Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - LONDON. Laba BP pada kuartal kedua tahun fiskal 2026 meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 5,73 miliar, sekitar Rp 103,32 triliun. Kenaikan ini didorong harga minyak dan gas yang lebih tinggi serta margin penyulingan yang kuat.
Reuters melaporkan, dalam paparan publik pada Selasa (4/8/2026), CEO Meg O'Neill menguraikan, laba bersih BP, atau dalam laporan keuangan perusahaan ini disebut sebagai laba biaya penggantian pokok, melampaui ekspektasi di kuartal II-2026.
Konsensus proyeksi analis memprediksi laba bersih perusahaan ini mencapai US$ 5,11 miliar. Realisasi tersebut juga naik dari US$ 2,35 miliar di periode yang sama setahun sebelumnya. Manajemen BP mengatakan akan meningkatkan dividennya sebesar 4% menjadi 8,66 sen per saham untuk kuartal kedua.
Laba bersih kuartal kedua tersebut merupakan yang tertinggi untuk kuartal mana pun sejak kuartal ketiga tahun 2022. Laba di seluruh unit bisnis BP melampaui ekspektasi.
Laba sebelum pajak di unit pelanggan dan produk, yang mencakup trading minyak BP, mencapai US$ 4,95 miliar. Realisasi tersebut di atas konsensus proyeksi analis sebesar US$ 4,46 miliar.
Baca Juga: Perang Iran Panaskan Harga Minyak, Laba Raksasa Minyak Arab Saudi Ini Melambung 44%
Perusahaan minyak raksasa ini tahun ini diuntungkan volatilitas pasar, yang disebabkan oleh konflik AS-Iran. Grup tersebut juga mengatakan telah memulai proses untuk menjual bisnis biogas AS-nya, Archaea, karena terus mengurangi investasi energi terbarukan untuk fokus pada minyak dan gas.
BP membeli Archaea pada 2022 seharga US$ 4,1 miliar, sebagai bagian dari ekspansi agresif di bidang energi terbarukan. Tapi strategi ini ditinggalkan pada tahun 2025. Dalam beberapa bulan terakhir, BP telah menghapus aset bernilai miliaran dolar dari bisnis rendah karbonnya.
Dalam beberapa minggu terakhir, BP juga telah menyelesaikan penjualan kilang Gelsenkirchen. BP juga setuju menjual bisnis ritelnya di Austria, dan mengumumkan niatnya untuk menjual bisnis Laut Utara Inggris.
O'Neill, yang menjabat sebagai CEO sejak April lalu, menguraikan lima prioritas BP. Prioritas tersebut yakni memperkuat neraca lebih lanjut, menyederhanakan portofolio, memperketat disiplin investasi, dan meningkatkan kinerja operasional.
BP juga akan menciptakan struktur yang memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akuntabilitas yang lebih besar. "Kami belum memanfaatkan potensi kita sepenuhnya," kata O'Neill, dikutip Reuters, Selasa (4/8/2026).
O’Neill menyebut, kinerja BP selama beberapa tahun terakhir belum memenuhi harapan. “Kami belum memberikan hasil yang konsisten; kami telah menghapus terlalu banyak nilai; dan biaya serta kewajiban tidak cukup tangguh dalam lingkungan harga rendah,” imbuh dia.
BP memperkirakan belanja modal pada tahun 2026 mencapai US$ 13,5 miliar hingga US$ 14 miliar. Ini mencerminkan keputusan untuk menunda pengurangan aset dan mendapatkan nilai yang lebih baik. Perkiraan sebelumnya belanja modal tahun ini mencapai US$ 13 miliar hingga US$ 13,5 miliar.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
