Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JENEWA. Amerika Serikat sedang berupaya membentuk mekanisme dekonflik antara Israel, Turki, dan Suriah, setelah Israel menyerang pangkalan udara Suriah di dekat perbatasan Turki.
Mengutip Reuters, Rabu (19/8/2026), utusan khusus AS untuk Suriah, Tom Barrack yang juga menjabat sebagai Duta Besar AS untuk Turki, mengatakan bahwa Turki tidak diberi peringatan mengenai serangan Israel tersebut, "sehingga mereka melihat pesawat-pesawat itu bergerak ke utara menuju wilayah mereka dan karenanya bisa saja bersiap untuk memberikan tanggapan," merujuk pada kemungkinan reaksi militer Turki.
"Untungnya, sikap tenang berhasil mencegah situasi memburuk lebih jauh," kata Barrack kepada Reuters dalam sebuah wawancara telepon.
Turki mengecam serangan Israel terhadap pangkalan udara Abu al-Dahur di Suriah barat laut namun tidak memberikan komentar lebih lanjut, termasuk mengenai potensi mekanisme dekonflik.
Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi AS, Jepang dan Eropa Tembus Level Tertinggi
Mekanisme dekonflik adalah saluran komunikasi yang bertujuan mencegah kesalahpahaman atau konfrontasi yang tidak disengaja antara aktor militer atau politik.
Ketegangan telah meningkat antara Israel dan Turki—yang keduanya berbatasan dengan Suriah—dan retorika mereka terkait Suriah pun semakin tajam.
Turki, yang memiliki angkatan bersenjata terbesar kedua di NATO dan bulan ini menandatangani pakta pertahanan bersama dengan Pakistan dan Arab Saudi, telah menjadi salah satu sekutu utama Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa.
Ankara telah melatih tentara Suriah, membantu membangun kembali institusi negara dan infrastruktur, serta memberikan dukungan militer dan diplomatik.
Serangan Israel terhadap pangkalan udara Suriah tersebut "mencerminkan persepsi—baik yang akurat maupun keliru—bahwa Türkiye mungkin akan meningkatkan kehadirannya di pangkalan tersebut dalam waktu dekat," kata Barrack, menggunakan nama Turki dalam bahasa setempat (Türkiye).
"Hal ini menggarisbawahi perlunya mekanisme dekonflik yang melibatkan Israel, Suriah, dan Turki. 'Itu adalah sesuatu yang sedang kami upayakan secara aktif untuk dibentuk guna mencegah miskomunikasi di masa depan,' ujarnya.
Baca Juga: Bantah Klaim Iran, Trump: Selat Hormuz Terbuka
'Prioritas saat ini adalah meredakan ketegangan dan memberikan ruang bagi pendekatan yang lebih terukur.'"
Pangkalan udara tersebut, yang terletak sekitar 70 km (43,5 mil) di sebelah timur perbatasan Turki, tidak lagi beroperasi sebagai lapangan terbang militer khusus sejak 2013 dan telah berpindah tangan beberapa kali selama perang saudara Suriah yang berlangsung selama 14 tahun antara pasukan yang setia kepada mantan Presiden Bashar al-Assad dan faksi-faksi oposisi.
Stasiun televisi pemerintah Suriah, Ekhbariya, mengutip sumber militer, melaporkan pada hari Selasa bahwa Israel melancarkan delapan serangan udara yang menyasar landasan pacu dan fasilitas penyimpanan di pangkalan tersebut. Sumber militer lain dan seorang warga sipil yang tinggal di dekat pangkalan itu menyatakan tidak ada korban jiwa.
Militer Israel menolak berkomentar mengenai serangan-serangan tersebut.
Selama bertahun-tahun, Israel telah menyerang berbagai target di Suriah untuk membendung apa yang mereka sebut sebagai pengaruh Iran dan mencegah masuknya senjata ke kelompok Hizbullah di Lebanon.
Sejak tergulingnya Assad pada tahun 2024, Israel juga memandang penguasa baru Suriah dengan penuh kecurigaan dan terus melanjutkan operasi militer di negara tersebut; serangan terbaru terjadi pada bulan Maret yang menyasar lokasi-lokasi pemerintah di wilayah selatan dan tengah Suriah.
Sarana Komunikasi Kinetik
Suriah dan Israel telah mengadakan beberapa putaran diskusi mengenai de-eskalasi dan masalah perbatasan sejak pasukan pemberontak di bawah komando Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa menggulingkan Assad, namun belum ada kesepakatan yang dicapai.
"Insiden seperti yang terjadi pagi ini menunjukkan perlunya meningkatkan upaya-upaya tersebut dan memperluas prosesnya," kata Barrack.
Utusan tersebut mengatakan bahwa AS telah memfasilitasi mekanisme dialog dan pertukaran informasi di antara pihak-pihak terkait.
"Yang dibutuhkan adalah arsitektur yang lebih kokoh dengan dukungan sumber daya yang lebih besar. Berinvestasi dalam mekanisme semacam itu jauh lebih hemat biaya dibandingkan mengandalkan sarana komunikasi kinetik yang bisa menelan biaya hingga ratusan juta dolar," ujarnya, merujuk pada penggunaan kekuatan militer.












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
