Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - MILAN. Obligasi pemerintah Jerman atau Bund kini menghadapi persaingan yang semakin ketat dalam menarik dana investor dari aset safe haven tradisional lainnya seperti emas.
Perubahan rencana fiskal Jerman serta berkurangnya kepemilikan obligasi oleh Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) menimbulkan kekhawatiran akan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan, yang berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil (yield).
Daya Tarik Bund Mulai Melemah
Dalam periode krisis keuangan global antara Mei 2008 hingga Mei 2009, dolar AS menjadi aset dengan kinerja terbaik dengan kenaikan sekitar 14%, diikuti oleh yen Jepang.
Namun, harga obligasi Bund Jerman juga mencatat kenaikan hampir 6%, hampir setara dengan emas, sementara harga obligasi pemerintah AS relatif stagnan dan franc Swiss justru melemah sekitar 6%, menurut data LSEG.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan posisi Bund sebagai aset safe haven tidak lagi sekuat sebelumnya.
Data menunjukkan bahwa di antara enam aset safe haven klasik—termasuk emas, franc Swiss, yen Jepang, dan obligasi pemerintah utama—kenaikan harga Bund tertinggal dibandingkan emas dan franc Swiss selama gejolak pasar pada masa pandemi 2020 serta saat terjadi aksi jual aset AS setelah Presiden Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif besar-besaran pada April.
Baca Juga: Perusahaan Petrokimia Singapura PCS Nyatakan Force Majeure, Terdampak Perang Iran
Situasi ini semakin diperburuk oleh tekanan di pasar obligasi global baru-baru ini. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi, yang mendorong aksi jual di pasar obligasi pemerintah dunia.
Faktor Geopolitik dan Fiskal Memengaruhi Sentimen
Sebelum gejolak pasar obligasi global terjadi pekan ini, sinyal melemahnya daya tarik Bund sudah terlihat. Kinerja harga obligasi Jerman semakin tertinggal dibandingkan aset safe haven lainnya, bahkan kalah dari obligasi pemerintah AS (U.S. Treasuries).
Perhatian investor kembali tertuju pada rencana peningkatan stimulus fiskal Jerman serta potensi lonjakan utang negara, terutama setelah Presiden Donald Trump berulang kali mengancam akan mencaplok Greenland dan menekan sekutu NATO untuk meningkatkan belanja pertahanan.
“Setiap guncangan yang mendorong kita lebih jauh ke arah peningkatan belanja fiskal kemungkinan akan membuat Bund berfungsi lebih lemah sebagai aset safe haven dibandingkan sebelumnya,” kata James Bilson, ahli strategi pendapatan tetap di Schroders.
Ia menambahkan bahwa saat ini pihaknya mengambil posisi underweight terhadap Bund Jerman dibandingkan obligasi Inggris, bahkan dalam beberapa kasus mengambil posisi short.
Imbal Hasil Lebih Rendah Kurangi Daya Tarik
Selain faktor fiskal dan geopolitik, tingkat imbal hasil juga memengaruhi minat investor. Obligasi pemerintah Jerman termasuk yang memiliki yield terendah di antara negara ekonomi besar.
Baca Juga: Anggaran Militer China Naik 7%, Sinyal Tegas di Tengah Rivalitas Global
Imbal hasil Bund tenor 10 tahun berada di sekitar 2,71%, jauh di bawah obligasi pemerintah AS yang mencapai sekitar 4,02% dan obligasi pemerintah Inggris (gilts) sekitar 4,4%. Perbedaan ini membuat Bund kurang menarik bagi investor yang mencari pengembalian investasi lebih tinggi.
Ekonomi Jerman Masih Lemah
Para ekonom memperkirakan stimulus fiskal yang direncanakan pemerintah Jerman akan memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian, namun dampaknya kemungkinan baru terasa mulai 2027. Artinya, pertumbuhan ekonomi negara tersebut masih berpotensi lemah sepanjang tahun ini.
Di sisi lain, beberapa negara Eropa Selatan seperti Spanyol justru mencatat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang stabil serta menjaga disiplin fiskal. Kondisi ini bahkan mendorong peningkatan peringkat kredit negara-negara tersebut.
Harga Bund pada Februari sempat bergerak sejalan dengan obligasi Prancis dan Italia ketika pasar saham global mengalami aksi jual yang dipicu sektor teknologi.
Sementara itu, selisih imbal hasil (yield spread) antara obligasi Italia tenor 10 tahun dan Bund Jerman berada di sekitar 61 basis poin, setelah sempat menyempit menjadi sekitar 53 basis poin pada Januari, level terendah sejak musim panas 2008.
Peran Utang Bersama Uni Eropa
Ekspektasi meningkatnya penerbitan utang bersama oleh Uni Eropa juga membantu obligasi negara dengan tingkat utang tinggi seperti Italia dan Prancis. Kebijakan tersebut berpotensi mendistribusikan beban utang zona euro secara lebih merata.
Selain itu, berbagai instrumen kebijakan yang dimiliki ECB selama ini membantu menjaga stabilitas biaya pinjaman nasional di kawasan tersebut.
“Yang kita lihat saat ini adalah tanda-tanda konvergensi di kawasan tersebut. Itu menjadi alasan lain mengapa Bund kemungkinan tidak akan reli sebesar yang terjadi pada krisis sebelumnya,” kata Luca Salford, ahli strategi suku bunga zona euro di Morgan Stanley.
Ia menambahkan bahwa saat ini masih jauh dari kemungkinan kembali diterapkannya kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing), serta tidak ada kekhawatiran besar bahwa negara lain menghadapi risiko makroekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan Jerman.
Dampak Penurunan Pembelian oleh ECB
Faktor lain yang membebani Bund adalah langkah ECB mengurangi portofolio obligasi yang dibeli selama program pelonggaran kuantitatif pada masa pandemi COVID-19.
Karena Jerman merupakan ekonomi terbesar di Eropa, Bund menyumbang porsi terbesar dari pembelian tersebut, sehingga pengurangan kepemilikan ECB berdampak signifikan pada pasar obligasi Jerman.
Baca Juga: Negara Teluk Khawatir Risiko Perang Saudara di Iran
“Bund masih akan memiliki peran sebagai aset safe haven, tetapi setelah perubahan struktural di pasar pendapatan tetap, mereka kini harus bersaing dengan aset safe haven lain seperti franc Swiss dan yen Jepang,” kata Rufaro Chiriseri, Kepala Pendapatan Tetap di RBC Wealth Management.
Menurutnya, dengan ECB tidak lagi menjadi pembeli utama di pasar obligasi, porsi investor yang sensitif terhadap imbal hasil semakin meningkat. Hal ini menjadi faktor penting bagi Jerman, mengingat sekitar 40% permintaan obligasi negara tersebut masih berasal dari investor asing di luar kawasan euro.
Prospek Bund ke Depan
Ke depan, posisi Bund sebagai aset safe haven global diperkirakan masih bertahan, tetapi dengan daya tarik yang lebih terbatas dibandingkan masa lalu.
Kombinasi faktor seperti perubahan kebijakan fiskal Jerman, penurunan dukungan dari ECB, serta persaingan dari aset aman lain seperti emas dan mata uang safe haven diperkirakan akan terus memengaruhi dinamika pasar obligasi Eropa.













