kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.504.000   16.000   0,64%
  • USD/IDR 16.740   33,00   0,20%
  • IDX 8.748   101,19   1,17%
  • KOMPAS100 1.205   11,60   0,97%
  • LQ45 852   5,43   0,64%
  • ISSI 315   6,02   1,95%
  • IDX30 439   1,60   0,37%
  • IDXHIDIV20 511   1,24   0,24%
  • IDX80 134   1,29   0,97%
  • IDXV30 140   1,02   0,73%
  • IDXQ30 140   0,22   0,15%

Trump Siap Bantu Demonstran Iran, Teheran Keluarkan Ultimatum ke AS


Sabtu, 03 Januari 2026 / 06:51 WIB
Diperbarui Sabtu, 03 Januari 2026 / 06:53 WIB
Trump Siap Bantu Demonstran Iran, Teheran Keluarkan Ultimatum ke AS
USA-TRUMP/ECONOMY (REUTERS/Evelyn Hockstein). Ancaman Donald Trump untuk membantu pengunjuk rasa Iran menjadi sorotan global, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah.


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  DUBAI. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan membantu para pengunjuk rasa di Iran jika aparat keamanan negara itu menembaki demonstran. 

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah gelombang protes yang telah menewaskan sejumlah orang dan menjadi ancaman internal terbesar bagi pemerintah Iran dalam beberapa tahun terakhir.

“Kami siap dan siaga sepenuhnya,” tulis Trump di media sosial pada Jumat (2/1/2026). 

Ancaman itu muncul beberapa bulan setelah AS membombardir fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu, bergabung dengan serangan udara Israel yang menargetkan program nuklir serta pimpinan militer Iran.

Baca Juga: Awan Perang di Karibia: Apakah Trump Siap Serang Venezuela?

Menanggapi pernyataan Trump, pejabat tinggi Iran Ali Larijani memperingatkan bahwa campur tangan AS dalam urusan domestik Iran dapat mengguncang stabilitas seluruh kawasan Timur Tengah. Iran diketahui memiliki pengaruh dan mendukung kelompok proksi di Lebanon, Irak, dan Yaman.

Sementara itu, seorang pejabat lokal di wilayah barat Iran, daerah yang dilaporkan mengalami sejumlah korban jiwa, menegaskan bahwa setiap aksi kerusuhan atau pertemuan ilegal akan ditindak tegas tanpa toleransi.

Dalam surat resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB dan Presiden Dewan Keamanan yang dilihat Reuters, Duta Besar Iran untuk PBB Amir-Saeid Iravani meminta Dewan Keamanan mengutuk pernyataan Trump. 

Ia menegaskan Iran akan menggunakan haknya “secara tegas dan proporsional” serta menyatakan Amerika Serikat bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensi dari ancaman tersebut.

Baca Juga: Menkeu AS: Trump Siap Bertemu Xi Jinping di Korea Selatan

Aksi protes kali ini dipicu lonjakan inflasi dan biaya hidup. Meski skalanya masih lebih kecil dibandingkan gelombang kerusuhan sebelumnya, demonstrasi telah menyebar ke berbagai wilayah Iran, dengan bentrokan mematikan terutama terjadi di provinsi-provinsi barat.

Media yang berafiliasi dengan pemerintah dan kelompok hak asasi manusia melaporkan sedikitnya 10 orang tewas sejak Rabu. Salah satunya disebut sebagai anggota Basij, pasukan paramiliter yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran.

Kepemimpinan Republik Islam Iran selama puluhan tahun kerap berhasil meredam gejolak melalui langkah-langkah keamanan ketat dan penangkapan massal. Namun tekanan ekonomi yang berat dinilai membuat pemerintah lebih rentan menghadapi protes kali ini.

Gelombang demonstrasi ini merupakan yang terbesar sejak unjuk rasa nasional pada 2022 akibat kematian seorang perempuan muda dalam tahanan, yang kala itu berlangsung selama berminggu-minggu dan menewaskan ratusan orang menurut kelompok HAM.

Baca Juga: Trump Mengancam Iran Atas Penindakan Protes Saat Kerusuhan Berkobar

Trump tidak merinci bentuk dukungan atau tindakan apa yang mungkin diambil Amerika Serikat. Selama ini, Washington telah lama menjatuhkan sanksi ekonomi luas terhadap Teheran, terutama sejak Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 dan menerapkan kebijakan “tekanan maksimum”.

Rekaman video yang diverifikasi Reuters memperlihatkan puluhan orang berkumpul di depan kantor polisi yang terbakar, disertai suara tembakan dan teriakan kecaman terhadap aparat. 

Di kota Zahedan, wilayah selatan Iran yang mayoritas penduduknya dari kelompok minoritas Baluch, demonstran meneriakkan slogan “Matilah diktator”.

Kelompok HAM Hengaw melaporkan sedikitnya 80 orang ditangkap, sebagian besar di wilayah barat, termasuk 14 warga dari minoritas Kurdi. 

Televisi pemerintah Iran juga melaporkan penangkapan sejumlah orang di Kermanshah yang dituduh membuat bom molotov dan senjata rakitan. Dua orang bersenjata berat juga disebut ditangkap di wilayah tengah dan barat Iran sebelum melakukan serangan.

Korban tewas yang diakui media resmi Iran terjadi di kota kecil Lordegan dan Kuhdasht. Hengaw juga melaporkan satu korban tewas di Provinsi Fars, meski laporan tersebut dibantah media pemerintah.

Baca Juga: Trump Siap Jatuhkan Sanksi Fase Kedua untuk Rusia Terkait Konflik Ukraina

Reuters menyatakan belum dapat memverifikasi secara independen seluruh laporan mengenai kerusuhan, penangkapan, dan korban jiwa.

Ketegangan meningkat beberapa hari setelah Trump bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan memperingatkan kemungkinan serangan baru jika Iran kembali mengembangkan program nuklir atau rudal balistik. 

Tekanan terhadap Iran juga meningkat akibat jatuhnya rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad serta melemahnya Hezbollah di Lebanon akibat serangan Israel.

Iran sendiri masih mendukung kelompok bersenjata di Irak yang sebelumnya menyerang pasukan AS, serta kelompok Houthi di Yaman utara.

“Rakyat Amerika harus tahu bahwa Trump yang memulai petualangan berbahaya ini. Mereka seharusnya mengawasi keselamatan tentaranya,” ujar Larijani, yang juga menjabat Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran dan penasihat utama Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Baca Juga: Donald Trump Siap Uji Kemampuan Diplomasi di Asia, Fokus Hadapi Xi Jinping

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengambil sikap lebih lunak dengan menjanjikan dialog bersama pemimpin protes terkait krisis biaya hidup.

Namun kelompok HAM menyebut aparat keamanan tetap menembaki demonstran. Dalam pernyataannya pada Kamis, Pezeshkian mengakui bahwa kegagalan pemerintah turut memicu krisis yang tengah terjadi.

Selanjutnya: Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Januari 2026: Panduan Lengkap Ibadah Sunah

Menarik Dibaca: Fenomena Flamingo Era: Saat Bunda Kehilangan Jati Diri demi Keluarga




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×