kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   6.000   0,23%
  • USD/IDR 17.945   32,00   0,18%
  • IDX 6.039   2,10   0,03%
  • KOMPAS100 778   1,37   0,18%
  • LQ45 596   0,86   0,14%
  • ISSI 210   -0,13   -0,06%
  • IDX30 332   1,25   0,38%
  • IDXHIDIV20 424   1,56   0,37%
  • IDX80 89   0,13   0,15%
  • IDXV30 115   0,32   0,28%
  • IDXQ30 108   0,44   0,41%

Dolar AS Menguat di Pagi Ini (5/10): Masalah Fiskal Prancis Membuat Euro Terpuruk


Senin, 05 Oktober 2026 / 09:47 WIB
Dolar AS Menguat di Pagi Ini (5/10): Masalah Fiskal Prancis Membuat Euro Terpuruk
ILUSTRASI. Data pekerjaan AS yang lemah meredam spekulasi kenaikan suku bunga The Fed dengan imbal hasil yang lebih tinggi menopang dolar AS (REUTERS/Feisal Omar)


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Dolar Amerika Serikat (AS) memulai pekan ini dengan pijakan yang kuat dan berada di dekat level tertinggi 17 bulan pada hari ini karena para investor mempertimbangkan menurunnya peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) di bulan ini setelah data pekerjaan AS yang lemah, sementara kekhawatiran fiskal di Prancis membuat euro rentan.

Euro berada di level US$ 1,1246, terjebak di dekat level terendahnya sejak Mei 2025 setelah mencatat empat penurunan mingguan berturut-turut karena tingkat utang Prancis dan kekhawatiran tentang kebuntuan politik menjelang pemilihan tahun depan memukul mata uang bersama tersebut.

Poundsterling diperdagangkan pada US$ 1,3241, sementara yen Jepang diperdagangkan pada 157,69 per dolar AS pada awal perdagangan Asia. Hal itu membuat indeks dolar AS, yang mengukur mata uang AS terhadap enam mata uang utama, berada di angka 101,97.

Pasar juga masih terguncang akibat penurunan tajam obligasi pekan lalu, yang mendorong biaya pinjaman global ke level tertinggi dalam beberapa dekade dan menghantam utang Prancis karena investor khawatir akan risiko inflasi akibat melonjaknya harga minyak.

Baca Juga: AS Serang Kapal di Laut Karibia, 4 Orang Tewas dan Legalitas Dipertanyakan

Imbal hasil obligasi US Treasury tenor 10 tahun berada di 5,262%, di bawah level tertinggi 24 tahun yang dicapai pekan lalu yang mengguncang pasar.

"Dolar AS adalah pemenang utama dalam lingkungan saat ini karena tidak hanya kenaikan imbal hasil US Treasury yang meningkatkan daya tarik aset AS, tetapi aksi jual besar-besaran utang secara global juga memicu aliran dana ke aset safe-haven, yaitu dolar AS," kata Matthew Ryan, kepala strategi pasar di Ebury.

Para ahli strategi OCBC mengatakan jika volatilitas suku bunga tetap tinggi, tekanan pada carry trade, mata uang siklikal, dan euro kemungkinan akan berlanjut, sementara aset safe haven tradisional seperti franc Swiss dan dolar AS akan tetap didukung.

Franc Swiss diperdagangkan pada 0,8286 per dolar AS. Nilai tukarnya mencapai 0,9312 per euro setelah naik lebih dari 1% di pekan lalu. Dolar Australia tetap stabil di US$ 0,6956, sementara dolar Selandia Baru melemah 0,1% menjadi US$ 0,5610.

JALUR SUKU BUNGA THE FED

Terlepas dari masalah euro, sebagian besar penguatan dolar dalam beberapa pekan terakhir berasal dari para pedagang yang memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan mendatang, tetapi data pada hari Jumat merusak ekspektasi tersebut setelah pertumbuhan lapangan kerja AS melambat lebih dari yang diperkirakan pada bulan September.

Mansoor Mohi-uddin, kepala ahli strategi makro di Bank of Singapore, mengatakan data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja tidak mengalami overheating meskipun inflasi tetap di atas target 2% The Fed sejak pandemi, dan memperkirakan suku bunga akan tetap tidak berubah bulan ini.

Para pedagang kini memperkirakan peluang 78% bagi The Fed mempertahankan suku bunga tetap stabil pada bulan Oktober, dibandingkan dengan 36% seminggu sebelumnya, menurut alat CME FedWatch. Mereka masih memperkirakan kenaikan suku bunga pada bulan Desember dan dua kenaikan lagi pada paruh pertama tahun 2027.

Baca Juga: Harga Emas Menguat Seiring Prospek Kenaikan Suku Bunga The Fed di Oktober Memudar

Namun, para analis berpendapat bahwa perkiraan pasar terlalu agresif dan The Fed mungkin tidak akan menaikkan suku bunga sebanyak itu.

Strategi Jefferies, Mohit Kumar, mengatakan skenario dasar perusahaan adalah satu kenaikan suku bunga masing-masing dari The Fed dan Bank Sentral Eropa. "Pada saat kita memasuki bulan Maret, harga minyak akan lebih rendah atau, jika kita salah dan harga minyak tinggi, kita akan berbicara tentang pertumbuhan yang lebih lambat," katanya.

"Dalam kedua skenario tersebut, kami tidak melihat bank sentral akan menaikkan suku bunga seperti yang diperkirakan saat ini."




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×