kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.956.000   -17.000   -0,57%
  • USD/IDR 16.835   43,00   0,26%
  • IDX 8.166   19,74   0,24%
  • KOMPAS100 1.150   4,04   0,35%
  • LQ45 837   4,65   0,56%
  • ISSI 287   -0,02   -0,01%
  • IDX30 437   3,68   0,85%
  • IDXHIDIV20 525   5,44   1,05%
  • IDX80 129   0,71   0,56%
  • IDXV30 143   1,25   0,88%
  • IDXQ30 141   1,26   0,90%

Harga Minyak Dunia Turun 1% Kamis (5/2) Pagi: Brent ke US$68,47 & WTI ke US$64,23


Kamis, 05 Februari 2026 / 09:14 WIB
Harga Minyak Dunia Turun 1% Kamis (5/2) Pagi: Brent ke US$68,47 & WTI ke US$64,23
ILUSTRASI. Harga Minyak - Iran (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melemah pada Kamis (5/2/2026) setelah Amerika Serikat dan Iran sepakat menggelar perundingan di Oman pada Jumat.

Kesepakatan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik militer yang dapat mengganggu pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$1 atau 1,4% menjadi US$68,47 per barel pada pukul 01.52 GMT.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 91 sen atau 1,4% ke level US$64,23 per barel.

Baca Juga: Aksi Jual Saham Software Kian Dalam, Ancaman AI Hapus Hampir US$1 Triliun Nilai Pasar

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak sekitar 3% pada Rabu setelah laporan media menyebutkan rencana perundingan AS–Iran berisiko gagal.

Namun, sentimen pasar berbalik setelah pejabat dari kedua negara mengonfirmasi bahwa pembicaraan tetap akan berlangsung, meski agenda negosiasi belum sepenuhnya disepakati.

Analis pasar IG Tony Sycamore mengatakan, volatilitas harga minyak mencerminkan ketidakpastian seputar perundingan tersebut.

Lonjakan harga terjadi akibat kekhawatiran pembicaraan akan batal, sementara koreksi muncul setelah muncul laporan bahwa negosiasi nuklir kembali berjalan.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik Lebih dari 1% Kamis (5/2) Pagi, Ditopang Ketegangan Geopolitik

Iran menyatakan terbuka untuk membahas program nuklirnya, termasuk isu pengayaan uranium, dengan negara-negara Barat.

Di sisi lain, Amerika Serikat ingin agar perundingan juga mencakup program rudal balistik Iran, dukungannya terhadap kelompok bersenjata di Timur Tengah, serta isu hak asasi manusia di dalam negeri Iran.

Meski demikian, pasar masih mencermati risiko lanjutan. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam akan melakukan serangan terhadap Iran, yang merupakan produsen minyak terbesar keempat di dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Jika konflik terjadi, pasokan minyak dari kawasan tersebut berpotensi terganggu dan memicu lonjakan harga.

Selain risiko terhadap produksi Iran, pasar juga khawatir konflik dapat mengganggu ekspor minyak dari negara-negara Teluk lainnya.

Baca Juga: Skandal Epstein: Dokumen Baru Ungkap Sisi Gelap Bill Gates?

Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur strategis yang terletak di antara Oman dan Iran. Negara-negara OPEC seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak menyalurkan sebagian besar ekspor minyaknya melalui selat tersebut.

Meski perundingan AS–Iran menekan premi risiko geopolitik dalam harga minyak, pasar sempat mendapat dukungan dari data persediaan minyak Amerika Serikat.

Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa stok minyak mentah dan distilat AS turun pada pekan yang berakhir 30 Januari, sementara persediaan bensin meningkat.

Penurunan stok tersebut terjadi di tengah badai musim dingin yang melanda sebagian besar wilayah Amerika Serikat, negara produsen dan konsumen minyak terbesar di dunia.

Selanjutnya: IHSG Potensi Menguat Terbatas, Cek Rekomendasi Saham BRI Sekuritas Kamis (5/2)

Menarik Dibaca: IHSG Potensi Menguat Terbatas, Cek Rekomendasi Saham BRI Sekuritas Kamis (5/2)




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×