Sumber: Cointelegraph | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pasca penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1/2026), perhatian dunia kini tertuju pada transisi kepemimpinan Venezuela.
Salah satu nama yang mencuat sebagai kandidat kuat pengganti Maduro adalah María Corina Machado, tokoh oposisi sekaligus advokat Bitcoin.
Melansir Cointelegraph Senin (5/1/2026), Machado, yang meraih Hadiah Nobel Perdamaian 2025, menjadi kandidat kedua terkuat untuk memimpin Venezuela hingga akhir 2026.
Data pasar prediksi Kalshi menunjukkan peluang Machado mencapai 28%, sedikit di bawah kandidat teratas Edmundo González Urrutia dari koalisi oposisi Unitary Platform dengan peluang 32%.
Baca Juga: Trump Ancam Serangan Kedua ke Venezuela Jika Pemerintah Tak Kooperatif
González secara luas diyakini memenangkan pemilu Venezuela Mei 2025, namun digagalkan oleh Partai Sosialis Bersatu Venezuela (PSUV) yang dipimpin Maduro.
Di posisi ketiga terdapat Wakil Presiden Delcy Rodríguez dengan peluang 27%, yang ditunjuk Mahkamah Agung Venezuela sebagai presiden sementara setelah Maduro ditangkap.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan AS akan mengelola Venezuela sementara waktu hingga kepemimpinan baru terbentuk, memicu ketidakpastian arah politik jangka pendek negara tersebut.
Arah Reformasi dan Bitcoin
Jika Machado memimpin, Venezuela berpotensi mengalami pembalikan drastis dari otoritarianisme ke reformasi pasar bebas, termasuk pemanfaatan Bitcoin sebagai alternatif mata uang nasional di tengah kehancuran bolivar.
Sejak Maduro berkuasa pada 2013, bolivar telah kehilangan lebih dari 99,99% daya belinya, menjadikan kripto sebagai salah satu alat bertahan hidup masyarakat.
Baca Juga: Dolar Taiwan & Baht Thailand Menguat Tipis Senin (5/1), Mayoritas Mata Uang Asia Lesu
Dalam wawancara dengan Chief Strategy Officer Human Rights Foundation, Alex Gladstein, pada akhir 2024, Machado menyebut Bitcoin sebagai “jalur penyelamat” rakyat Venezuela.
“Warga Venezuela menemukan harapan lewat Bitcoin saat hiperinflasi, untuk melindungi kekayaan mereka dan membiayai pelarian,” kata Machado.
“Bitcoin berkembang dari alat kemanusiaan menjadi sarana perlawanan yang vital. Kami ingin mengadopsinya dalam Venezuela yang demokratis.”
Lebih dari 8 juta warga Venezuela telah meninggalkan negaranya sejak 2013, dan kripto menjadi salah satu sarana utama pengiriman remitansi ke keluarga yang tertinggal.
Skeptisisme Trump
Namun, Presiden Trump meragukan kapasitas Machado sebagai pemimpin nasional. Ia menyebut Machado tidak memiliki cukup dukungan domestik untuk memimpin Venezuela keluar dari krisis.
“Saya pikir akan sangat sulit baginya menjadi pemimpin. Dia orang baik, tapi tidak punya cukup dukungan dan rasa hormat di dalam negeri,” kata Trump.
Baca Juga: Setelah Venezuela, Trump Sebut Operasi Militer ke Kolombia Terdengar Bagus bagi AS
Pandangan ini dibantah sejumlah analis politik Amerika Latin. CEO Project Pulso, Liz Rebecca Alarcón, mengatakan Machado justru memiliki dukungan luas dari warga Venezuela di dalam maupun luar negeri.
“Kami ingin kehendak rakyat Venezuela dihormati, dan kehendak itu adalah Maria Corina Machado dan Edmundo González Urrutia,” ujarnya kepada ABC.
Machado sebelumnya digadang-gadang menang pemilu 2025, namun dilarang mencalonkan diri oleh Mahkamah Agung Venezuela dengan alasan pelanggaran administratif dan hukum pemilu.
Rekam Jejak Anti-Kripto Rezim Lama
Partai PSUV yang kini dipimpin Delcy Rodríguez memiliki rekam jejak menindak keras aktivitas Bitcoin, termasuk penyitaan mesin tambang dan penutupan fasilitas mining dengan alasan penggunaan listrik ilegal.
Baca Juga: Dolar Menguat Senin (5/1), Pasar Valas Abaikan Venezuela dan Fokus ke Data Ekonomi AS
Pemerintahan Trump sempat berkomunikasi dengan Rodríguez usai penangkapan Maduro.
Awalnya ia memberi sinyal kooperatif, namun kemudian menyebut penangkapan tersebut sebagai “penculikan ilegal” dan pelanggaran kedaulatan Venezuela.
Trump memperingatkan Rodríguez akan menghadapi konsekuensi lebih besar dibanding Maduro jika tidak bekerja sama.













