Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - DUBAI. Iran menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Amerika Serikat (AS) memenuhi sejumlah persyaratan yang tercantum dalam kesepakatan sementara kedua negara pada Juni 2026. Kondisi ini berpotensi kembali menekan jalur perdagangan energi global yang menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG).
Negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan penutupan Selat Hormuz akan berlangsung sampai AS memenuhi ketentuan yang telah disepakati dalam nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni.
"Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai AS memenuhi persyaratan dari kesepakatan sementara," kata Qalibaf dalam pernyataan yang dipublikasikan media pemerintah Iran pada Selasa (18/8/2026).
Qalibaf menyebut sejumlah persyaratan tersebut mencakup pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, penghapusan sanksi minyak, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta penghentian ancaman dan operasi militer di seluruh front.
Baca Juga: Fiskal Terjepit, Malaysia Siapkan Reformasi Pajak Konsumsi
"Persyaratan ini mencakup AS mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran, mencabut sanksi minyak, membebaskan aset Tehran yang dibekukan, serta mengakhiri ancaman dan operasi militer di semua front," ujar Qalibaf kepada parlemen Iran.
Kesepakatan Iran-AS Berakhir di Tengah Sengketa Selat Hormuz
Kesepakatan sementara yang dicapai Iran dan AS pada 17 Juni 2026 dengan cepat mengalami keretakan. Salah satu persoalan utama yang muncul adalah sengketa mengenai pengendalian Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Sebelum perang berlangsung, sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia mengalir melalui jalur perairan sempit tersebut.
Kondisi tersebut membuat setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap pasokan dan harga energi global.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan kesepakatan tersebut telah berakhir pada 7 Juli 2026. Sepekan kemudian, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan kesepakatan tersebut "ditangguhkan".
Dalam MoU tersebut, Iran dan AS sebenarnya telah berkomitmen untuk melanjutkan perundingan menuju kesepakatan final. Pembahasan itu mencakup persoalan yang lebih luas, termasuk masa depan program nuklir Iran.
Baca Juga: Pasar Global Bergejolak, Ketegangan Timur Tengah Tekan Obligasi dan Saham
Kedua negara menyepakati batas waktu maksimal 60 hari untuk menyelesaikan perundingan tersebut. Batas waktu itu masih dapat diperpanjang berdasarkan persetujuan bersama.
Iran Siapkan Sikap Lebih Ofensif
Kebuntuan diplomasi juga mendorong perubahan sikap Iran dalam menghadapi konflik dengan AS.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Senin (17/8/2026) bahwa Tehran kini akan mengubah pendekatannya menjadi lebih agresif setelah upaya diplomatik untuk mencapai penghentian konflik secara permanen mengalami kebuntuan.
Pejabat tersebut menyatakan Iran akan beralih ke posisi yang "sepenuhnya ofensif" menyusul terhentinya upaya diplomatik untuk mengamankan pengakhiran konflik secara permanen.
Perkembangan tersebut meningkatkan ketidakpastian terhadap keberlangsungan perdagangan energi melalui Selat Hormuz. Sebagai salah satu jalur strategis dunia, gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi arus pasokan minyak dan LNG sekaligus meningkatkan risiko volatilitas harga komoditas energi global.
Bagi pasar energi, perkembangan hubungan Iran dan AS menjadi perhatian utama karena setiap eskalasi yang berdampak pada Selat Hormuz dapat meningkatkan risiko gangguan terhadap pasokan energi internasional.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
