Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Saham di kawasan Asia terkoreksi pada perdagangan Kamis (23/4/2026), mundur dari level rekor tertinggi setelah reli kuat yang sebelumnya didorong sektor teknologi.
Aksi ambil untung oleh investor muncul seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah.
Sebelumnya, pasar sempat mengikuti penguatan Wall Street. Indeks acuan di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan bahkan sempat mencetak rekor baru.
Baca Juga: Bursa Asia Cetak Rekor Ikuti Wall Street Kamis (23/4), Ini Pemicunya
Namun, momentum itu tak bertahan lama. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang yang sempat menyentuh puncak 831,56 akhirnya berbalik turun 0,7%.
Indeks Nikkei Jepang yang sempat mencetak rekor selama dua hari berturut-turut kini terkoreksi lebih dari 1%.
Hal serupa terjadi di Taiwan dan Korea Selatan yang juga berbalik melemah setelah mencatatkan level tertinggi baru. Di sisi lain, saham unggulan China turun 0,3% dan indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,9%.
Tekanan di pasar saham Asia tak lepas dari kenaikan harga minyak global. Harga minyak mentah Brent kembali naik 1,3% ke level US$103,18 per barel, melanjutkan penguatan selama empat hari berturut-turut setelah sebelumnya melonjak 3,5% dan kembali menembus US$100.
Lonjakan harga energi dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Iran dilaporkan menyita dua kapal kontainer yang melintas di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia.
Baca Juga: Bursa Asia Waspada Senin (16/3), Harga Minyak Bergolak karena Ketegangan Hormuz
Situasi ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap keberlangsungan gencatan senjata yang masih rapuh di kawasan tersebut.
Kepala strategi pasar ATFX Global, Nick Twidale, mengatakan reli yang terjadi sebelumnya kini mendapat “uji realitas” dari perkembangan geopolitik. Menurutnya, pasar mulai mempertimbangkan kembali risiko yang selama ini cenderung diabaikan.
Di tengah tekanan di Asia, Wall Street justru mencatat rekor baru pada penutupan sebelumnya. Indeks S&P 500 naik 1% dan Nasdaq melonjak 1,6%, ditopang laporan kinerja emiten yang solid dan meredakan kekhawatiran terhadap daya beli konsumen Amerika Serikat meski harga energi meningkat.
Namun, kontrak berjangka saham AS di sesi Asia mulai melemah. Kontrak Nasdaq turun 0,5% dan S&P 500 terkoreksi 0,7%. Sementara itu, bursa Eropa juga diperkirakan dibuka lebih rendah dengan kontrak berjangka turun 1,1%.
Dari sisi korporasi, saham GE Vernova melonjak 13,75% setelah menaikkan proyeksi pendapatan tahunan berkat dorongan permintaan terkait kecerdasan buatan (AI).
Sebaliknya, saham Boeing turun lebih dari 5% meskipun melaporkan kerugian kuartalan yang lebih kecil dari perkiraan.
Baca Juga: Bursa Asia Rontok Senin (30/3) Pagi, Harga Minyak Brent Menuju Rekor Kenaikan Bulanan
Tesla mencatat arus kas bebas positif pada kuartal pertama, namun rencana belanja besar untuk pengembangan AI dan robotika memicu kekhawatiran investor. Sahamnya turun sekitar 2% setelah penutupan perdagangan.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS naik tipis. Yield obligasi dua tahun naik ke 3,81%, sementara tenor 10 tahun meningkat ke 4,31%.
Pergerakan mata uang relatif stabil, dengan dolar AS mempertahankan penguatan moderat. Euro bertahan di kisaran US$1,17, sedikit di atas level terendah 10 hari.
Ahli strategi investasi global Nuveen, Laura Cooper, menilai pasar selama ini cenderung mengabaikan risiko yang ada. Namun, ia mengingatkan bahwa akumulasi berbagai ketidakpastian, terutama dari sisi geopolitik, berpotensi menjadi faktor dominan yang sulit diabaikan ke depan.













