Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Mayoritas pasar saham negara berkembang Asia melemah pada Rabu (19/8/2026), tertekan kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi global yang membuat investor mengurangi aset berisiko. Bursa Korea Selatan menjadi yang paling terpukul.
Melansir Reuters, Indeks saham MSCI Emerging Asia turun 2,1%, mengikuti pelemahan Wall Street pada perdagangan sebelumnya.
Baca Juga: Harga Emas Tetap Stabil, Pasar Fokus pada Risalah Rapat The Fed
Sentimen pasar juga terbebani kenaikan yield US Treasury 30 tahun yang sempat mencapai level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Kenaikan yield global biasanya menekan aset negara berkembang karena obligasi negara maju menjadi lebih menarik bagi investor.
Sementara itu, harga minyak mentah di atas US$90 per barel meningkatkan risiko inflasi dan biaya impor bagi negara-negara Asia yang bergantung pada energi impor.
"Minyak di atas US$90 dan kenaikan yield negara maju menciptakan tekanan ganda bagi negara berkembang yang mengimpor minyak. Tagihan impor yang lebih tinggi melemahkan mata uang dan meningkatkan inflasi, sementara yield global yang lebih tinggi meningkatkan biaya pendanaan dan menarik modal ke pasar negara maju," ujar Glenn Yin, Director of Research ACCM.
Menurut dia, kondisi tersebut menekan valuasi dan margin perusahaan, terutama di negara pengimpor energi, kecuali pertumbuhan ekonomi dan kinerja laba tetap kuat.
Baca Juga: YouTube Ubah Cara Hitung View Mulai 24 Agustus 2026, Angka Bisa Melonjak
Bursa Korea Selatan Jadi yang Tertekan
Korea Selatan menjadi pasar yang mengalami tekanan paling besar. Indeks KOSPI merosot 5,7% ke level terendah dalam sepekan.
Saham perusahaan semikonduktor turut menjadi pemberat utama. Samsung Electronics turun hingga 8%, sementara SK Hynix merosot sebanyak 9,7%.
Di Taiwan, indeks saham utama turun 1,3%, dengan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) melemah hingga 1,9%.
Pelemahan juga terjadi di sejumlah pasar Asia lainnya. Saham Filipina turun 1,8% ke level terendah dalam sekitar satu setengah bulan. Bursa Singapura melemah 0,4%, sedangkan Thailand turun 0,4%.
Di pasar valuta asing, indeks mata uang negara berkembang MSCI naik tipis 0,2%. Won Korea Selatan menguat 0,9% dan berpotensi mencatat kenaikan selama tiga sesi berturut-turut.
Dolar Taiwan naik 0,2% dan dolar Singapura menguat 0,1%. Sebaliknya, peso Filipina melemah hingga 0,3% ke rekor terendah 61,952 per dolar AS, sedangkan ringgit Malaysia turun 0,1%.
Baca Juga: Menlu Korsel: Trump Tampaknya Menekan Seoul Terkait Iran dan Investasi
Indonesia Jadi Perhatian Investor
Indonesia menjadi salah satu pasar yang turut menjadi perhatian investor. Pelaku pasar menantikan keputusan Bank Indonesia (BI) terkait suku bunga pada Rabu (19/8).
BI diperkirakan mempertahankan BI-Rate di level 5,75%, meskipun rupiah sebelumnya berada di bawah tekanan sehingga bank sentral melakukan rapat mendadak dan intervensi pasar.
Ekspektasi kenaikan suku bunga sempat muncul setelah rupiah mendekati level terendah sepanjang sejarah menyusul pengunduran diri mantan Gubernur BI Perry Warjiyo. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi arus keluar modal.
Tekanan terhadap aset Indonesia juga berasal dari risiko penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi frontier market setelah MSCI menyoroti persoalan akses dan transparansi pasar.
Baca Juga: Sentimen Industri Thailand Naik Dua Bulan Beruntun, Ditopang Penjualan Mobil Listrik
Di pasar saham, indeks Indonesia (IHSG) tercatat turun sekitar 25,8% sepanjang tahun berjalan, sementara rupiah pada perdagangan Rabu menguat tipis 0,1%.
Kombinasi harga minyak yang tinggi, kenaikan yield global dan ketidakpastian kebijakan moneter AS berpotensi membuat investor semakin selektif terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia.












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
