Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia dibuka melemah pada perdagangan Jumat (17/7/2026) seiring aksi jual saham-saham semikonduktor yang masih membebani pasar global.
Di sisi lain, harga minyak bersiap mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam tiga bulan akibat kembali memanasnya konflik di Timur Tengah.
Investor pekan ini mengalihkan investasinya dari saham-saham semikonduktor ke sektor lain, seperti perbankan, setelah sejumlah bank besar membukukan kinerja keuangan yang solid.
Baca Juga: Ekspor Nonmigas Singapura Naik 20,7% pada Juni, Meleset dari Perkiraan Pasar
Pergeseran tersebut membuat pasar Asia lebih rentan terhadap tekanan jual karena memiliki eksposur besar terhadap saham chip.
Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun tipis 0,06% pada awal perdagangan. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang merosot 2,8%.
Kontrak berjangka Nasdaq turun 0,7%, kontrak berjangka S&P 500 melemah 0,4%, sedangkan kontrak berjangka Euro STOXX 50 terkoreksi 0,5%.
Perdagangan di Korea Selatan ditutup karena hari libur nasional. Sehari sebelumnya, pemerintah negara tersebut mengumumkan penghentian sementara pencatatan reksa dana berbasis bursa (exchange traded fund/ETF) baru yang terkait dengan sejumlah perusahaan teknologi besar.
Pemerintah juga menaikkan persyaratan dana minimum bagi investor ritel yang ingin berinvestasi pada produk tersebut guna meredam volatilitas pasar.
Baca Juga: IEA Peringatkan Krisis Keamanan Energi Global Jika Selat Hormuz Tak Segera Dibuka
Analis HSBC menilai tema investasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Asia kembali menghadapi ujian.
"Setelah reli yang kuat sepanjang tahun ini yang dipimpin oleh saham semikonduktor, kembali muncul kekhawatiran mengenai potensi kelebihan kapasitas dalam pembangunan ekosistem AI," tulis HSBC dalam risetnya.
Meski demikian, HSBC menilai fundamental industri AI masih tetap kuat, meskipun sulit menentukan apakah siklus pertumbuhannya sudah mendekati puncak.
Di pasar komoditas, harga minyak terus menguat. Minyak mentah Brent naik 0,7% ke US$ 84,83 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 0,7% menjadi US$ 79,49 per barel.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Kamis menyatakan bahwa militer AS melancarkan gelombang baru serangan terhadap Iran guna semakin melemahkan kemampuan militer negara tersebut.
Baca Juga: Bursa Jepang Terpuruk, Nikkei Jatuh 3,6% karena Saham Chip dan Risiko Geopolitik
Sepanjang pekan ini, harga Brent dan WTI diperkirakan melonjak lebih dari 11%, menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak April.
Strategis valas dan suku bunga global Macquarie, Thierry Wizman, mengatakan Amerika Serikat dan Iran kini semakin jauh dari titik temu.
"Hari-hari ke depan akan menentukan pihak mana yang telah mengambil langkah terlalu jauh, tetapi risikonya adalah sebagian infrastruktur minyak dapat hancur dalam proses tersebut," ujarnya.
Selain konflik geopolitik, ketegangan perdagangan juga kembali menjadi perhatian setelah Amerika Serikat mengenakan tarif impor baru sebesar 25% terhadap produk asal Brasil.
Dolar stabil, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menurun
Di pasar valuta asing, dolar AS bergerak stabil dan diperkirakan menutup pekan dengan perubahan yang relatif kecil.
Meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) tahun ini diimbangi oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven.
Baca Juga: Rekor Gila Argentina di Semifinal Piala Dunia Berlanjut usai Singkirkan Inggris
Pelaku pasar kini memperkirakan total kenaikan suku bunga The Fed hingga Desember hanya sekitar 27 basis poin, setelah data inflasi konsumen (CPI) dan produsen (PPI) AS pekan ini menunjukkan tekanan harga yang lebih jinak.
Euro diperdagangkan di level US$ 1,1442, sedangkan pound sterling berada di US$ 1,3472.
Yen Jepang bertahan di dekat level terlemahnya dalam 40 tahun, yakni 162,38 per dolar AS. Kondisi tersebut mendorong Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama kembali mengeluarkan pernyataan untuk mendukung mata uang domestik.
Pasar juga mencermati potensi perubahan alokasi investasi oleh Government Pension Investment Fund (GPIF) Jepang dan dana pensiun lainnya setelah pemerintah menyatakan ingin meningkatkan secara signifikan investasi dana pensiun negara ke aset domestik.
Baca Juga: Murid Tantang Guru: Kisah Scaloni vs De la Fuente di Final Piala Dunia 2026
Chief Investment Officer UBS Wealth Management Jepang, Daiju Aoki, menilai ekspektasi repatriasi dana oleh investor Jepang dapat menopang pasar saham domestik dan menekan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang dalam jangka pendek.
Namun, menurutnya, pergerakan pasar yang melampaui fundamental pertumbuhan ekonomi dan kinerja laba perusahaan tidak akan bertahan dalam jangka panjang.
Sementara itu, harga emas spot naik 0,4% menjadi US$ 3.985,64 per ons.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
