Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Militer Amerika Serikat dilaporkan telah “menghilangkan” 16 kapal penabur ranjau milik Iran di dekat Selat Hormuz, menurut pernyataan dari Komando Pusat AS (U.S. Central Command).
Keputusan ini muncul setelah Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa setiap ranjau yang ditaburkan Iran di Selat Hormuz harus segera dihapus.
Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa AS telah “sepenuhnya menghancurkan” 10 kapal penabur ranjau yang tidak aktif.
Menanggapi laporan media yang menyebut Iran mulai menabur ranjau di perairan strategis ini, Presiden AS memposting di platform Truth Social: "Jika Iran menabur ranjau di Selat Hormuz, dan sejauh ini tidak ada laporan yang mengonfirmasi hal tersebut, kami ingin ranjau itu segera dihapus!"
Baca Juga: Chevron dan Shell Mendekati Kesepakatan Jumbo Produksi Minyak di Venezuela
Trump menambahkan bahwa jika Teheran tidak mematuhi permintaan tersebut, mereka akan menghadapi konsekuensi militer, meski tanpa menjelaskan secara rinci.
Ia juga menekankan bahwa AS menggunakan teknologi yang sama seperti saat menindak penyelundup narkoba untuk "menghilangkan secara permanen setiap kapal yang mencoba menabur ranjau di Selat Hormuz."
Dalam beberapa bulan terakhir, AS telah melancarkan serangkaian serangan terhadap kapal-kapal di Karibia dan Pasifik timur yang diduga membawa narkoba, menewaskan puluhan orang.
Pentagon sebelumnya mengonfirmasi bahwa serangan juga ditujukan pada kapal penabur ranjau Iran dan fasilitas penyimpanan ranjau.
Hingga saat ini, perang antara AS dan Israel melawan Iran telah secara efektif menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur penting bagi transportasi minyak dan gas alam cair. Normalnya, sekitar seperlima produksi minyak dan LNG dunia melewati perairan ini di sepanjang pantai Iran.
Upaya Pengawalan Kapal di Selat Hormuz
Jenderal teratas AS menyatakan pada Selasa bahwa militer AS mulai meninjau opsi untuk mengawal kapal-kapal melalui Selat Hormuz jika diperintahkan.
"Kami sedang meninjau berbagai opsi di sana," kata Jenderal Dan Caine kepada wartawan di Pentagon.
Namun, Angkatan Laut AS sejauh ini menolak permintaan hampir setiap hari dari industri pelayaran untuk pengawalan militer di Selat Hormuz, menurut sumber yang mengetahui masalah ini kepada Reuters.
Baca Juga: Harga Minyak Turun, IEA Usulkan Pelepasan Cadangan Terbesar Hadapi Konflik Timteng
Menteri Energi Chris Wright sempat memposting di X (sebelumnya Twitter) bahwa Angkatan Laut AS berhasil mengawal sebuah kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz, namun postingan tersebut kemudian dihapus.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa hingga kini AS belum mengawal kapal tanker atau kapal lainnya melalui perairan strategis tersebut. “Cuplikan video dihapus dari akun resmi X Menteri Wright setelah diketahui salah caption oleh staf Departemen Energi,” kata seorang juru bicara departemen.
Respons Iran
Menanggapi pernyataan tersebut, juru bicara Iran Revolutionary Guards membantah adanya kapal minyak yang dikawal. Ali Mohammad Naini menegaskan melalui media resmi Iran:
"Setiap pergerakan armada AS dan sekutunya akan dihentikan oleh misil dan drone kami."













