kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.488.000   -16.000   -0,64%
  • USD/IDR 16.732   -8,00   -0,05%
  • IDX 8.748   101,19   1,17%
  • KOMPAS100 1.205   11,60   0,97%
  • LQ45 852   5,43   0,64%
  • ISSI 315   6,02   1,95%
  • IDX30 439   1,60   0,37%
  • IDXHIDIV20 511   1,24   0,24%
  • IDX80 134   1,29   0,97%
  • IDXV30 140   1,02   0,73%
  • IDXQ30 140   0,22   0,15%

Akhir Kekuasaan Maduro? Ditangkap AS Usai Dituduh Diktator dan Pelanggar HAM


Sabtu, 03 Januari 2026 / 21:18 WIB
Akhir Kekuasaan Maduro? Ditangkap AS Usai Dituduh Diktator dan Pelanggar HAM
ILUSTRASI. Presiden Venezuela Nicolas Maduro ( REUTERS/HANDOUT)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - CARACAS. Nicolás Maduro memerintah Venezuela dengan tangan besi selama lebih dari 12 tahun, memimpin negara itu di tengah krisis ekonomi dan sosial yang mendalam serta menolak tekanan dari oposisi domestik dan pemerintah asing untuk melakukan perubahan politik. 

Kekuasaan Maduro berakhir secara tiba-tiba pada Sabtu, ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa pasukan AS telah menangkap Maduro dan membawanya keluar dari Venezuela.

Maduro (63), seorang sosialis dan penerus pilihan mendiang Hugo Chávez, selama bertahun-tahun dituduh oleh para pengkritiknya di dalam dan luar negeri sebagai diktator yang memenjarakan atau menganiaya lawan-lawan politik serta berulang kali menggelar pemilu yang dianggap tidak sah. 

Baca Juga: Ethiopia Capai Kesepakatan Restrukturisasi Utang US$ 1 Miliar

Ia dikenal gemar salsa dan memiliki gaya retorika teatrikal, sering menyebut politisi oposisi sebagai “iblis fasis”, serta bangga menentang tekanan Amerika Serikat.

Ia dilantik untuk masa jabatan ketiga pada Januari 2025 setelah pemilu 2024 yang secara luas dikecam sebagai curang oleh pengamat internasional dan oposisi. Ribuan orang yang memprotes hasil pemilu tersebut ditangkap.

Oposisi Venezuela, Amerika Serikat, dan banyak negara Barat juga menganggap kemenangan Maduro dalam pemilu 2018 tidak sah. Praktik represif pemerintahannya kembali menjadi sorotan setelah oposisi terkemuka Maria Corina Machado dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian 2025.

Pada Oktober lalu, Trump mengumumkan bahwa ia mengizinkan operasi CIA di Venezuela. Maduro menanggapi dengan mengecam apa yang ia sebut sebagai “kekuatan iblis” yang ingin mencuri minyak Venezuela. Ia secara konsisten membantah tuduhan AS terkait keterlibatan dalam perdagangan narkoba dan korupsi.

Pada Agustus, Washington menggandakan hadiah penangkapan Maduro menjadi 50 juta dolar AS atas tuduhan perdagangan narkoba dan hubungan dengan kelompok kriminal. Tekanan meningkat dalam beberapa bulan terakhir dengan pengerahan besar militer AS di Karibia selatan, puluhan serangan terhadap kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba, serta pengetatan sanksi.

Tuduhan Pelanggaran HAM

Bulan lalu, Misi Pencari Fakta PBB menyimpulkan bahwa Garda Nasional Bolivarian Venezuela melakukan pelanggaran HAM serius dan kejahatan terhadap kemanusiaan selama lebih dari satu dekade dalam menargetkan lawan politik. Maduro membantah tuduhan tersebut dan menyebut pemerintahannya sebagai korban kampanye imperialis untuk menggulingkan gerakan sosialis Chávez dan menguasai minyak Venezuela.

Baca Juga: Khamenei Tegaskan Tidak Akan Menyerah di Tengah Protes dan Ancaman AS

Ia dan para pendukungnya menyebut sanksi AS sebagai “perang ekonomi”. Para pendukungnya memuji Maduro sebagai pemimpin yang berani menentang Washington, mengikuti jejak Fidel Castro dari Kuba.

Protes besar pada 2017 menewaskan sedikitnya 125 orang, sementara puluhan lainnya tewas dalam demonstrasi setelah pelantikan masa jabatan kedua Maduro pada 2019. Setelah pemilu 2024, PBB menyatakan pemerintah meningkatkan represi untuk menekan protes damai, dengan lebih dari dua lusin korban tewas dan sekitar 2.400 orang ditangkap.

Di bawah Maduro, Venezuela mengalami keruntuhan ekonomi berkepanjangan yang memicu eksodus sekitar 7,7 juta warga negara. Sekitar 82% penduduk hidup dalam kemiskinan, dan 53% dalam kemiskinan ekstrem, menurut laporan Pelapor Khusus PBB pada 2024.

Dari Sopir Bus ke Presiden

Maduro lahir pada 23 November 1962 dari keluarga kelas pekerja dan pernah bekerja sebagai sopir bus. Ia aktif mendukung Chávez sejak upaya kudeta gagal pada 1992 dan membantu memperjuangkan pembebasan Chávez dari penjara.

Setelah Chávez terpilih pada 1998, Maduro meniti karier politik sebagai anggota parlemen, ketua Majelis Nasional, dan kemudian menteri luar negeri, membangun aliansi internasional melalui bantuan berbasis minyak. Ia terpilih sebagai presiden pada 2013 setelah Chávez wafat, namun dianggap tidak memiliki karisma sekuat pendahulunya.

Kepemimpinannya ditandai kelangkaan barang, inflasi tinggi, dan kebijakan ekonomi yang kontroversial. Pada 2018, ia selamat dari upaya pembunuhan menggunakan drone bermuatan bahan peledak, yang membuatnya membatasi penampilan publik.

Baca Juga: Rusia Kecam Serangan Militer AS ke Venezuela, Maduro Dikabarkan Ditangkap

Sepanjang kariernya, Maduro kerap didampingi istrinya, Cilia Flores, tokoh politik berpengaruh yang menduduki berbagai jabatan tinggi. Trump menyatakan pada Sabtu bahwa Flores juga telah ditangkap dan dibawa keluar dari Venezuela.

Selanjutnya: Ethiopia Capai Kesepakatan Restrukturisasi Utang US$ 1 Miliar

Menarik Dibaca: 8 Daftar Minuman Penurun Risiko Kanker yang Dapat Anda Coba




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×