Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Perang antara Israel dan Iran disebut akan memasuki fase kedua, dengan fokus pada serangan terhadap situs rudal balistik yang berada jauh di bawah tanah di wilayah Iran.
Melansir Reuters Kamis (5/3/2026), dua sumber yang mengetahui operasi militer Israel mengatakan, jet tempur Israel akan menargetkan bunker bawah tanah yang digunakan untuk menyimpan rudal balistik serta peralatan pendukungnya.
Serangan udara gabungan antara Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran kini mendekati akhir pekan pertama sejak dimulai.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Lebih dari 2% Kamis (5/3), Brent US$83,65 & WTI ke US$77,22
Gelombang awal serangan dilaporkan menewaskan sejumlah pemimpin penting Iran dan memicu konflik regional, dengan serangan balasan Iran terjadi di Israel, kawasan Teluk, dan Irak, serta serangan Israel di Lebanon.
Militer Israel menyatakan telah menghancurkan ratusan peluncur rudal Iran di atas permukaan tanah yang berpotensi digunakan untuk menyerang kota-kota di Israel.
Namun pada fase berikutnya, target utama akan beralih ke fasilitas penyimpanan rudal balistik yang berada di bunker bawah tanah, menurut sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan karena sensitivitas operasi militer tersebut.
Salah satu sumber mengatakan tujuan Israel adalah melumpuhkan kemampuan Iran meluncurkan serangan udara terhadap Israel sebelum perang berakhir, sekaligus menargetkan kepemimpinan Republik Islam tersebut.
Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Meluas, Serangan Tanker dan Drones Guncang Pasokan Minyak Global
Seorang juru bicara militer Israel belum memberikan komentar terkait rencana serangan terbaru tersebut.
Namun sebelumnya militer Israel menyatakan bahwa bersama militer AS mereka telah menguasai sebagian besar wilayah udara Iran pada hari-hari awal operasi militer.
Dalam pernyataan pada Kamis, militer Israel mengatakan Angkatan Udara mereka telah menyerang fasilitas bawah tanah yang digunakan rezim Iran untuk menyimpan rudal balistik, serta lokasi penyimpanan rudal yang dirancang untuk digunakan melawan pesawat.
Sejak dimulainya serangan gabungan Israel-AS pada akhir pekan lalu, militer Israel belum secara terbuka mengumumkan operasi terhadap fasilitas rudal bawah tanah Iran.
Baca Juga: BYD Luncurkan Blade Battery Generasi Kedua, Bisa Isi Daya Cepat di Suhu Ekstrem
Stok Rudal Iran Masih Jadi Faktor Penting
Perkiraan jumlah stok rudal Iran sangat bervariasi. Militer Israel sebelumnya memperkirakan Iran memiliki sekitar 2.500 rudal sebelum perang, sementara sejumlah analis menilai jumlahnya bisa mencapai sekitar 6.000 rudal.
Besarnya stok yang masih tersisa dapat menjadi faktor penting dalam menentukan arah konflik. Hingga kini, Teheran masih terus melancarkan serangan rudal terhadap Israel dan wilayah lain di kawasan.
Analis pertahanan dari International Institute for Strategic Studies, Douglas Barrie, menilai Iran kemungkinan masih memiliki rudal jelajah serangan darat, yaitu senjata presisi yang terbang rendah untuk menghindari deteksi radar.
Baca Juga: Staf Asing BP Dievakuasi dari Ladang Minyak Rumaila Irak Setelah Insiden Drone
Serangan Udara Israel Terus Meningkat
Jet tempur Angkatan Udara Israel dilaporkan terus melakukan operasi hampir tanpa henti sejak konflik dimulai.
Intensitas serangan meningkat setelah kelompok militan Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon menembakkan roket ke wilayah Israel.
Serangan balasan Israel bahkan menjangkau hingga Beirut.
Dalam beberapa operasi, pesawat tempur Israel dilaporkan menyerang target di Teheran atau wilayah Iran barat saat menuju misi, lalu menyerang posisi Hezbollah di Lebanon saat kembali ke pangkalan.
Pejabat Israel dan AS mengatakan jumlah peluncuran rudal balistik dan drone dari Iran telah menurun sejak akhir pekan lalu.
Penurunan ini sebagian disebabkan oleh serangan terhadap fasilitas peluncur dan infrastruktur militer Iran.
Baca Juga: Dua Drone Mendarat di Ladang Minyak Raksasa Rumaila Irak, Pekerja Asing Dievakuasi
Namun militer Israel juga menilai Iran kemungkinan menahan sebagian stok rudalnya sebagai persiapan menghadapi perang berkepanjangan.
Mantan wakil penasihat keamanan nasional Israel, Eran Lerman mengatakan, pada awalnya ada harapan bahwa gelombang serangan pertama akan membuat sistem pemerintahan Iran mulai melemah dengan cepat.
"Namun itu belum terjadi. Selama itu belum terjadi, sistem tersebut harus terus dilemahkan lebih jauh," ujar Lerman.













