Sumber: Kompas.com | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pamor logam mulia meningkat belakangan ini karena banyak orang memburu emas untuk investasi. Namun bagi orang kaya, emas maupun logam mulia yang lain bukanlah merupakan sarana investasi untuk membangun kekayaan.
Kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi umumnya menggunakan pendapatannya untuk membeli aset produktif yang nilainya terus bertumbuh. Sebaliknya, banyak keluarga pekerja lebih berfokus menyimpan uang tunai atau melunasi tagihan sehingga peluang pertumbuhan kekayaan menjadi lebih terbatas.
Memahami berbagai jenis aset yang dapat menciptakan kekayaan merupakan langkah awal untuk memperbaiki kondisi keuangan. Menariknya, sebagian besar aset tersebut kini dapat mulai dimiliki secara bertahap tanpa harus memiliki penghasilan yang sangat besar.
Dilansir dari New Trader U, Minggu (12/7/2026), berikut tujuh aset yang banyak dimiliki orang kaya untuk membangun kekayaan.
1. Saham
Saham menjadi salah satu aset yang paling banyak dimiliki kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi. Dengan membeli saham, investor memiliki sebagian kepemilikan perusahaan dan berhak menikmati kenaikan nilai perusahaan maupun pembagian dividen.
Saat perusahaan mencatat pertumbuhan laba, pemegang saham berpotensi memperoleh keuntungan dari kenaikan harga saham dan pembagian dividen.
Kini, investasi saham semakin mudah diakses melalui reksa dana indeks (index fund) berbiaya rendah maupun pembelian saham pecahan (fractional shares), sehingga masyarakat dapat mulai berinvestasi dengan modal relatif kecil.
Selain itu, efek compounding atau bunga berbunga membuat dividen yang diinvestasikan kembali mampu mempercepat pertumbuhan nilai investasi dalam jangka panjang.
Tonton: Persaingan Bisnis Logam Mulia Meningkat, Jakarta Jadi Pasar Strategis
2. Properti yang Menghasilkan Pendapatan
Memiliki rumah untuk ditinggali berbeda dengan memiliki properti yang menghasilkan pendapatan.
Investor umumnya membeli properti sewa agar memperoleh arus kas rutin sekaligus menikmati kenaikan nilai aset dari waktu ke waktu.
Bagi investor pemula, investasi properti juga dapat dilakukan melalui Real Estate Investment Trusts (REIT), yaitu instrumen yang mengelola portofolio properti dan membagikan sebagian besar laba kepada investor dalam bentuk dividen.
Meski demikian, harga REIT tetap dapat berfluktuasi mengikuti kondisi pasar sehingga memiliki risiko investasi layaknya saham.
3. Kepemilikan Bisnis
Sebagian besar kekayaan bernilai besar berasal dari kepemilikan bisnis.
Pemilik usaha memiliki peluang meningkatkan pendapatan tanpa bergantung sepenuhnya pada jumlah jam kerja. Bahkan usaha sampingan yang dikelola secara konsisten dapat berkembang menjadi aset bernilai tinggi atau dijual dengan harga yang lebih besar di masa depan.
Tonton: IHSG Diproyeksi Tetap Positif Meski Masuk Watchlist S&P, Valuasi Murah Jadi Peluang Investasi
4. Hak Kekayaan Intelektual
Hak kekayaan intelektual merupakan aset yang mampu menghasilkan pendapatan berulang.
Contohnya meliputi buku, perangkat lunak, kursus daring, musik, paten, hingga karya digital lainnya.
Setelah produk selesai dibuat, pemiliknya masih dapat memperoleh royalti atau lisensi tanpa harus terus bekerja secara langsung, sehingga menciptakan sumber penghasilan pasif.
5. Rekening Investasi Berinsentif Pajak
Di beberapa negara tersedia rekening investasi yang memberikan keuntungan perpajakan sehingga hasil investasi dapat berkembang lebih optimal.
Contohnya adalah program pensiun seperti 401(k), Roth IRA, maupun Health Savings Account (HSA) di Amerika Serikat.
Melalui fasilitas tersebut, investasi dapat tumbuh tanpa dikenai pajak setiap tahun sehingga efek compounding menjadi lebih maksimal.
Selain itu, banyak perusahaan juga memberikan employer match atau kontribusi tambahan yang dapat meningkatkan nilai investasi karyawan.
Baca Juga: Jalan Panjang Amerika Mengejar Rumah Terjangkau
6. Investasi di Pasar Privat
Selain membeli saham yang diperdagangkan di bursa, investor kaya juga banyak berinvestasi pada perusahaan privat melalui private equity maupun venture capital.
Jenis investasi ini menawarkan potensi keuntungan yang lebih tinggi karena memungkinkan investor masuk sebelum perusahaan melantai di bursa.
Namun, investasi pasar privat memiliki risiko lebih besar dan umumnya membutuhkan jangka waktu investasi yang lebih panjang.
Saat ini, sebagian peluang tersebut mulai tersedia bagi investor ritel melalui platform equity crowdfunding.
7. Memanfaatkan Utang Secara Produktif
Bagi sebagian besar orang, utang identik dengan beban keuangan. Namun, kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi sering memanfaatkan utang sebagai alat untuk membeli aset produktif.
Contohnya adalah pinjaman untuk membeli properti sewa atau mengembangkan bisnis yang menghasilkan pendapatan.
Perbedaannya terletak pada tujuan penggunaan utang. Utang produktif digunakan untuk memperoleh aset yang menghasilkan arus kas, sedangkan utang konsumtif dipakai membeli barang yang nilainya terus menurun.
Tonton: APTI: Permenkes Kemasan Polos Berisiko Tekan Serapan Tembakau Jelang Panen Raya
Membangun Kekayaan Membutuhkan Waktu
Pada akhirnya, aset yang banyak dimiliki orang kaya sebenarnya dapat mulai dimiliki oleh siapa saja secara bertahap sesuai kemampuan finansial.
Saham, properti, bisnis, hak kekayaan intelektual, investasi berinsentif pajak, investasi pasar privat, hingga penggunaan utang secara produktif merupakan instrumen yang dapat membantu membangun kekayaan apabila dikelola dengan baik.
Perbedaan terbesar bukan terletak pada besarnya penghasilan, melainkan pada pemahaman mengenai cara kerja aset dan kedisiplinan untuk terus berinvestasi dalam jangka panjang.
Dengan strategi yang tepat, konsistensi, dan keputusan keuangan yang bijak, peluang membangun kekayaan tetap terbuka bagi siapa pun.
Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/07/12/111249026/7-aset-yang-bikin-orang-kaya-makin-kaya-apa-saja?page=all#page2.














