Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Iran mengonfirmasi bahwa kepala keamanannya, Ali Larijani, tewas dalam serangan Israel pada Selasa (18/3). Ia menjadi pejabat paling senior yang terbunuh sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Reuters memberitakan, Larijani dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Iran serta orang dekat mendiang pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan putranya, Mojtaba Khamenei, yang kini menjabat sebagai pemimpin tertinggi baru.
Kematian Larijani dikonfirmasi oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, lembaga yang ia pimpin sebagai sekretaris. Dalam serangan yang sama, putranya serta wakilnya, Alireza Bayat, juga dilaporkan tewas.
Serangan ini terjadi saat konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga pekan itu semakin meluas menjadi perang regional, tanpa tanda-tanda deeskalasi.
Pemimpin Baru Iran Tolak Perdamaian
Di tengah eskalasi, pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menolak berbagai tawaran deeskalasi dan gencatan senjata yang disampaikan melalui negara perantara.
Dalam pertemuan kebijakan luar negeri pertamanya, ia disebut menegaskan bahwa belum saatnya berdamai sebelum Amerika Serikat dan Israel “dikalahkan dan membayar kompensasi”.
Pernyataan keras ini menandakan bahwa konflik berpotensi berlanjut lebih lama dan semakin dalam.
Baca Juga: Di Tengah Konflik Timur Tengah, Industri Kripto di Dubai Tetap Tangguh
Selat Hormuz Terganggu, Harga Minyak Melonjak
Ketegangan di kawasan juga berdampak besar pada jalur energi global. Selat Hormuz, yang menjadi jalur sekitar 20% perdagangan minyak dunia, masih dalam kondisi terganggu, setelah Iran mengancam akan menyerang kapal tanker yang terkait dengan AS dan Israel.
Situasi ini mendorong lonjakan harga minyak, yang telah naik sekitar 45% sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Badan Pangan Dunia (WFP) bahkan memperingatkan bahwa puluhan juta orang berisiko menghadapi kelaparan akut jika konflik berlanjut hingga Juni.
AS dan Sekutu Terbelah
Presiden AS Donald Trump kembali mengkritik sekutu-sekutunya yang dinilai tidak responsif terhadap permintaan bantuan militer untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Namun, banyak negara anggota NATO justru enggan terlibat dalam konflik tersebut.
Tonton: Prabowo Perintahkan Usut Tuntas! Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Disorot
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menegaskan bahwa tidak ada negara yang siap mempertaruhkan nyawa warganya untuk menjaga jalur tersebut. Ia menekankan pentingnya solusi diplomatik guna mencegah krisis pangan, pupuk, dan energi global.
Di sisi lain, pejabat ekonomi Gedung Putih menyebut konflik ini kemungkinan berlangsung dalam hitungan minggu, bukan bulan—meski di lapangan eskalasi justru terus meningkat.













