Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - BEIJING. China kembali menaikkan anggaran pertahanannya tahun ini sebesar 7% menjadi 1,91 triliun yuan atau sekitar US$ 276,9 miliar. Kenaikan ini sedikit lebih rendah dibanding peningkatan 7,2% pada tahun lalu, namun tetap menunjukkan konsistensi Beijing memperkuat kekuatan militernya di tengah ketegangan geopolitik global.
Rancangan anggaran tersebut diumumkan pada Kamis (5/3) bersamaan dengan laporan kerja pemerintah yang disampaikan Perdana Menteri China Li Qiang dalam sidang pembukaan Kongres Rakyat Nasional (National People’s Congress/NPC).
Mengutip Reuters (5/2), meski persentase kenaikan kali ini menjadi yang terendah sejak 2021, tren belanja militer China tetap meningkat stabil. Dalam beberapa tahun terakhir, anggaran pertahanan negara itu tumbuh 7,1% pada 2022 dan 7,2% per tahun sepanjang 2023–2025.
Menariknya, sejak 2016 kenaikan anggaran militer China secara konsisten berada di atas target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahunan negara tersebut. Hal ini memperlihatkan bahwa modernisasi militer tetap menjadi prioritas strategis Beijing, bahkan ketika ekonomi menghadapi tekanan perlambatan.
Baca Juga: China Akan Menyuntikkan Dana US$ 44 Miliar ke Bank-Bank Milik Negara
Dalam pidatonya, Li menyebut tahun lalu China mencatat pencapaian baru dalam modernisasi pertahanan nasional dan angkatan bersenjata. Pemerintah juga menegaskan komitmen untuk meningkatkan kesiapan tempur dan kemampuan strategis guna menjaga kedaulatan serta kepentingan pembangunan negara.
China menargetkan modernisasi penuh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) pada 2035 dan membangun militer kelas dunia pada pertengahan abad ini. Target tersebut juga berkaitan dengan peringatan 100 tahun berdirinya PLA pada 2027.
Peningkatan anggaran ini datang di tengah rivalitas strategis yang kian intens antara China dan Amerika Serikat, ketegangan di Selat Taiwan, serta sengketa kawasan di Laut China Selatan.
Di saat yang sama, konflik yang semakin meluas di Timur Tengah juga menambah tekanan keamanan global dan berpotensi menguji kepentingan energi China, terutama terkait pasokan minyak dan hubungan dengan negara-negara Teluk.
Meski Tiongkok berulang kali menegaskan belanja militernya bersifat defensif dan masih jauh lebih kecil dibandingkan Amerika Serikat, para analis melihat tren kenaikan anggaran ini sebagai indikator penting arah modernisasi militer China dan pergeseran keseimbangan kekuatan global.
Langkah tersebut juga berjalan beriringan dengan kampanye antikorupsi besar-besaran di tubuh militer China yang telah menyeret sejumlah pejabat tinggi, sekaligus menjadi bagian dari upaya konsolidasi kekuatan militer di bawah kepemimpinan Partai Komunis.
Baca Juga: Yuan Menguat dari Level Terendah Sebulan Kamis (5/3), Beijing Umumkan Target 2026













