Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Senin (5/1/2026), sementara harga minyak bergerak volatil seiring investor menilai dampak aksi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela dan bersiap menghadapi banjir data ekonomi pada pekan perdagangan penuh pertama tahun ini.
Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 1,2%, sementara kontrak berjangka S&P 500 e-mini menguat tipis 0,1%.
Pelaku pasar mencermati implikasi geopolitik setelah AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington akan menempatkan Venezuela di bawah kendali sementara Amerika Serikat.
Baca Juga: Kuba Berduka: 32 Warga Tewas dalam Serangan AS di Venezuela
Kepala Ekonom Capital Economics, Neil Shearing, menilai dampak ekonomi global jangka pendek dari peristiwa tersebut relatif terbatas.
“Pencopotan Presiden Venezuela oleh AS kecil kemungkinan menimbulkan konsekuensi ekonomi global dalam waktu dekat. Namun dampak politik dan geopolitiknya akan bergema luas,” ujar Shearing.
Harga Minyak Fluktuatif
Harga minyak mentah bergerak tidak stabil. Brent crude naik tipis 0,2% ke US$60,87 per barel, di tengah evaluasi pasar terhadap intervensi AS di Venezuela dan keputusan OPEC+ yang mempertahankan level produksi.
Baca Juga: Tokoh Pro-Bitcoin Maria Corina Machado Masuk Bursa Pengganti Maduro di Venezuela
Chief Strategist BCA Research, Marko Papic, mengatakan kecil kemungkinan harga minyak mengalami tekanan besar ke bawah.
“Venezuela membutuhkan investasi modal dan rekayasa yang sangat besar untuk mendongkrak produksi minyaknya. Kami tidak melihat alasan untuk menjual minyak saat ini, bahkan risiko kenaikan harga justru bisa muncul,” ujarnya.
Bursa Jepang dan Korea Cetak Rekor
Di kawasan Asia, Nikkei 225 Jepang melonjak 2,8%, mendekati rekor tertinggi dua bulan lalu. Penguatan ditopang data manufaktur Jepang yang menunjukkan stabilisasi pada Desember, mengakhiri tren kontraksi lima bulan beruntun.
Indeks Kospi Korea Selatan dan bursa Taiwan masing-masing melesat lebih dari 2% dan mencetak rekor tertinggi baru.
Baca Juga: Trump Ancam Serangan Kedua ke Venezuela Jika Pemerintah Tak Kooperatif
Sementara itu, pasar China bergerak lebih terbatas. Hang Seng Index hanya naik 0,1%, tertekan oleh saham-saham energi.
Indeks saham energi di Hong Kong turun 3,1%, seiring tekanan pada emiten minyak China. Bursa Australia naik tipis 0,1%.
Aset Safe Haven Menguat
Managing Director OCBC Singapore Vasu Menon menilai, ketidakpastian geopolitik dapat menopang harga minyak dan aset lindung nilai.
“Masih harus dilihat apakah pemerintahan Trump memiliki selera untuk perubahan rezim di negara lain. Ketidakpastian ini berpotensi menopang harga minyak dan mendorong minat ke aset safe haven seperti logam mulia,” ujarnya.
Baca Juga: Dolar Taiwan & Baht Thailand Menguat Tipis Senin (5/1), Mayoritas Mata Uang Asia Lesu
Indeks dolar AS menguat 0,1% ke level 98,55, memperpanjang penguatan selama lima hari berturut-turut. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik tipis ke 4,187%.
Harga emas naik sekitar 1% ke US$4.371,29 per ons troi. Sementara itu, Bitcoin menguat 0,2% ke US$91.452,90, dan Ether bergerak stagnan di US$3.141,29.













