Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JENEWA. Amerika Serikat (AS) dan Iran mencatat kemajuan signifikan dalam pembicaraan terkait sengketa nuklir yang telah berlangsung lama.
Mediator Oman menyebut kedua pihak sepakat melanjutkan negosiasi dalam waktu dekat, di tengah meningkatnya ketegangan militer AS di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi mengatakan pembicaraan tidak langsung yang berlangsung di Swiss menunjukkan perkembangan positif.
Ia menyebut diskusi lanjutan, termasuk pertemuan teknis, akan digelar kurang dari sepekan ke depan di Wina setelah masing-masing pihak berkonsultasi dengan pemerintahnya.
Baca Juga: Negosiasi Nuklir Iran–AS : Ada Kemajuan Signifikan di Jenewa, Ancaman Perang Mereda?
“Kami menyelesaikan hari ini dengan kemajuan signifikan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran,” kata Albusaidi.
Pembicaraan ini dinilai krusial karena berpotensi meredakan ancaman eskalasi konflik, menyusul peringatan keras dari Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengancam akan mengambil tindakan jika tidak tercapai kesepakatan.
Washington belakangan juga memperkuat kehadiran militernya di kawasan, memicu kekhawatiran konflik regional yang lebih luas.
Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menyebut perundingan kali ini sebagai salah satu yang paling serius dengan AS.
Ia mengakui sudah ada sejumlah titik temu, meski perbedaan pandangan masih tersisa, terutama soal pencabutan sanksi dan ruang lingkup isu yang dinegosiasikan.
Iran menegaskan tuntutan utama mereka tetap pada pencabutan sanksi AS. Teheran juga mengisyaratkan kesiapan memberi konsesi tertentu, termasuk fleksibilitas dalam pembahasan teknis, selama hak pengayaan uranium tetap diakui.
Baca Juga: Iran Siap Fleksibel dalam Negosiasi Nuklir di Tengah Tekanan Militer AS
Sementara itu, AS menilai penghentian total pengayaan uranium sebagai kunci, dengan alasan kekhawatiran Iran dapat mengembangkan senjata nuklir.
Iran berulang kali membantah tudingan tersebut. Presiden Iran Masoud Pezeshkian kembali menegaskan bahwa Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei telah melarang senjata pemusnah massal melalui dekrit keagamaan, yang menurutnya menjadi bukti Iran tidak berniat mengembangkan senjata nuklir.
Ketegangan tetap membayangi proses diplomasi ini. Pemerintahan Trump bersikeras agar program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok bersenjata regional juga dibahas.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut isu rudal sebagai masalah besar” yang harus diselesaikan.
Ancaman konflik semakin nyata setelah Trump memberi tenggat singkat bagi Iran untuk mencapai kesepakatan, seraya memperingatkan konsekuensi serius jika gagal.
Baca Juga: Mengejutkan! Iran Bersedia Kompromi soal Kesepakatan Nuklir Jika Sanksi Dicabut
AS juga telah mengerahkan jet tempur dan kelompok kapal induk ke kawasan, sementara Iran menegaskan akan membalas keras jika kembali diserang.
Di dalam negeri, Iran menghadapi tekanan berat akibat ekonomi yang terpuruk oleh sanksi serta gelombang protes yang kembali meningkat. Kondisi ini menambah urgensi bagi Teheran untuk mendorong hasil konkret dari jalur diplomasi.
Dengan putaran lanjutan yang segera digelar, perhatian kini tertuju pada apakah momentum positif ini cukup kuat untuk menjembatani perbedaan mendasar kedua pihak dan mencegah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Selanjutnya: Negosiasi Nuklir Iran–AS : Ada Kemajuan Signifikan di Jenewa, Ancaman Perang Mereda?
Menarik Dibaca: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Cilegon Hari Ini Jumat 27 Februari 2026
- Amerika Serikat
- Negosiasi
- Nuklir
- Sanksi
- Iran
- Pengayaan uranium
- rudal balistik iran
- senjata nuklir iran
- resolusi konflik
- konflik timur tengah
- Sanksi Iran
- program nuklir Iran
- Kebijakan Luar Negeri AS
- Kebijakan Luar Negeri Iran
- Ketegangan AS Iran
- Negosiasi nuklir AS Iran
- Diplomasi Oman
- Perundingan Jenewa













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)