Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Data terbaru yang menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) membuka kembali perdebatan di kalangan pejabat bank sentral mengenai arah kebijakan moneter.
Melansir Reuters Jumat (6/3/2026), kondisi ini memicu spekulasi pasar bahwa The Fed kemungkinan akan memangkas suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.
Laporan ketenagakerjaan Februari menunjukkan perekrutan tenaga kerja di AS terhenti. Para pemberi kerja tercatat memangkas sekitar 92.000 pekerjaan pada bulan tersebut, sementara data kenaikan pekerjaan pada bulan-bulan sebelumnya juga direvisi lebih rendah.
Baca Juga: Donald Trump Tuntut Iran Menyerah Tanpa Syarat di Tengah Eskalasi Perang
Di saat yang sama, kenaikan harga energi turut meningkatkan kekhawatiran inflasi. Harga minyak global melonjak mendekati US$90 per barel, sementara harga bensin di AS naik dari sekitar US$3 menjadi US$3,32 per galon hanya dalam sepekan.
Kombinasi antara kenaikan harga energi dan melemahnya pasar tenaga kerja kembali memunculkan kekhawatiran tentang risiko stagflasi situasi ketika pertumbuhan ekonomi melambat namun inflasi tetap tinggi.
Dalam kondisi ini, para pembuat kebijakan di The Fed menghadapi dilema: apakah fokus menjaga inflasi tetap terkendali atau mulai melonggarkan kebijakan untuk mendukung pasar tenaga kerja yang mulai goyah.
Bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan 17–18 Maret mendatang.
Namun, para investor kini meningkatkan taruhan bahwa pemangkasan suku bunga bisa mulai dilakukan pada Juni, tergantung bagaimana bank sentral menilai risiko inflasi dan perlambatan ekonomi.
Baca Juga: Konflik Iran Hambat Penerbangan Timur Tengah, Evakuasi Warga Terjebak Ketidakpastian
Gubernur The Fed Christopher Waller menilai, lonjakan harga minyak saat ini kemungkinan hanya bersifat sementara.
Menurutnya, jika konflik yang memicu kenaikan harga energi mereda dalam beberapa minggu atau bulan, dampaknya terhadap inflasi jangka panjang kemungkinan terbatas.
“Jika situasi ini mereda dalam beberapa minggu atau bahkan satu atau dua bulan, dampaknya tidak akan besar bagi perekonomian dalam jangka panjang,” ujar Waller dalam wawancara dengan Bloomberg Television.
Namun ia mengingatkan, jika harga minyak terus naik dan konflik berlangsung lebih lama, dampaknya bisa merembet ke sektor lain dalam perekonomian.
Di sisi lain, sejumlah pejabat The Fed juga menyoroti pentingnya perkembangan pasar tenaga kerja dalam menentukan arah kebijakan berikutnya.
Jika pelemahan tenaga kerja berlanjut, tekanan untuk menurunkan suku bunga guna menopang ekonomi bisa semakin kuat.
Baca Juga: Lapangan Kerja AS Menurun di Februari 2026, Tingkat Pengangguran Naik ke 4,4%
Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco Mary Daly mengatakan data terbaru menunjukkan harapan bahwa pasar tenaga kerja mulai stabil mungkin terlalu optimistis.
“Inflasi masih berada di atas target dan harga minyak sedang naik. Kita belum tahu berapa lama kondisi ini akan bertahan, tetapi kedua tujuan kebijakan kami kini menghadapi risiko,” ujarnya.
Situasi tersebut menempatkan bank sentral AS pada posisi yang tidak mudah, karena mereka harus menyeimbangkan upaya menekan inflasi yang masih di atas target dengan risiko melemahnya pertumbuhan ekonomi.













