Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia kembali menguat pada Rabu (11/2/2026), dengan Korea Selatan dan Taiwan memimpin kenaikan pasar negara berkembang.
Sementara itu, pasar Thailand melanjutkan reli seiring optimisme investor terhadap stabilitas politik dan langkah ekonomi baru setelah pemilu akhir pekan lalu.
Melansir Reuters, Indeks MSCI untuk saham Asia emerging markets naik 1% ke level tertinggi sepanjang masa.
Baca Juga: Iran Tutup Usaha Swasta Usai Protes, Tekanan Ekonomi dan Ketidakstabilan Meningkat
Penguatan didorong lonjakan 1% indeks KOSPI Korea Selatan dan kenaikan 1,6% indeks acuan Taiwan.
Dua pasar berbasis teknologi tersebut menyumbang sekitar 40% dari bobot indeks MSCI.
Di Seoul, indeks saham bergerak mendekati rekor tertinggi. Sementara di Taipei, kenaikan 1,9% saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) mendorong indeks ke level tertinggi sepanjang sejarah.
Pasar Korea Selatan mencatat penguatan untuk hari ketiga berturut-turut, ditopang saham otomotif seperti Hyundai Motor dan Kia Corp yang masing-masing melonjak 5,9% dan 4,6%.
Pemerintah Korea Selatan menyatakan akan melakukan peninjauan awal terhadap proyek investasi AS guna mempercepat implementasi paket investasi senilai US$350 miliar yang dijanjikan dalam kesepakatan dagang.
Langkah ini menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif lebih tinggi terhadap mobil dan produk farmasi Korea Selatan.
Meski reli cukup luas, analis Bernstein mengingatkan valuasi pasar Seoul sudah tergolong tinggi dengan premi risiko yang relatif rendah.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Dipicu Ketegangan AS-Iran dan Peningkatan Permintaan India
Thailand Lanjutkan Reli
Di Asia Tenggara, indeks SET Thailand melanjutkan penguatan pasca pemilu dan naik ke 1.415,12, mendekati level tertinggi dalam 14 bulan.
Menteri Keuangan Thailand Ekniti Nitithanprapas mengatakan pemerintahan koalisi baru akan fokus pada langkah keringanan utang dan investasi guna mendorong aktivitas ekonomi, sembari tetap menjaga disiplin fiskal.
Kepala Riset TISCO Securities Tanawat Ruenbanterng menilai, sentimen positif dari hasil pemilu masih dapat menopang indeks dalam beberapa hari ke depan.
“SET berpotensi naik ke kisaran 1.450–1.500 dalam jangka pendek, namun setelah itu bisa terkoreksi jika harapan memudar akibat lambatnya implementasi kebijakan,” ujarnya.
Baca Juga: Harga Tembaga Menguat Rabu (11/2) Siang, Permintaan China Melambat Jelang Libur Imlek
Indonesia Menguat
Indeks saham Indonesia naik 1,3% dan berada di jalur penguatan untuk hari ketiga berturut-turut.
Pasar mulai pulih dari aksi jual besar senilai US$80 miliar pada akhir Januari setelah MSCI memperingatkan potensi penurunan status menjadi frontier market akibat isu transparansi saham.
Pada Selasa, FTSE Russell memutuskan menunda peninjauan indeks Indonesia, yang turut membantu memperbaiki sentimen.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Rabu (11/2), Dipicu Ketegangan AS–Iran dan Permintaan India
Dolar Melemah
Indeks dolar AS turun 0,3%, memperpanjang pelemahan menjadi empat hari beruntun setelah data penjualan ritel AS menunjukkan stagnasi tak terduga pada Desember.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan keluar hari ini.
Di kawasan Asia, dolar Singapura menguat menjelang pengumuman anggaran pada Kamis, yang diperkirakan akan tetap berhati-hati dan konservatif secara fiskal.













