama Amerika Serikat (AS) dan Israel berpotensi mengganggu rantai pasok bahan baku penting industri semikonduktor dunia.
Pemerintah Korea Selatan memperingatkan konflik yang terus berlanjut dapat menghambat pasokan material utama pembuatan chip sekaligus mendorong kenaikan biaya energi.
Anggota parlemen dari partai berkuasa Korea Selatan, Kim Young-bae, mengatakan kekhawatiran tersebut muncul setelah ia bertemu dengan sejumlah pelaku industri, termasuk perusahaan teknologi besar seperti Samsung Electronics serta kelompok industri terkait.
Menurut Kim, para pelaku industri menilai produksi semikonduktor bisa terganggu jika pasokan bahan baku dari Timur Tengah terhambat.
Baca Juga: Industri Petrokimia Hitung Dampak Perang Iran & Cari Alternatif Pasokan Bahan Baku
“Produksi semikonduktor berpotensi terdampak jika sebagian bahan utama tidak dapat lagi dipasok dari Timur Tengah,” ujarnya dalam pengarahan kepada media.
Salah satu material yang disorot adalah helium, gas yang sangat penting untuk pengelolaan panas dalam proses produksi chip. Helium saat ini tidak memiliki alternatif pengganti yang layak dan hanya diproduksi di sejumlah negara, dengan Qatar menjadi salah satu pemasok utama global.
Industri chip Korea Selatan memegang peran krusial di pasar global. Negara tersebut memasok sekitar dua pertiga produksi chip memori dunia. Karena itu, gangguan pasokan bahan baku maupun lonjakan biaya energi berpotensi berdampak pada harga chip secara global.
Peringatan ini muncul ketika produsen chip sudah menghadapi tekanan rantai pasok akibat lonjakan permintaan dari pusat data kecerdasan buatan (AI). Permintaan chip untuk pusat data AI meningkat pesat, sehingga pasokan untuk industri lain seperti smartphone, laptop, dan otomotif menjadi semakin ketat.
Produsen chip Korea Selatan SK Hynix menyatakan telah mengamankan berbagai jalur pasokan serta memiliki persediaan helium yang cukup, sehingga kecil kemungkinan operasional perusahaan terdampak dalam waktu dekat.
Baca Juga: Chandra Asri (TPIA) Nyatakan Force Majeure, Konflik Timur Tengah Ganggu Pasokan
Sementara itu, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) mengatakan belum melihat dampak signifikan dari konflik tersebut, namun tetap memantau perkembangan situasi. Perusahaan manufaktur chip kontrak GlobalFoundries juga menyatakan telah berkoordinasi dengan pemasok dan mitra bisnis di kawasan untuk menyiapkan langkah mitigasi.
Kementerian Industri Korea Selatan menambahkan bahwa negara itu masih bergantung pada Timur Tengah untuk sekitar 14 komponen dalam rantai pasok semikonduktor, termasuk bromin dan peralatan inspeksi chip. Meski demikian, sebagian komponen tersebut dinilai masih bisa dipasok dari dalam negeri atau dari pasar alternatif.
Di sisi lain, konflik di kawasan juga dikhawatirkan menghambat rencana ekspansi pusat data AI di Timur Tengah. Ketidakstabilan keamanan dapat membuat perusahaan teknologi global menunda investasi infrastruktur digital di kawasan tersebut.
Awal pekan ini, Amazon melaporkan sejumlah pusat datanya di Uni Emirat Arab dan Bahrain mengalami kerusakan akibat serangan drone, memunculkan pertanyaan mengenai kecepatan ekspansi perusahaan teknologi besar di wilayah itu.
Baca Juga: Menteri Energi AS: Dampak Konflik Iran Terhadap Energi Bersifat Sementara
Beberapa raksasa teknologi Amerika Serikat seperti Microsoft dan Nvidia sebelumnya memposisikan Uni Emirat Arab sebagai pusat komputasi kecerdasan buatan di kawasan Timur Tengah, yang digunakan untuk mendukung layanan berbasis AI seperti ChatGPT.
Namun eskalasi konflik terbaru—termasuk serangan rudal Iran ke Israel sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat dan Israel—membuat prospek pengembangan pusat data AI di kawasan tersebut menjadi lebih tidak pasti.













