Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan menjadi tuan rumah pertandingan seni bela diri campuran (MMA) di Gedung Putih pada Minggu (14/6/2026), bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-80.
Acara ini menjadi sorotan luas karena digelar di area resmi pemerintahan dan dinilai mencerminkan gaya kepemimpinan Trump yang kerap melampaui norma tradisional politik AS.
Pertunjukan tersebut menampilkan tujuh laga UFC yang digelar di arena khusus yang dibangun di halaman selatan Gedung Putih, dalam sebuah acara bertajuk “UFC Freedom 250”, merujuk pada peringatan 250 tahun berdirinya Amerika Serikat bulan depan.
Arena UFC di Gedung Putih: Simbol Politik dan Hiburan
Sekitar 17 bulan sejak memulai masa jabatan keduanya, Trump disebut semakin agresif dalam memanfaatkan simbol kekuasaan eksekutif untuk menarik perhatian publik dan menunjukkan citra kekuatan politik.
Baca Juga: Draft Kesepakatan Iran–AS: Buka Selat Hormuz hingga Pelonggaran Sanksi Minyak
Arena berbentuk oktagon UFC—kandang delapan sisi khas MMA—dibangun hanya beberapa meter dari kompleks Gedung Putih, bahkan berada dalam jarak pandang kamar tidur presiden. Lokasi ini mampu menampung sekitar 4.000 penonton dalam struktur darurat setinggi 28 meter yang dijuluki “The Claw”.
Pertandingan utama dijadwalkan berlangsung hingga lima ronde, mempertemukan juara kelas ringan UFC Ilia Topuria melawan mantan penantang gelar sementara Justin Gaethje. Acara dimulai pukul 20.00 waktu setempat (00.00 GMT Senin).
Undangan Terbatas dan Sorotan Etika
Tiket tidak dijual untuk publik umum. Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, UFC menyediakan sejumlah undangan bagi tamu yang bersedia membayar lebih dari 1 juta dolar AS. Sekitar seperempat penonton berasal dari personel militer AS.
Namun, keputusan Trump menggunakan area federal untuk acara yang melibatkan perusahaan swasta memicu kontroversi. Langkah ini dianggap menyimpang dari praktik normal pemerintahan dan menimbulkan pertanyaan terkait konflik kepentingan serta pembiayaan acara.
Mahkamah sempat menerima gugatan yang mempertanyakan legalitas penyelenggaraan acara tersebut, tetapi hakim menolak permintaan untuk menghentikan kegiatan ini.
Respons Publik: Dukungan Rendah dari Warga AS
Dalam survei Reuters/Ipsos terhadap 4.531 orang dewasa di Amerika Serikat pada 3–8 Juni, hanya 16% responden yang menilai acara tersebut “pantas” diselenggarakan oleh Presiden AS.
Survei yang sama juga menunjukkan bahwa penggemar MMA memiliki pandangan beragam terhadap kinerja Trump. Sekitar 45% menyatakan puas, sementara 55% tidak puas. Angka ini lebih tinggi dibanding tingkat persetujuan nasional Trump sebesar 35%, namun jauh di bawah dukungan dari pemilih Partai Republik sebesar 79%.
Baca Juga: Harga Emas Melonjak, Jam Tangan Mewah Berbahan Emas Kini Justru Banyak Dilebur
Kaitan Politik, Bisnis, dan UFC
Presiden Trump dikenal memiliki hubungan dekat dengan CEO UFC Dana White serta keluarga Ellison yang terkait dengan Paramount, perusahaan yang memiliki kontrak siaran UFC senilai 7,7 miliar dolar AS hingga 2033.
Sejak lama, Dana White menggunakan popularitas UFC—terutama di kalangan pria muda—untuk mendukung kampanye politik Trump sejak pemilu 2016.
Menurut laporan Reuters, UFC menghabiskan lebih dari 60 juta dolar AS untuk acara ini dan tidak menargetkan keuntungan finansial.
Sorotan Konflik Kepentingan
Dalam perkembangan lain, dana investasi yang terkait dengan Trump dilaporkan membeli saham di TKO Group Holdings, perusahaan induk UFC yang terdaftar di bursa. Di sisi lain, perusahaan yang melisensikan nama Trump juga menjual koin koleksi dengan harga hingga 12.000 dolar AS.
Salah satu sponsor acara, Crypto.com, sebelumnya juga pernah bekerja sama dengan Trump Media & Technology Group.
Gedung Putih membantah adanya konflik kepentingan dan menyatakan bahwa pengelolaan bisnis keluarga Trump tidak melibatkan presiden secara langsung.
Acara di Tengah Ketegangan Politik dan Ekonomi
Acara ini berlangsung di tengah situasi politik yang sensitif, termasuk perang Iran yang telah berlangsung empat bulan dan mendorong kenaikan harga konsumen ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Baca Juga: Inggris Sita Kapal Tanker Bayangan Rusia di Selat Inggris
Trump disebut menghadapi tekanan politik yang meningkat, termasuk kekhawatiran publik terhadap kondisi ekonomi serta persepsi bahwa ia mulai memasuki fase “lame duck” dalam pemerintahannya.
Meski demikian, Gedung Putih menilai acara ini sebagai bagian dari perayaan nasional menjelang ulang tahun ke-250 Amerika Serikat.
“Spectator-in-Chief”: Politik yang Terhubung dengan Olahraga
Trump selama masa jabatannya dikenal kerap terlibat dalam dunia olahraga, mulai dari isu atlet transgender hingga kebijakan kompensasi atlet kampus. Ia juga sering menghadiri berbagai ajang olahraga besar di Amerika Serikat.
Menariknya, acara UFC di Gedung Putih ini juga menyebabkan penundaan KTT G7 agar beberapa pemimpin dunia dapat menyesuaikan jadwal dengan kehadiran Trump.
Sekitar 20% warga Amerika mengaku sebagai penggemar MMA, dengan demografi yang cenderung lebih banyak pria dan relatif independen secara politik.













