kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

China Kirim Astronaut untuk Misi Setahun di Stasiun Luar Angkasa


Minggu, 24 Mei 2026 / 13:04 WIB
China Kirim Astronaut untuk Misi Setahun di Stasiun Luar Angkasa
ILUSTRASI. China kirim astronaut tinggal setahun di Tiangong, rekor terlama. Langkah ini kunci ambisi pendaratan manusia di bulan sebelum 2030 (via REUTERS/CHINA DAILY)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JIUQUAN. China akan mengirim seorang astronaut untuk tinggal selama satu tahun di stasiun luar angkasanya mulai Minggu (24/5/2026), durasi terlama yang pernah dilakukan negara tersebut. Misi ini menjadi bagian penting dari ambisi Beijing untuk mewujudkan pendaratan manusia di bulan sebelum tahun 2030.

Wahana antariksa Shenzhou-23 dijadwalkan meluncur pada pukul 23.08 waktu setempat menggunakan roket Long March-2F Y23 dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di wilayah barat laut China. Misi ini membawa tiga astronaut China ke stasiun luar angkasa Tiangong.

Salah satu anggota kru, Li Jiaying, yang sebelumnya merupakan inspektur kepolisian Hong Kong, menjadi astronaut pertama dari Hong Kong yang mengikuti misi luar angkasa China. Dua kru lainnya adalah komandan Zhu Yangzhu dan pilot Zhang Yuanzhi yang berasal dari divisi astronaut Tentara Pembebasan Rakyat China.

China dan AS Semakin Intens Bersaing ke Bulan

Badan Antariksa Berawak China menyatakan salah satu dari tiga astronaut tersebut akan tinggal di Tiangong selama satu tahun. Masa tinggal ini menjadi salah satu misi luar angkasa terlama dalam sejarah, meski masih di bawah rekor kosmonaut Rusia pada 1995 yang mencapai 14,5 bulan.

Penentuan astronaut yang akan menjalani misi satu tahun itu akan diputuskan kemudian, tergantung perkembangan misi.

China telah hampir belasan kali mengirim astronaut ke stasiun luar angkasanya. Namun peluncuran kali ini berlangsung di tengah meningkatnya persaingan dengan Amerika Serikat dalam perlombaan menuju bulan.

Baca Juga: Ledakan Tambang Batubara di China Tewaskan 82 Orang, Tragedi Terburuk dalam 17 Tahun

Amerika Serikat sebelumnya menuduh Beijing memiliki rencana untuk mengkolonisasi dan menambang wilayah serta sumber daya bulan. Namun China dengan tegas membantah tuduhan tersebut.

NASA menargetkan pendaratan manusia di bulan pada 2028, dua tahun lebih cepat dibanding target China. Amerika Serikat juga ingin membangun kehadiran jangka panjang di bulan sebagai langkah awal menuju eksplorasi manusia ke Mars.

Pada April lalu, empat astronaut NASA melakukan perjalanan bersejarah mengelilingi bulan dalam misi Artemis II. Mereka terbang lebih jauh dari Bumi dibanding manusia mana pun sebelumnya dalam misi bulan berawak pertama dalam setengah abad terakhir.

Sementara itu, pada Jumat (23/5), perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, sukses melakukan uji terbang tanpa awak untuk roket generasi terbaru Starship. Roket tersebut dirancang untuk mendukung peluncuran satelit Starlink lebih sering dan mengirim misi NASA ke bulan di masa depan.

China Percepat Persiapan Misi Bulan 2030

Dengan waktu kurang dari empat tahun menuju target 2030, China menghadapi tantangan besar untuk mengembangkan perangkat keras dan lunak baru khusus misi bulan. Hal itu diperlukan untuk memastikan astronaut China dapat melakukan transisi aman dari orbit rendah Bumi menuju permukaan bulan yang lebih berisiko.

Sejak 2021, misi Shenzhou secara rutin mengirim tiga astronaut untuk tinggal selama enam bulan di Tiangong. Badan antariksa China juga sedang melatih dua astronaut Pakistan, di mana salah satunya berpotensi ikut dalam misi singkat ke Tiangong tahun ini.

Misi sebelumnya, Shenzhou-22, diluncurkan lebih cepat pada November lalu untuk menjemput tiga astronaut China setelah wahana Shenzhou-20 mengalami kerusakan akibat puing-puing luar angkasa di orbit.

Meski sejauh ini China baru mengirim robot ke bulan, serangkaian misi Shenzhou menunjukkan kemampuan antariksa negara tersebut berkembang pesat. Pada Juni 2024, China menjadi negara pertama yang berhasil membawa sampel dari sisi jauh bulan menggunakan robot.

Keberhasilan pendaratan manusia sebelum 2030 akan memperkuat rencana China membangun pangkalan permanen di bulan bersama Rusia pada 2035.

Kepala ilmuwan program bulan China, Wu Weiren, mengatakan jadwal resmi Beijing sebenarnya dibuat secara konservatif.

Baca Juga: AS dan Iran Sepakat Gencatan Senjata 60 Hari, Ini Isi Kesepakatannya

Dalam setahun terakhir, Beijing telah melakukan berbagai uji keselamatan terhadap perangkat keras untuk misi 2030, termasuk roket berat Long March-10, pesawat ruang angkasa Mengzhou, dan pendarat bulan Lanyue.

Uji Teknologi dan Eksperimen Embrio Buatan di Luar Angkasa

Penerbangan Shenzhou-23 juga akan menjalankan prosedur pertama pertemuan dan docking otomatis cepat dengan modul inti Tiangong sebagai persiapan misi bulan 2030.

Teknologi tersebut sangat penting karena misi bulan China nantinya mengandalkan proses docking otomatis di orbit bulan antara kapsul Mengzhou dan pendarat Lanyue.

Selain itu, ilmuwan China akan mempelajari dampak fisiologis paparan radiasi, penurunan kepadatan tulang, dan tekanan psikologis selama misi jangka panjang di luar angkasa.

Media pemerintah China juga melaporkan Beijing tengah melakukan eksperimen “embrio buatan” manusia pertama di dunia di luar angkasa. Sampel sel punca manusia telah dikirim kepada kru Shenzhou-22 di Tiangong bulan ini.

Eksperimen tersebut bertujuan mempelajari kemungkinan manusia tinggal, bertahan hidup, dan bereproduksi dalam jangka panjang di luar angkasa.


Apa dampak bagi saya, jika saya...

Video Terkait



TERBARU

[X]
×