Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - DUBAI. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan bahwa pemerintahnya tidak akan menyerah meski Amerika Serikat mengancam akan membantu para pengunjuk rasa.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya penahanan dan kerusuhan yang dipicu oleh inflasi tinggi dan anjloknya nilai tukar rial.
Dalam rekaman televisi pada Sabtu (3/1/2026), Khamenei menyatakan, “Republik Islam tidak akan menyerah pada musuh,” dan menambahkan bahwa para pengacau harus “ditempatkan pada posisi yang seharusnya.”
Baca Juga: Rusia Kecam Serangan Militer AS ke Venezuela, Maduro Dikabarkan Ditangkap
Kelompok hak asasi manusia melaporkan lebih dari 10 orang tewas dan puluhan ditahan sejak protes dimulai pada Minggu lalu, terutama di kota-kota kecil di provinsi barat Iran.
Pemerintah Iran mengambil pendekatan ganda terhadap protes ini. Mereka menyatakan bahwa demonstrasi terkait ekonomi adalah sah dan akan ditempuh melalui dialog, tetapi aksi kekerasan di jalanan akan dihadapi dengan gas air mata.
Khamenei menyoroti kekhawatiran para pedagang pasar, yang mengeluhkan sulitnya berbisnis karena anjloknya nilai mata uang.
“Pedagang benar. Mereka memang benar bahwa mereka tidak bisa berdagang dalam kondisi ini,” ujarnya. Namun, ia menegaskan, “Kami akan berbicara dengan pengunjuk rasa, tetapi berbicara dengan pengacau tidak ada gunanya.”
Baca Juga: Ray Dalio Ingatkan AS Masuk Spiral Utang, Ini Aset Aman Pilihan Investasi
Laporan kekerasan terutama muncul dari kota-kota kecil di barat Iran. Beberapa orang dilaporkan tewas, dua anggota aparat keamanan meninggal, dan lebih dari selusin lainnya terluka.
Kelompok hak asasi Hengaw melaporkan 133 orang ditangkap hingga Jumat malam, meningkat 77 orang dibandingkan sehari sebelumnya.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat “siap bertindak,” meski tidak merinci bentuk aksi terhadap Iran. Ancaman ini menambah tekanan pada pemerintah Iran yang tengah menghadapi ekonomi menyusut akibat sanksi, serta kesulitan menyediakan air dan listrik di beberapa wilayah.
Protes kali ini merupakan yang terbesar sejak demonstrasi massal pada akhir 2022 terkait kematian Mahsa Amini saat berada dalam tahanan. Meski skala kali ini lebih kecil, aksi ini menjadi ujian domestik terbesar bagi pemerintah Iran dalam tiga tahun terakhir.
Kelompok hak asasi dan pengamat media sosial melaporkan aksi protes dan kekerasan aparat keamanan di berbagai kota, sementara media yang terkait negara menyebut ada serangan terhadap properti yang dilakukan oleh “penyusup dengan dalih protes.”
Baca Juga: Trump Siap Bantu Demonstran Iran, Teheran Keluarkan Ultimatum ke AS
Televisi pemerintah melaporkan penangkapan orang-orang yang diduga membuat bom bensin dan pistol rakitan.
Reuters belum dapat memverifikasi laporan-laporan tersebut secara independen













