Sumber: IRNA,Reuters | Editor: Syamsul Azhar
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat akhirnya menunjukkan titik terang. Dalam putaran ketiga negosiasi tidak langsung yang digelar di Geneva, kedua delegasi dikabarkan membuat kemajuan signifikan yang menggembirakan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi seperti dikutip kantor berita IRNA menyebut, pertemuan kali ini sebagai yang paling serius dan paling panjang dibandingkan sebelumnya. Menurutnya, tingkat keseriusan kedua pihak jauh lebih terlihat dibandingkan putaran-putaran terdahulu.
Baca Juga: Masa Depan Nuklir Iran: Sanksi Dicabut atau Konflik Meledak?
Araghchi menjelaskan bahwa pembahasan sudah masuk ke elemen substansial kesepakatan, baik soal isu nuklir maupun pencabutan sanksi. Ia mengakui sudah ada titik temu di beberapa area, meski perbedaan masih tersisa di sejumlah isu penting.
Tim teknis dari kedua negara dijadwalkan mulai berdiskusi awal pekan depan di Vienna Austria. Kehadiran Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency, Rafael Grossi, dinilai membantu pembahasan teknis terkait program nuklir Iran.
Mediator utama dalam perundingan ini adalah Oman. Menteri Luar Negeri Oman, Badr bin Hamad Al Busaidi, menyebut terjadi “kemajuan signifikan” dan mengonfirmasi negosiasi teknis lanjutan akan digelar pekan depan.
Sanksi vs Pengayaan Uranium
Isu utama tetap berkisar pada dua hal: pencabutan sanksi dan program nuklir.
Iran menegaskan ekspektasinya sangat jelas: pencabutan sanksi ekonomi dari Amerika Serikat dan Barat. Selama bertahun-tahun, sanksi AS telah menekan ekonomi Iran secara ekstrem.
Di sisi lain, Washington menuntut Iran menghentikan seluruh pengayaan uranium. Bagi AS, pengayaan uranium berpotensi membuka jalan menuju pengembangan senjata nuklir sekaligus kekuatan baru di Timur Tengah.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Setelah Lonjakan Persediaan AS, Pasar Tunggu Hasil Nuklir Iran
Iran membantah ingin membangun bom nuklir dan menyatakan bersedia menunjukkan fleksibilitas atas tuntutan Amerika ini. Bahkan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah melarang senjata pemusnah massal melalui fatwa sejak awal 2000-an.
Namun, pemerintahan Presiden Donald Trump tetap tidak percaya dan memasukkan isu program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok bersenjata regional sebagai bagian dari negosiasi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan menyebut penolakan Iran membahas rudal sebagai masalah besar.
Ancaman Serangan Militer
Negosiasi ini berlangsung di tengah ketegangan militer yang nyata. AS telah meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah, termasuk pengerahan jet tempur dan kapal induk yang disebut mengerahkan lebih dari 50% kekuatan militer AS di luar negeri.
Trump sebelumnya memberi tenggat 10–15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan, dengan peringatan akan terjadi hal-hal sangat buruk jika perundingan gagal.
Tahun lalu, AS bersama Israel pernah menyerang fasilitas nuklir Iran. Teheran membalas dengan rentetan rudal ke Israel. Ketegangan ini memicu kekhawatiran konflik regional yang lebih luas, terutama bagi negara-negara produsen minyak di Teluk.
Di dalam negeri, tekanan terhadap pemerintah Iran juga meningkat. Ekonomi terpukul sanksi, protes domestik kembali mencuat, dan stabilitas politik berada dalam ujian berat.
Baca Juga: Iran Siap Fleksibel dalam Negosiasi Nuklir di Tengah Tekanan Militer AS
Setiap kemajuan menuju kesepakatan akan menurunkan risiko perang terbuka di Timur Tengah — kawasan yang menjadi jantung pasokan energi global.
Jika negosiasi gagal, bukan hanya Iran dan AS yang terdampak. Harga minyak global bisa melonjak, pasar keuangan bergejolak, dan stabilitas geopolitik kawasan terancam.
Sebaliknya, jika tercapai kerangka kesepakatan, peluang serangan militer bisa mereda dan ruang diplomasi kembali terbuka.
Putaran berikutnya dijadwalkan dalam waktu kurang dari sepekan setelah konsultasi di ibu kota masing-masing negara. Semua mata kini tertuju pada Vienna.
Putaran ketiga perundingan nuklir AS dan Iran di Jenewa menunjukkan bahwa kedua pihak mulai menyentuh inti persoalan: program nuklir dan pencabutan sanksi. Sudah ada kemajuan, tapi belum ada terobosan final.
Diplomasi masih berjalan. Dan untuk saat ini, itu kabar baik bagi stabilitas kawasan dan dunia.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)