kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.971   60,00   0,33%
  • IDX 6.315   -19,16   -0,30%
  • KOMPAS100 830   -5,48   -0,66%
  • LQ45 627   -5,43   -0,86%
  • ISSI 218   0,30   0,14%
  • IDX30 353   -3,74   -1,05%
  • IDXHIDIV20 435   -6,25   -1,42%
  • IDX80 95   -0,51   -0,53%
  • IDXV30 119   -0,20   -0,17%
  • IDXQ30 113   -1,54   -1,35%

Dolar AS Perkasa di Tengah Konflik Timur Tengah, Yen Sentuh Level Terlemah


Kamis, 23 Juli 2026 / 16:03 WIB
Dolar AS Perkasa di Tengah Konflik Timur Tengah, Yen Sentuh Level Terlemah
ILUSTRASI. AS dan Israel yang terus meningkatkan tekanan terhadap Iran serta gangguan pengiriman minyak di Laut Merah kembali mendorong penguatan dolar AS (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Israel yang terus meningkatkan tekanan terhadap Iran serta gangguan pengiriman minyak di Laut Merah kembali mendorong penguatan dolar AS di pasar global.

Di saat yang sama, mata uang euro dan yen Jepang berada di bawah tekanan menjelang keputusan kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) dan Bank of Japan (BOJ).

Dolar AS melemah tipis terhadap euro pada perdagangan Kamis, tetapi masih mencatat penguatan signifikan terhadap yen Jepang hingga menyentuh level tertinggi dalam hampir 40 tahun. Pelaku pasar masih mencermati eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Harga minyak melanjutkan kenaikan untuk hari kelima berturut-turut setelah serangan kelompok Houthi Yaman terhadap kapal tanker di Laut Merah. Sementara itu, konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz nyaris terhenti, sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dunia.

Di tengah kondisi tersebut, dolar AS memperoleh dukungan karena pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Ketahanan ekonomi AS terhadap guncangan harga energi juga dinilai lebih baik dibandingkan kawasan Eropa maupun Jepang, sehingga meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.

Indeks dolar (Dollar Index), yang mengukur kinerja dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama termasuk euro dan yen, turun tipis 0,08% menjadi 101,06.

Baca Juga: Laba Hyundai Turun 21%, Tertekan Penjualan dan Gangguan Produksi

ECB Diperkirakan Pertahankan Suku Bunga

Pasar memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan moneternya. Namun, bank sentral tersebut diperkirakan tetap membuka peluang kenaikan suku bunga berikutnya, meskipun sebagian pelaku pasar menilai sulit bagi ECB untuk memberikan sinyal yang lebih agresif dibandingkan ekspektasi yang sudah tercermin di pasar.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan akan terjadi dua kali kenaikan suku bunga hingga awal 2027.

Michiel Tukker, Senior Strategist ING, mengatakan pasar belum sepenuhnya menutup kemungkinan ECB menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin lebih cepat dari perkiraan.

"Kami belum bisa sepenuhnya mengesampingkan risiko kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin lebih awal (hari ini)," kata Michiel Tukker, Senior Strategist ING.

Menurutnya, pertanyaan utamanya adalah apakah pasar akan menafsirkan langkah tersebut sebagai perubahan kebijakan yang lebih agresif atau hanya percepatan dari kenaikan suku bunga yang sebelumnya diperkirakan terjadi pada September.

"Pertanyaannya adalah apakah pasar akan menganggap langkah ini sebagai perubahan kebijakan yang lebih hawkish atau hanya sebagai percepatan dari kenaikan suku bunga yang sebelumnya diperkirakan terjadi pada September," ungkapnya.

Euro terakhir diperdagangkan naik 0,09% ke level US$1,1423.

Yen Sentuh Level Terlemah Sejak 1986

Sementara itu, yen Jepang kembali melemah hingga mencapai level terendah sejak Desember 1986 terhadap dolar AS. Mata uang Jepang terakhir diperdagangkan melemah 0,10% di level 163,30 per dolar AS.

Baca Juga: Nokia Raup Berkah Dari Bisnis AI, Laba Kuartal Melonjak 18%

Pelemahan yen dipicu ekspektasi bahwa Bank of Japan akan tetap mengambil pendekatan bertahap dalam menaikkan suku bunga.

Kit Juckes, Strategist Societe Generale, menilai pelemahan yen bukan semata-mata disebabkan sikap hati-hati BOJ.

"Pandangan umum menyalahkan BOJ yang terlalu berhati-hati atas pelemahan yen belakangan ini. Namun menurut saya, masalah utamanya adalah kenaikan harga minyak telah menghapus harapan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Jepang sebesar 1,5% pada tahun ini," katanya.

Ia juga mencatat bahwa yen belakangan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di antara negara-negara G10.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor dua tahun naik ke level tertinggi dalam 31 tahun seiring meningkatnya spekulasi bahwa BOJ akan mempercepat laju kenaikan suku bunga.

Pemerintah Jepang Siap Intervensi Pasar Valas

Menteri Keuangan Jepang kembali memperingatkan kemungkinan intervensi di pasar valuta asing. Pada Kamis, pemerintah menegaskan siap mengambil langkah tegas apabila diperlukan untuk menstabilkan nilai tukar yen.

Sebelumnya, pemerintah Jepang telah melakukan intervensi pembelian yen pada April dan Mei ketika nilai tukar mata uang tersebut melemah hingga menembus level 160 yen per dolar AS.

Mallika Sachdeva, Head of Forex Thematics Deutsche Bank Research, mengatakan efektivitas kebijakan pemerintah akan sangat bergantung pada instrumen yang digunakan.

"Jika Government Pension Investment Fund (GPIF) mendapat mandat untuk mengalihkan lebih banyak dana kembali ke aset domestik, hal itu dapat menjadi sentimen yang sangat positif bagi yen," ujarnya.

Baca Juga: Nestle Spin Off Bisnis Air, Kantongi Dana € 3 Miliar

Namun, ia mengingatkan bahwa dampaknya bisa berbeda apabila BOJ kembali membeli obligasi pemerintah Jepang.

"Namun, jika BOJ diminta mendukung pasar obligasi melalui pembelian kembali obligasi pemerintah Jepang (JGB), hal itu justru bisa menjadi sentimen yang sangat negatif bagi yen."

Pemerintah Jepang sebelumnya juga menyatakan ingin mengarahkan dana pensiun negara dalam jumlah besar agar secara signifikan meningkatkan investasi pada aset domestik.

Analis menilai GPIF merupakan investor Jepang yang memiliki kapasitas terbesar untuk memengaruhi pasar valuta asing. Dana pensiun tersebut melakukan evaluasi strategi investasi setiap lima tahun dan telah menyelesaikan kajian terbarunya pada 2025.

Selain itu, pelaku pasar juga akan terus mencermati arah kebijakan fiskal Jepang karena dinilai menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan yen dalam jangka menengah hingga panjang.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×