Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis (18/6/2026) setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menandatangani kesepakatan sementara yang bertujuan mengakhiri konflik di kawasan Timur Tengah, membuka kembali Selat Hormuz, serta mencabut sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 89 sen atau 1,12% menjadi US$ 78,66 per barel pada pukul 00.05 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 98 sen atau 1,28% ke level US$ 75,81 per barel.
Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Tembus Level 71.000 untuk Pertama Kalinya Kamis (18/6)
Pelemahan ini melanjutkan tren penurunan harga minyak setelah pasar semakin optimistis terhadap pemulihan pasokan energi global pasca tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran.
Sebelumnya, harga minyak sempat menguat pada Rabu (17/6) setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran dapat kembali dilakukan apabila Teheran tidak mematuhi isi kesepakatan.
Analis pasar dari IG Tony Sycamore menilai, pasar energi kini mulai memperhitungkan kemungkinan kembalinya pasokan minyak Iran ke pasar global lebih cepat dari perkiraan.
"Tekanan jual berlanjut karena pasar energi secara agresif mulai mengantisipasi pemulihan pasokan minyak Iran setelah tercapainya memorandum kesepahaman antara AS dan Iran," ujar Sycamore.
Baca Juga: Taiwan Kritik Tawaran China Terkait Siaran Piala Dunia, Sebut Tak Relevan
Kesepakatan yang terdiri dari 14 poin tersebut membuka periode negosiasi selama 60 hari. Dalam masa tersebut, Iran akan mengizinkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz tanpa pungutan biaya.
Kesepakatan itu juga menargetkan pemulihan penuh arus pelayaran di Selat Hormuz dalam waktu 30 hari. Jalur ini merupakan salah satu koridor energi paling penting di dunia karena menjadi rute utama pengiriman minyak dan gas global.
Meski demikian, sejumlah isu strategis masih ditunda pembahasannya, termasuk program nuklir Iran. Selain itu, AS dan mitranya juga diwajibkan menyusun paket pendanaan senilai US$ 300 miliar untuk mendukung pemulihan ekonomi Iran.
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa jika kesepakatan berjalan sesuai rencana dan Selat Hormuz kembali beroperasi normal, krisis pasokan minyak yang terjadi tahun ini berpotensi berubah menjadi kelebihan pasokan (oversupply) pada 2027.
Dalam laporan pasar bulanannya, IEA memperkirakan pasokan minyak global dapat melampaui permintaan hingga 5,05 juta barel per hari pada tahun depan seiring kembalinya produksi minyak Timur Tengah ke pasar internasional.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Aturan FIFA soal Diaspora Ubah Peta Persaingan Tim Nasional
Di sisi lain, pasar juga mencermati arah kebijakan moneter AS. Bank sentral AS atau Federal Reserve mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun untuk menekan inflasi.
Proyeksi terbaru menunjukkan sembilan dari 19 pejabat The Fed kini memperkirakan kenaikan suku bunga masih diperlukan.
Angka tersebut meningkat dibandingkan tiga bulan lalu ketika tidak ada satu pun pejabat yang memprediksi kenaikan suku bunga.
Prospek suku bunga yang lebih tinggi berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi, sehingga turut menjadi faktor yang membebani pergerakan harga minyak dunia.













