Sumber: Yahoo News | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Triliuner hedge fund Ray Dalio memberikan peringatan serius terhadap kondisi keuangan Amerika Serikat (AS) yang semakin memburuk akibat tingginya utang nasional, yang kini mencapai rekor tertinggi sebesar US$ 38,4 triliun.
Dalam wawancara dengan CNBC awal 2025, Dalio menggambarkan situasi ekonomi AS sebagai “debt death spiral” atau spiral kematian utang.
Ia menjelaskan, kondisi ini terjadi ketika negara peminjam harus terus meminjam untuk membayar bunga utang, sehingga membuat investor ragu untuk menahan utang tersebut.
Baca Juga: Ray Dalio Sarankan 15% Portofolio di Emas Saat Harga Tembus Rekor US$4.000
“Spiral utang terjadi ketika debitur harus meminjam lagi untuk membayar bunga, dan ini mempercepat masalah. Ketika semua orang melihatnya, mereka enggan memegang utang itu,” kata Dalio.
Saat ini, pemerintah federal AS menghabiskan hampir US$ 1 triliun per tahun hanya untuk membayar bunga utang. Laporan Fortune pada Desember 2025 menyebutkan, Departemen Keuangan AS telah membayarkan US$ 11 miliar per minggu pada tahun fiskal 2026, atau sekitar 15% dari pengeluaran federal.
Selain itu, negara tersebut terus mencatat defisit anggaran, dengan pengeluaran lebih besar dibandingkan penerimaan.
Baca Juga: Pilih Investasi Emas atau Perak? Pahami Keunggulan dan Risiko Masing-Masing Investasi
Data Departemen Keuangan AS menunjukkan, defisit federal mencapai US$ 1,83 triliun pada 2024, saat pengeluaran sebesar US$ 6,75 triliun melebihi pendapatan yang hanya US$ 4,92 triliun.
Proyeksi Congressional Budget Office (CBO) menyebut defisit federal bisa menyentuh US$ 1,9 triliun pada akhir 2025.
Utang dan Risiko Inflasi
Meningkatnya utang memunculkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemampuan negara membayar, sehingga risiko gagal bayar meningkat. Namun, Dalio menilai AS kecil kemungkinannya gagal bayar. Ancaman yang lebih besar, menurutnya, adalah depresiasi mata uang.
“Tidak akan ada gagal bayar, bank sentral akan mencetak uang dan membelinya. Di sinilah terjadi depresiasi nilai mata uang,” ujar Dalio.
Pengalaman ini sudah pernah terjadi saat pandemi, ketika kebijakan quantitative easing membuat daya beli masyarakat menurun.
Inflasi sempat melambung ke level tertinggi dalam 40 tahun pada Juni 2022, dengan indeks harga konsumen (CPI) meningkat 9,1% secara tahunan. Harga kebutuhan pokok seperti makanan dan perumahan tetap tinggi hingga kini.
Baca Juga: Ray Dalio: Utang Tinggi Mengguncang Tatanan Moneter Amerika Serikat
Dalio menekankan pentingnya diversifikasi dalam berinvestasi, terutama dengan aset yang tahan guncangan ekonomi. Menurutnya, emas merupakan salah satu pilihan terbaik.
“Biasanya orang tidak memiliki cukup emas dalam portofolio mereka. Saat kondisi buruk datang, emas adalah diversifikasi yang efektif,” jelas Dalio.













