kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.122.000   -13.000   -0,41%
  • USD/IDR 16.888   -6,00   -0,04%
  • IDX 8.017   -218,65   -2,65%
  • KOMPAS100 1.125   -31,30   -2,71%
  • LQ45 812   -21,87   -2,62%
  • ISSI 286   -6,72   -2,30%
  • IDX30 429   -10,83   -2,46%
  • IDXHIDIV20 517   -9,75   -1,85%
  • IDX80 126   -2,90   -2,25%
  • IDXV30 141   -2,38   -1,66%
  • IDXQ30 138   -3,69   -2,61%

Dampak Perang Iran: Ini Skenario Ringan dan Skenario Terburuk Bagi Ekonomi Global


Selasa, 03 Maret 2026 / 04:12 WIB
Dampak Perang Iran: Ini Skenario Ringan dan Skenario Terburuk Bagi Ekonomi Global


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Ekonomi Amerika Serikat yang selama setahun terakhir mampu bertahan dari berbagai guncangan, mulai dari kebijakan perdagangan hingga isu imigrasi, kini menghadapi ujian baru. 

Ketidakpastian meningkat setelah Presiden Donald Trump memutuskan melancarkan serangan terbuka terhadap Iran dengan tujuan menggulingkan pemerintahan Islam yang telah lama berkuasa di negara tersebut.

Serangan balasan kini terjadi di berbagai wilayah Timur Tengah. Trump bahkan menyatakan konflik ini bisa berlangsung setidaknya selama beberapa minggu. Situasi tersebut membuat para analis menyoroti banyak ketidakpastian baru, terutama setelah harga minyak melonjak dari sekitar US$ 70 menjadi hampir US$ 80 per barel selama akhir pekan sebelum kembali sedikit melemah.

Di saat yang sama, aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak paling strategis di dunia, mulai mengalami gangguan.

Reuters melaporkan, meski Amerika Serikat relatif lebih terlindungi dari guncangan energi dibanding banyak negara maju lainnya karena memiliki produksi minyak dan gas domestik, dampak global terhadap perdagangan, harga, dan investasi tetap berpotensi kembali menghantam ekonomi AS. Hal ini bisa mengganggu prospek pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya terlihat cukup optimistis untuk tahun ini.

Survei terbaru dari Conference Board menunjukkan tingkat kepercayaan CEO terhadap prospek ekonomi AS sebenarnya sempat meningkat. Namun, hampir 60% responden menyebut ketegangan geopolitik sebagai risiko besar yang bisa mengganggu perekonomian.

Baca Juga: Selat Hormuz Memanas, Kapal Tanker Terbakar Dihantam Dua Drone

Sementara itu, dalam laporan terbaru, World Bank sebelumnya menggambarkan prospek ekonomi AS sebagai “kuat”. Namun penilaian tersebut kini harus menghadapi ketidakpastian akibat konflik di kawasan produsen minyak utama dunia, yang berpotensi memengaruhi pengiriman global, rantai pasok, dan harga komoditas.

Ekonom JPMorgan, Joseph Lupton, mengatakan salah satu pilar utama proyeksi ekonomi AS tahun 2026 adalah mulai berkurangnya sikap hati-hati dunia usaha terhadap kebijakan pemerintah.

Data awal tahun menunjukkan perusahaan mulai kembali meningkatkan perekrutan dan belanja modal, memanfaatkan keuntungan dan cadangan modal yang kuat.

Namun menurutnya, pemulihan yang baru mulai tersebut kini menghadapi risiko baru.

“Perang militer yang terjadi di tengah ‘perang dagang’ Amerika Serikat bisa kembali memicu kekhawatiran tentang stabilitas global,” tulisnya dalam catatan kepada investor.

Dampak terhadap kebijakan bank sentral

Besarnya dampak konflik terhadap ekonomi global juga akan menentukan bagaimana respons Federal Reserve terhadap kebijakan moneter.

Jika harga minyak dunia melonjak tajam atau konflik meluas, tekanan inflasi bisa meningkat dan memengaruhi keputusan suku bunga bank sentral.

Situasi ini mengingatkan pada dampak Invasi Rusia ke Ukraina 2022, yang awalnya membuat bank sentral AS bersikap lebih hati-hati terhadap kenaikan suku bunga. Namun kemudian inflasi meningkat tajam sehingga pengetatan kebijakan moneter justru dipercepat.

Baca Juga: Saham Berkshire Alami Penurunan Terbesar Sejak Buffett Mundur dari CEO, Ada Apa?

Ekonom utama AS di SGH Macro Advisors, Tim Duy, menyebut konflik dengan Iran saat ini masih menjadi “wild card” bagi pasar.

Menurutnya, perhatian pasar bisa cepat berkurang jika konflik berubah dari konflik regional menjadi konflik internal di Iran.

Namun ketidakpastian tetap tinggi. Presiden dan CEO SGH Macro Advisors, Sassan Ghahramani, bahkan menilai ada kemungkinan perang saudara di Iran atau eskalasi yang lebih luas, termasuk serangan terhadap pusat-pusat sipil untuk memberi tekanan ekonomi global.

Risiko konflik berkepanjangan

Sejauh ini, dampak awal di pasar keuangan masih relatif terbatas.

Kontrak berjangka suku bunga menunjukkan ekspektasi bahwa Federal Reserve masih akan memangkas suku bunga dua kali tahun ini, dengan kemungkinan pertama pada pertemuan akhir Juli.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS sempat turun, reaksi umum ketika investor mencari aset aman saat krisis global. Namun pada Senin imbal hasil kembali naik, mencerminkan kekhawatiran terhadap inflasi dan risiko ekonomi.

Nilai tukar dolar AS juga menguat terhadap mata uang utama dunia, sementara indeks saham besar AS seperti Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 bergerak campuran.

Analis dari Citigroup menilai perkembangan geopolitik kemungkinan tidak akan secara signifikan mengubah rencana kebijakan suku bunga bank sentral.

Namun mantan ketua Federal Reserve, Janet Yellen, memperingatkan konflik ini dapat meningkatkan inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi AS. Kondisi tersebut bisa membuat bank sentral lebih berhati-hati untuk menurunkan suku bunga.

Skenario terburuk bagi ekonomi global

Ekonom dari Natixis menyebut risiko ekstrem kini meningkat.

Skenario paling ringan adalah konflik mereda cepat dan pemerintahan baru di Iran mampu menstabilkan kawasan. Dalam kondisi ini, dampak terhadap harga minyak dan ekonomi global bisa cepat mereda.

Namun skenario yang lebih buruk adalah konflik meluas dan mengganggu jalur perdagangan global serta rantai pasok internasional.

Dalam situasi tersebut, harga minyak bisa melampaui US$ 120 per barel, biaya asuransi pengiriman melonjak, jalur pelayaran terganggu, dan jaringan produksi global terdampak. Ekonomi AS bahkan berpotensi mengalami pertumbuhan negatif, pengangguran meningkat, dan defisit fiskal membesar.

Tonton: Perang AS-Iran, Harga BBM Berpotensi Naik Lagi, Ekonomi Indonesia Rawan Tertekan

Di sisi lain, analis dari perusahaan investasi The Carlyle Group memperkirakan peluang keberhasilan AS mengganti rezim Iran hanya sekitar 30%.

Sebaliknya, ada kemungkinan besar, sekitar 70% atau lebih, bahwa Iran akan merespons dengan strategi konflik asimetris jangka panjang, seperti serangan siber, aksi teror, atau operasi melalui kelompok proksi di berbagai negara.

Strategi ini berpotensi meluas hingga negara-negara produsen energi lain, termasuk Irak, produsen minyak terbesar kedua di OPEC.

Para analis juga memperingatkan bahwa dampak konflik bisa menjalar ke berbagai titik energi dunia.

“Fokus Amerika Serikat mungkin ada di Iran, tetapi siapa yang melindungi fasilitas LNG di Mozambik?” tulis para analis tersebut, menyoroti potensi dampak global yang lebih luas.




TERBARU
Kontan Academy
Procurement Strategies for Competitive Advantage (PSCA) AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×