kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Taiwan Luncurkan Portal Intelijen untuk Tampung Informasi dari Warga China


Minggu, 14 Juni 2026 / 12:51 WIB
Taiwan Luncurkan Portal Intelijen untuk Tampung Informasi dari Warga China
ILUSTRASI. Taiwan baru saja meluncurkan situs web rahasia untuk memancing informasi dari warga China. (Tyrone Siu/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – TAIPEI. Pemerintah Taiwan meluncurkan sebuah situs web pada Minggu (14/6/2026) yang ditujukan untuk mendorong warga negara China memberikan informasi intelijen kepada otoritas Taiwan.

Langkah ini disebut sebagai upaya menyediakan saluran yang aman bagi masyarakat China yang dinilai semakin tidak puas terhadap sistem pemerintahan di negaranya dan menginginkan perubahan.

Hubungan antara Taiwan dan China selama bertahun-tahun diwarnai aktivitas spionase dari kedua belah pihak. Taiwan, yang diperintah secara demokratis namun diklaim Beijing sebagai bagian dari wilayahnya, belakangan melaporkan peningkatan jumlah kasus dugaan mata-mata asal China.

Melalui situs resminya, Biro Keamanan Nasional Taiwan menyatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir perekonomian China menghadapi tantangan yang semakin besar, sementara kontrol politik tetap berlangsung secara ketat.

"Dengan semakin banyaknya persoalan sosial dan kesejahteraan masyarakat, kondisi tersebut telah memicu ketidakpuasan publik. Akibatnya, semakin banyak individu yang menghubungi lembaga terkait di Taiwan dengan keinginan untuk memberikan berbagai jenis informasi," demikian bunyi pernyataan yang ditampilkan dalam bahasa Mandarin dan Inggris.

Baca Juga: IPO SpaceX Berjalan Mulus, Wall Street Kian Optimistis Sambut Gelombang IPO AI

Hingga berita ini ditulis, Kantor Urusan Taiwan China belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar mengenai peluncuran situs tersebut.

Saat dibuka, situs itu menampilkan video promosi berdurasi sekitar satu menit yang menurut Biro Keamanan Nasional Taiwan dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Video tersebut menggambarkan seorang pegawai negeri sipil di China yang menyaksikan rekan-rekannya diperiksa dan dicopot dari jabatannya.

"Ah, satu orang lagi dibawa pergi," ujar tokoh pegawai negeri yang tidak disebutkan namanya dengan logat Mandarin wilayah utara China, disertai teks menggunakan huruf sederhana yang umum dipakai di China daratan.

Narator dalam video kemudian mengatakan, "Rekan-rekan lama menghilang satu per satu tanpa alasan yang jelas."

Pada bagian akhir video, pegawai tersebut terlihat membeli sebuah telepon seluler dan mengetik pesan sambil berkata, "Sekarang adalah waktunya untuk melakukan perubahan."

Situs web tersebut diblokir di wilayah China. Meski demikian, banyak warga China diketahui menggunakan jaringan virtual privat (VPN) untuk mengakses situs-situs yang dibatasi pemerintah, termasuk media sosial dan mesin pencari asal Barat.

Baca Juga: Iran Umumkan Jadwal Prosesi Pemakaman Ali Khamenei, Berlangsung 4-9 Juli 2026

Biro Keamanan Nasional Taiwan juga menyerukan kepada warga negara China, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri, untuk "secara aktif memberikan informasi dan dengan berani melakukan perubahan."

Menurut lembaga tersebut, strategi baru ini mengadopsi pendekatan yang telah diterapkan oleh sejumlah badan intelijen di negara lain, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Israel.

Saluran tersebut memungkinkan warga negara China menyampaikan informasi terkait intelijen guna "memperluas sumber-sumber intelijen yang beragam bagi biro tersebut."

Di sisi lain, China juga pernah menerapkan pendekatan serupa. Pada 2024, pemerintah China mengumumkan sebuah alamat email yang dapat digunakan masyarakat untuk melaporkan dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh pihak yang disebut sebagai "separatis" Taiwan.

Pemerintah Taiwan sendiri terus menolak klaim kedaulatan Beijing atas pulau tersebut dan menegaskan bahwa hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan mereka sendiri.




TERBARU

[X]
×