Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - RIYADH. Arab Saudi memperketat pengawasan terhadap transfer dana ke Uni Emirat Arab (UEA) dengan menerapkan lapisan pemeriksaan tambahan yang biasanya diberlakukan terhadap negara-negara yang dinilai memiliki risiko tinggi terkait aliran dana ilegal.
Kebijakan yang belum diumumkan secara terbuka ini menjadi sinyal terbaru memburuknya hubungan antara dua negara monarki kaya di kawasan Teluk tersebut.
Mengutip Reuters, tiga sumber yang mengetahui langsung persoalan tersebut mengatakan bank-bank utama di Arab Saudi mendapat pemberitahuan dari bank sentral negara itu untuk menerapkan pengawasan tambahan ketika memproses transaksi dengan UEA.
Langkah tersebut diduga menjadi salah satu alasan sejumlah perusahaan mengalami kesulitan mengirim dana dari rekening di Arab Saudi ke UEA dalam beberapa bulan terakhir. Persoalan ini sebelumnya dilaporkan Bloomberg dan Financial Times pada Juli 2026.
Enam pelaku bisnis mengatakan kepada Reuters bahwa transaksi perusahaan mereka dalam berbagai mata uang mengalami penundaan atau bahkan dikembalikan oleh bank-bank Arab Saudi tanpa penjelasan resmi.
Bank sentral Arab Saudi mewajibkan lembaga keuangan melakukan pemeriksaan lebih ketat terhadap nasabah atau yurisdiksi yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi terkait pencucian uang, pendanaan terorisme, dan kejahatan lainnya.
Baca Juga: Inggris Tegaskan Dukungan 100% untuk Ukraina di Tengah Ancaman Rusia
Menanggapi pertanyaan Reuters, bank sentral Arab Saudi mengatakan, "Tidak ada pembatasan langsung terhadap negara-negara tertentu."
Bank sentral tersebut menyatakan Arab Saudi memiliki kerangka regulasi yang kuat untuk memerangi pencucian uang dan pendanaan terorisme sesuai dengan standar yang ditetapkan Financial Action Task Force (FATF), lembaga pengawas kejahatan keuangan global yang berbasis di Paris.
"Seluruh bank di Kerajaan menerapkan pengendalian dan langkah-langkah pencegahan yang diperlukan untuk memitigasi risiko berdasarkan penilaian internal dan selera risiko masing-masing institusi, sekaligus menilai berbagai faktor risiko, termasuk risiko negara dan geografis," ujar bank sentral Arab Saudi.
UEA Masuk Daftar Negara Berisiko Tinggi
Dua sumber mengatakan peningkatan pengawasan tersebut menempatkan UEA di antara lebih dari setengah lusin negara di kawasan yang dikategorikan berisiko tinggi oleh Arab Saudi terkait kejahatan keuangan.
Daftar tersebut mencakup Lebanon, Sudan Selatan, dan Irak, yang sebelumnya masuk dalam daftar abu-abu atau grey list FATF, yakni yurisdiksi yang memerlukan pemantauan tambahan.
FATF menghapus UEA dari daftar abu-abu pada 2024 setelah negara tersebut melakukan perbaikan terhadap rezim pencegahan pencucian uang. Namun, sejumlah kelompok antikorupsi menilai keputusan tersebut dilakukan terlalu dini.
Amerika Serikat juga sebelumnya menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah individu dan entitas yang berbasis di UEA karena dituduh mengumpulkan atau mencuci dana untuk kelompok-kelompok seperti Korps Garda Revolusi Islam Iran dan kelompok militan Al-Shabaab di Somalia.
Seorang sumber dari Arab Saudi menyebut peningkatan pengawasan tersebut dimaksudkan sebagai "pesan halus" kepada para pemimpin UEA mengenai pentingnya menjaga hubungan baik setelah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Interpretasi tersebut juga dibagikan oleh empat sumber dari sektor keuangan regional yang tidak mendapat penjelasan langsung mengenai alasan di balik kebijakan tersebut.
Otoritas Arab Saudi maupun UEA tidak menjawab pertanyaan mengenai faktor yang mendorong langkah tersebut.
Sementara itu, pejabat UEA mengatakan Kementerian Ekonomi negaranya belum menerima laporan dari perusahaan swasta mengenai kesulitan atau keterlambatan yang tidak biasa dalam penyelesaian transfer bank antara kedua negara.
"UEA dan Arab Saudi memiliki hubungan ekonomi dan komersial yang erat dan telah berlangsung lama, yang didukung oleh arus perdagangan dan investasi yang signifikan," kata pejabat tersebut.
"Kami tetap melakukan komunikasi secara berkala dengan sektor swasta dan para pemangku kepentingan terkait, dan akan meninjau setiap persoalan spesifik yang disampaikan kepada kami melalui saluran yang sesuai," lanjutnya.
Baca Juga: Selat Hormuz Tetap Ditutup Iran hingga AS Penuhi Syarat Kesepakatan
Transfer Dana ke UEA Makin Diperiksa
Tiga bankir mengatakan peningkatan pengawasan membuat transfer dana ke UEA harus melewati lebih banyak pihak dan mendapatkan pemeriksaan lebih ketat dari departemen kepatuhan bank.
Sejumlah transaksi bahkan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk diproses. Sebagian lainnya tidak pernah sampai ke penerima, menurut para bankir tersebut.
Tiga pelaku bisnis mengatakan perusahaan mereka kini menggunakan negara ketiga sebagai jalur pembayaran untuk mengatasi persoalan tersebut.
Kepala sebuah perusahaan konsultan berbasis Dubai juga mengatakan sejumlah klien dari Arab Saudi mengalami kesulitan melakukan pembayaran kepada perusahaannya. Bahkan, beberapa klien menyarankan perusahaan tersebut membuka kegiatan operasional di lokasi lain.
Dua perusahaan lain yang berbasis di UEA mengalami kondisi serupa. Menurut seorang investor yang memiliki saham di kedua perusahaan tersebut, para klien mereka mengatakan otoritas Arab Saudi meminta mereka untuk tidak melakukan bisnis dengan perusahaan-perusahaan yang berada di UEA.
Perusahaan-perusahaan tersebut telah menunggu pembayaran dari Arab Saudi selama berminggu-minggu. Dalam sejumlah kasus, nilai transaksi bahkan kurang dari 1 juta dirham atau sekitar US$272.257, yang sebelumnya dapat diproses hanya dalam beberapa hari.
Hubungan Arab Saudi dan UEA Makin Kompleks
Arab Saudi dan UEA merupakan mitra dagang penting. Namun, kepentingan kedua negara dalam beberapa tahun terakhir semakin berbeda, mulai dari kuota produksi minyak dan pengaruh geopolitik hingga persaingan menarik tenaga kerja serta modal asing.
Ketegangan kedua negara mencuat pada akhir tahun lalu terkait dukungan mereka terhadap pihak yang berseberangan dalam perang di Yaman. Arab Saudi menuduh UEA mengancam keamanannya dengan mendukung kelompok separatis yang melakukan pergerakan menuju perbatasan Saudi.
Perbedaan pandangan juga muncul terkait respons terhadap perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Meski demikian, Riyadh dan Abu Dhabi tetap berupaya menunjukkan sikap bersama dalam menghadapi serangan Iran terhadap negara-negara Teluk.
Analis menilai keretakan ekonomi secara menyeluruh antara kedua negara masih kecil kemungkinannya karena hubungan perdagangan, investasi, dan logistik yang telah terjalin sangat dalam.
Arab Saudi merupakan mitra dagang terbesar UEA di dunia Arab. Sementara itu, berdasarkan data Observatory of Economic Complexity, UEA pada 2024 menjadi tujuan ekspor terbesar kelima Arab Saudi secara keseluruhan dan sumber impor terbesar keempat bagi kerajaan tersebut.
Justin Alexander, direktur Khalij Economics, konsultan yang berfokus pada kawasan Teluk, mengatakan perang Iran justru "memperkuat alasan untuk bekerja sama" dalam mengamankan kepentingan-kepentingan penting, termasuk membuka kembali Selat Hormuz.
Pada bulan lalu, pejabat tinggi media dari kedua negara juga mengunggah pernyataan yang diselaraskan di media sosial untuk menegaskan hubungan persaudaraan kedua negara.
Baca Juga: Pasar Global Bergejolak, Ketegangan Timur Tengah Tekan Obligasi dan Saham
Persaingan Ekonomi Arab Saudi dan UEA
Di balik hubungan ekonomi yang erat, persaingan antara Arab Saudi dan UEA telah berkembang selama bertahun-tahun. Kedua negara tengah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap pendapatan minyak dan gas serta membangun diri sebagai pusat keuangan dan bisnis kelas dunia.
Dubai masih menjadi pusat bisnis utama di kawasan Teluk. Namun, Arab Saudi terus mendorong perusahaan multinasional untuk memindahkan kantor pusat regional mereka ke Riyadh.
Bahkan, pemerintah Arab Saudi menjadikan keberadaan kantor pusat regional sebagai salah satu persyaratan untuk mendapatkan kontrak pemerintah dalam skala besar.
Para pelaku bisnis yang berbicara kepada Reuters mengatakan kesulitan transfer lintas negara mulai terjadi beberapa pekan setelah UEA mengumumkan pada 28 April 2026 bahwa negara tersebut akan keluar dari OPEC, organisasi negara-negara penghasil minyak yang secara efektif dipimpin Arab Saudi.
Perkembangan tersebut menambah dimensi baru dalam persaingan ekonomi kedua negara, di tengah upaya masing-masing negara memperkuat posisi sebagai pusat bisnis, investasi, dan keuangan di kawasan.
Meski demikian, ketergantungan kedua negara terhadap hubungan perdagangan dan investasi membuat pemutusan hubungan ekonomi secara penuh dinilai tidak menguntungkan bagi Arab Saudi maupun UEA.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
