Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - LONDON. Lonjakan harga emas dunia hingga mendekati level tertinggi sepanjang masa memunculkan fenomena yang tidak biasa di industri jam tangan mewah. Sejumlah kolektor dan pedagang kini memilih melebur jam tangan emas dari merek-merek ternama karena nilai kandungan logam mulianya dinilai lebih tinggi dibandingkan harga jual kembali di pasar.
Jam tangan Omega Constellation, yang selama ini identik dengan kemewahan dan pernah dipromosikan oleh selebritas seperti George Clooney serta Nicole Kidman, menjadi salah satu model yang paling terdampak tren tersebut.
Berdasarkan wawancara Reuters dengan lebih dari selusin pedagang, pakar industri, dan penasihat investasi, model bekas dari merek seperti Omega maupun TAG Heuer milik LVMH menjadi yang paling rentan dilebur karena nilai emasnya kini melampaui harga jual di pasar barang bekas.
Pedagang emas asal Inggris, Jon White dari Gold Traders, mengaku telah melebur sebuah Omega Constellation emas 18 karat keluaran akhir 1970-an yang masih dalam kondisi sangat baik pada Mei lalu. Jam tersebut hanyalah satu dari puluhan jam tangan mewah yang ia lebur sepanjang tahun ini seiring meningkatnya permintaan terhadap emas sebagai instrumen investasi.
"Jam tangan itu sangat indah. Namun kenyataannya, jika pemiliknya melelang jam tersebut, berapa nilai yang sebenarnya bisa diperoleh?" ujar White, yang juga mengelola rumah lelang.
Baca Juga: Inggris Sita Kapal Tanker Bayangan Rusia di Selat Inggris
Menurut White, kandungan emas dalam Omega Constellation tersebut bernilai sekitar 5.750 pound sterling atau sekitar US$ 7.749. Nilai itu sekitar 35% lebih tinggi dibandingkan estimasi harga lelangnya yang hanya berkisar antara 4.000 hingga 4.500 pound sterling.
Pendiri unit jam tangan bekas Analog Shift, James Lamdin, mengatakan praktik peleburan terutama terjadi pada jam tangan bekas modern maupun model vintage yang belum memiliki nilai koleksi tinggi.
"Praktik peleburan terutama terjadi pada jam tangan bekas kontemporer dan juga jam tangan vintage yang belum menjadi barang koleksi," kata Lamdin.
Harga emas naik tajam, pasar jam bekas tertinggal
Harga emas melonjak tajam pada Januari hingga mencetak rekor sekitar US$ 5.600 per ons, didorong meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran perdagangan global yang membuat investor memburu aset safe haven. Saat ini harga emas masih bertahan di kisaran US$ 4.200 per ons, hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata harga sepanjang 2024.
Namun, kenaikan tersebut tidak diikuti oleh harga jam tangan bekas.
Pakar sejarah horologi Adrian Hailwood menyayangkan tren tersebut.
"Saya merasa sangat sedih, karena begitu sebuah benda dilebur, maka benda itu hilang untuk selamanya," ujarnya.
Belum ada data resmi mengenai jumlah jam tangan mewah yang telah dilebur. Meski demikian, data World Gold Council menunjukkan bahwa daur ulang emas global pada kuartal pertama meningkat 5% menjadi 366 ton, sementara nilai permintaan perhiasan emas naik 31% menjadi US$ 47 miliar.
Kandungan emas dalam sebuah jam tangan bisa sangat bervariasi, mulai dari hanya beberapa gram hingga lebih dari 200 gram. Dengan demikian, nilai logamnya dapat mencapai puluhan ribu dolar AS. Pada Omega Constellation, emas terdapat pada bagian casing maupun gelangnya.
Baca Juga: Serangan Siber Ganggu Layanan Empat Bank Besar Iran, Data Nasabah Dipastikan Aman
Dengan proyeksi harga emas tahun ini diperkirakan masih berada di kisaran US$ 5.400 hingga US$ 6.300 per ons, tekanan untuk membongkar dan melebur sejumlah jam tangan diperkirakan akan terus berlanjut.
Selain itu, pedagang yang menjual kembali jam tangan bekas juga harus menanggung biaya operasional serta garansi sehingga membuat peleburan menjadi pilihan yang lebih menguntungkan.
Produksi berlebih ikut memicu peleburan
Lamdin menambahkan bahwa jam tangan baru yang diproduksi secara berlebihan juga berpotensi dilebur.
"Saya telah melihat banyak jam tangan yang kualitasnya biasa-biasa saja dilebur. Ada begitu banyak stok berlebih yang tidak terjual di pasar Swiss. Jam-jam itu pada dasarnya masih baru, belum pernah dipakai, namun akhirnya hanya dibongkar karena jumlah produksinya terlalu banyak," katanya.
Namun, ia menilai kondisi berbeda berlaku bagi jam tangan vintage yang langka.
"Ketika Anda memiliki jam tangan vintage yang langka dan memiliki cerita maupun karakter khas akibat usia pemakaiannya, maka menghancurkannya adalah sebuah tragedi yang berpandangan sangat pendek."
Merek eksklusif tetap mempertahankan nilai tinggi
Menurut sejumlah pakar industri, merek premium seperti Patek Philippe dan Rolex yang mengontrol ketat jumlah produksinya mampu mempertahankan harga jual kembali jauh di atas nilai kandungan emasnya.
Kepala hubungan masyarakat dan konten Chrono Hunter, Simon Lazarus, mengatakan beberapa model bahkan memiliki daftar tunggu yang sangat panjang.
"Daftar tunggunya benar-benar luar biasa. Untuk beberapa model, pembeli harus menunggu antara dua hingga delapan tahun," ujarnya.
Data Vontobel menunjukkan Rolex menguasai sekitar 61% nilai penjualan jam tangan Swiss baru dengan harga di atas 3.000 franc Swiss sepanjang tahun lalu, meningkat dari 57% pada 2023 meski volume penjualannya menurun.
Sebaliknya, merek seperti TAG Heuer, Breitling, dan Omega menghadapi tantangan mempertahankan harga karena konsumen dapat membeli versi bekas dengan harga yang jauh lebih murah.
Baca Juga: Taiwan Luncurkan Portal Intelijen untuk Tampung Informasi dari Warga China
Beberapa model seperti Omega Speedmaster bahkan mengalami depresiasi harga yang cukup tajam setelah dijual pertama kali sehingga lebih rentan berakhir di tempat peleburan.
Dilema pemilik jam tangan emas
Kenaikan harga emas juga mendorong sebagian pemilik menjual koleksi mereka.
Mantan insinyur asal New York, Mitchell Talisman, mengaku menjual dua jam tangan emas beserta sebuah rantai emas dengan total kandungan emas 35 gram berkadar 58% seharga US$ 2.660 pada Desember lalu.
"Saya sudah menyimpan berbagai barang itu di dalam kotak penyimpanan bank selama lebih dari 10 tahun," ujarnya.
Meski demikian, tidak semua pemilik rela melepas jam tangan mereka jika akhirnya hanya akan dilebur.
"Bisa jadi itu adalah warisan keluarga atau jam tangan pertama yang pernah mereka miliki," kata Hailwood.
"Mereka tidak menyukai gagasan bahwa benda tersebut akan dihancurkan, sehingga mereka memilih untuk tetap menyimpannya," tambahnya.













