kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.515.000   27.000   1,09%
  • USD/IDR 16.766   26,00   0,16%
  • IDX 8.778   29,74   0,34%
  • KOMPAS100 1.209   4,20   0,35%
  • LQ45 853   0,94   0,11%
  • ISSI 317   2,56   0,82%
  • IDX30 438   -0,68   -0,16%
  • IDXHIDIV20 511   -0,45   -0,09%
  • IDX80 134   0,52   0,39%
  • IDXV30 140   0,01   0,01%
  • IDXQ30 140   -0,09   -0,07%

Penangkapan Nicolas Maduro oleh AS Picu Ketidakpastian Kekuasaan Venezuela


Minggu, 04 Januari 2026 / 13:57 WIB
Penangkapan Nicolas Maduro oleh AS Picu Ketidakpastian Kekuasaan Venezuela
ILUSTRASI. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat yang dipuji Presiden AS Donald Trump sebagai langkah “mengejutkan dan sangat kuat” (via REUTERS/Miraflores Palace)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat yang dipuji Presiden AS Donald Trump sebagai langkah “mengejutkan dan sangat kuat” memicu ketidakpastian besar mengenai siapa yang kini memegang kendali atas negara kaya minyak tersebut.

Presiden Trump pada Sabtu (waktu setempat) menyatakan bahwa Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, telah dilantik setelah penangkapan Maduro.

Trump juga menyebut Rodriguez telah berbicara langsung dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, memicu spekulasi bahwa ia akan mengambil alih kepemimpinan Venezuela.

Sesuai dengan konstitusi Venezuela, Delcy Rodriguez memang berhak menjabat sebagai presiden sementara apabila presiden tidak dapat menjalankan tugasnya. Mahkamah Agung Venezuela pun dilaporkan memerintahkan Rodriguez untuk mengambil alih jabatan tersebut pada Sabtu malam.

Baca Juga: Trump Klaim AS Ambil Alih Sementara Venezuela Usai Penangkapan Nicolas Maduro

Namun, hanya beberapa jam setelah pernyataan Trump, Delcy Rodriguez tampil di televisi pemerintah bersama tokoh-tokoh kunci rezim, termasuk kakaknya yang juga Ketua Majelis Nasional Jorge Rodriguez, Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello, serta Menteri Pertahanan Vladimir Padrino Lopez.

Dalam pernyataannya, Delcy menegaskan bahwa Nicolas Maduro tetap menjadi satu-satunya presiden Venezuela.

Penampilan bersama tersebut menjadi sinyal kuat bahwa lingkaran kekuasaan inti yang selama ini menopang pemerintahan Maduro masih solid—setidaknya untuk sementara waktu.

AS Tutup Pintu bagi Oposisi Maria Corina Machado

Di sisi lain, Presiden Trump secara terbuka menutup peluang kerja sama dengan tokoh oposisi Venezuela dan peraih Nobel, Maria Corina Machado, yang selama ini dianggap sebagai penantang paling kredibel bagi Maduro. Trump menyatakan Machado tidak memiliki dukungan nyata di dalam negeri.

Machado sebelumnya dilarang mencalonkan diri dalam pemilu Venezuela 2024. Meski demikian, pengamat internasional menyebut kandidat penggantinya memenangkan pemilu secara telak, meskipun pemerintah Maduro mengklaim kemenangan.

Keseimbangan Kekuasaan Sipil dan Militer

Selama lebih dari satu dekade, kekuasaan nyata di Venezuela berada di tangan segelintir elite pejabat senior. Para analis menilai sistem ini bertumpu pada jaringan loyalis yang luas, aparat keamanan, serta praktik korupsi dan pengawasan ketat terhadap masyarakat.

Di dalam lingkaran inti tersebut, terdapat keseimbangan antara kekuatan sipil dan militer. Delcy dan Jorge Rodriguez mewakili poros sipil, sementara Vladimir Padrino Lopez dan Diosdado Cabello menjadi simbol kekuatan militer.

Baca Juga: Dewan Keamanan PBB Gelar Rapat Darurat Usai AS Serang Venezuela

Struktur kekuasaan ini membuat upaya membongkar rezim Venezuela jauh lebih rumit dibanding sekadar menyingkirkan Maduro.

“Anda bisa menyingkirkan banyak figur pemerintahan Venezuela, tetapi perubahan nyata hanya akan terjadi jika banyak aktor di berbagai level ikut bergerak,” ujar seorang mantan pejabat AS yang pernah terlibat dalam investigasi kriminal terkait Venezuela.

Peran Sentral Diosdado Cabello

Sorotan utama kini tertuju pada Diosdado Cabello, tokoh berpengaruh yang memiliki kendali signifikan atas badan intelijen sipil dan militer Venezuela. Cabello dikenal sebagai figur ideologis, keras, dan sulit diprediksi.

“Fokus sekarang ada pada Diosdado Cabello, karena ia adalah elemen paling ideologis, paling keras, dan paling berbahaya dalam rezim Venezuela,” kata ahli strategi militer Venezuela, Jose Garcia.

Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya menyimpulkan bahwa dua badan intelijen utama Venezuela SEBIN (sipil) dan DGCIM (militer) telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan sebagai bagian dari rencana negara untuk menekan oposisi.

Sejumlah mantan tahanan menggambarkan praktik penyiksaan seperti sengatan listrik, simulasi tenggelam, dan kekerasan seksual di fasilitas rahasia DGCIM.

Dalam beberapa pekan terakhir, seiring meningkatnya kehadiran militer AS di Amerika Latin, Cabello kerap tampil di televisi nasional memerintahkan aparat keamanan untuk memburu “teroris” dan memperingatkan bahwa setiap penyimpangan akan terdeteksi. 

Ia kembali menyuarakan ancaman serupa pada Sabtu lalu dengan mengenakan rompi antipeluru dan helm, dikelilingi pengawal bersenjata berat.

Cabello juga dikenal memiliki hubungan erat dengan milisi pro-pemerintah, termasuk kelompok bersenjata sipil bermotor yang dikenal sebagai colectivos.

Jenderal Kuasai Sektor Strategis

Meski secara formal angkatan bersenjata dipimpin oleh Menteri Pertahanan Vladimir Padrino selama lebih dari satu dekade, Cabello tetap memiliki pengaruh besar terhadap sebagian signifikan militer Venezuela. Negara tersebut memiliki sekitar 2.000 jenderal dan laksamana, lebih dari dua kali lipat jumlah di Amerika Serikat.

Perwira senior dan purnawirawan mengendalikan sektor-sektor strategis seperti distribusi pangan, bahan baku, hingga perusahaan minyak negara PDVSA. Puluhan jenderal juga tercatat duduk di dewan direksi perusahaan swasta.

Baca Juga: Amerika Serikat Menangkap Presiden Maduro, Trump: AS Akan Mengelola Venezuela

Selain kontrak resmi, aparat militer Venezuela juga disebut memperoleh keuntungan dari perdagangan ilegal, menurut pembelot serta penyelidik AS.

Dokumen konsultan keamanan oposisi yang dibagikan kepada militer AS menunjukkan bahwa komandan yang dekat dengan Cabello dan Padrino ditempatkan di brigade-brigade penting di wilayah perbatasan dan pusat industri yang juga merupakan jalur utama penyelundupan.

“Sekitar 20 hingga 50 perwira militer Venezuela harus disingkirkan, bahkan mungkin lebih, untuk benar-benar mengakhiri rezim ini,” ujar seorang pengacara yang pernah mewakili anggota elite kepemimpinan Venezuela.

Potensi Pembelotan Masih Terbatas

Pasca penangkapan Maduro, muncul sinyal bahwa sebagian elite mulai mempertimbangkan untuk berbalik arah. Sekitar selusin mantan pejabat dan jenderal aktif disebut telah menghubungi pihak AS untuk menawarkan informasi intelijen dengan imbalan jaminan keamanan dan kekebalan hukum.

Namun, sumber yang dekat dengan Diosdado Cabello menyebutkan bahwa tokoh tersebut belum menunjukkan minat untuk bernegosiasi atau mencari kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Situasi ini menunjukkan bahwa meski penangkapan Nicolas Maduro menjadi titik balik dramatis, masa depan kekuasaan Venezuela masih sangat ditentukan oleh dinamika internal antara elite sipil, militer, dan jaringan kekuasaan yang telah mengakar selama bertahun-tahun.

Selanjutnya: Strategi Kalbe Farma (KLBF) Raih Kinerja Optimal 2026

Menarik Dibaca: Cara Mudah Mencari Tambahan Penghasilan untuk Kebutuhan yang Mendesak




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×