Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia anjlok sekitar 4% ke level terendah dalam tiga bulan pada perdagangan Selasa (16/6/2026). Ini terjadi seiring meningkatnya harapan bahwa Amerika Serikat dan Iran akan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dan membuka kembali jalur pelayaran penting Selat Hormuz.
Minyak mentah Brent turun US$ 3,29 atau 4% menjadi US$ 79,88 per barel pada pukul 21.48 WIB, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun US$ 3,82 atau 4,7% ke level US$ 76,93 per barel.
Penurunan ini membuat Brent berada di jalur penutupan terendah sejak 2 Maret, sekaligus memasuki wilayah oversold secara teknikal untuk tiga hari berturut-turut—yang terakhir terjadi pada Oktober 2025. WTI juga menuju penutupan terendah sejak 4 Maret.
Baca Juga: Baru Dibuka, Opsi Saham SpaceX Langsung Jadi yang Paling Ramai di Dunia
Sebelum konflik Iran dimulai pada akhir Februari, kedua acuan harga minyak tersebut diperdagangkan di kisaran US$ 65 hingga US$ 70 per barel. Sejak itu, pasar energi global mengalami volatilitas tajam akibat gangguan pasokan dan ketegangan geopolitik.
Tekanan harga terbaru dipicu oleh pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kesepakatan sementara dengan Iran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur pengiriman energi melalui Selat Hormuz. Jalur ini sebelumnya terganggu akibat eskalasi perang, padahal sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati rute tersebut.
Namun, meski kesepakatan tersebut memicu optimisme pasar, sejumlah analis memperingatkan bahwa pemulihan penuh arus perdagangan energi tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Aktivitas pelayaran dan ekspor minyak diperkirakan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk kembali normal, bahkan jika gencatan senjata benar-benar bertahan.
Sejumlah bank investasi besar seperti Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Citi telah memangkas proyeksi harga minyak mereka setelah perkembangan terbaru ini.
Analis Commerzbank juga menilai dalam skenario terbaik yakni pembukaan kembali Selat Hormuz secara berkelanjutan dibutuhkan waktu lama sebelum arus perdagangan energi kembali stabil.
Selain faktor geopolitik, harga minyak juga tertekan oleh kekhawatiran perlambatan ekonomi global, termasuk ketidakpastian pertumbuhan ekonomi China, inflasi yang masih tinggi, serta kebijakan suku bunga ketat di berbagai negara.
Di China, aktivitas pengolahan minyak tercatat turun 9,1% pada Mei dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai level terendah dalam hampir empat tahun. Sementara itu, kebijakan moneter ketat dari bank sentral seperti Federal Reserve AS dan Bank of Japan turut menekan prospek permintaan energi.
Baca Juga: AS Longgarkan Larangan, Drone Mainan China Kini Kembali Lolos Impor
Pasar kini juga menantikan data persediaan minyak mingguan dari American Petroleum Institute dan Energy Information Administration. Analis memperkirakan penarikan stok sebesar 4,5 juta barel pada pekan yang berakhir 12 Juni, yang jika terjadi akan menjadi penarikan delapan minggu berturut-turut terpanjang sejak awal 2025.
Di tengah kombinasi faktor geopolitik dan ekonomi global tersebut, pasar minyak diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam jangka pendek, dengan arah harga sangat bergantung pada perkembangan negosiasi AS–Iran dan stabilitas jalur perdagangan energi global.













