Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Gubernur Bank Sentral Jepang Kazuo Ueda mengatakan bahwa bank sentral akan terus menaikkan suku bunga jika perkembangan ekonomi dan inflasi bergerak sesuai dengan perkiraannya.
Mengutip Reuters, Senin (5/1/2026), Ueda dalam pidato yang disampaikan di hadapan lobi perbankan Jepang mengatakan bahwa ekonomi Jepang mempertahankan pemulihan moderat tahun lalu meskipun terjadi penurunan laba perusahaan akibat tarif AS yang lebih tinggi.
“Upah dan inflasi kemungkinan besar akan naik bersamaan secara moderat,” kata Ueda.
Ia menambahkan bahwa penyesuaian tingkat dukungan moneter akan membantu perekonomian mencapai pertumbuhan berkelanjutan.
Baca Juga: Ekonomi Thailand Diperkirakan Tumbuh 2,2% Pada 2025 dan Melambat pada 2026-2027
Bank Sentral Jepang (BOJ) menaikkan suku bunga kebijakannya ke level tertinggi dalam 30 tahun, yaitu 0,75% dari 0,5% bulan lalu, mengambil langkah penting lainnya dalam mengakhiri puluhan tahun dukungan moneter besar-besaran dan biaya pinjaman mendekati nol.
Meskipun demikian, biaya pinjaman riil Jepang tetap sangat negatif dengan inflasi konsumen melebihi target BOJ sebesar 2% selama hampir empat tahun.
Pasar berfokus pada laporan prospek triwulanan BOJ yang akan dirilis pada pertemuan kebijakan tanggal 22-23 Januari, untuk mendapatkan petunjuk tentang bagaimana dewan tersebut memandang dampak inflasi dari penurunan yen baru-baru ini.
Melemahnya yen telah mendorong kenaikan biaya impor dan inflasi secara lebih luas, sehingga beberapa anggota dewan menyerukan kenaikan suku bunga lebih lanjut dan bertahap.
Baca Juga: Ekonomi Thailand Diperkirakan Tumbuh 2,2% Pada 2025 dan Melambat pada 2026-2027
Dolar AS naik 0,2% menjadi 157,08 yen pada hari Senin setelah mencapai 157,255 untuk pertama kalinya sejak 22 Desember.
Ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga BOJ lebih lanjut telah mendorong kenaikan imbal hasil, dengan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) 10 tahun acuan sempat mencapai level tertinggi 27 tahun di 2,125% pada hari Senin.
Berbicara di hadapan lobi perbankan yang sama, Menteri Keuangan Satsuki Katayama mengatakan Jepang berada pada tahap kritis dalam peralihan menuju ekonomi yang didorong pertumbuhan, dari ekonomi yang terperangkap dalam deflasi.












