Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat, ditandai dengan serangkaian serangan terhadap kapal tanker di perairan Teluk dan masuknya drone Iran ke wilayah Azerbaijan, yang berpotensi memperluas krisis ke negara produsen minyak lainnya di kawasan.
Menurut penilaian awal, sebuah kapal tanker minyak mentah berbendera Bahama menjadi sasaran perahu kendali jarak jauh Iran yang dipasang bahan peledak saat berlabuh di dekat pelabuhan Khor al Zubair, Irak.
Sementara itu, sebuah tanker lain yang berlabuh di lepas pantai Kuwait mengalami ledakan besar di sisi pelabuhannya, mengakibatkan kebocoran minyak dan masuknya air ke kapal.
Sejak pecahnya konflik antara AS, Israel, dan Iran pada Sabtu lalu, total sembilan kapal telah diserang. Pada Kamis pagi, Iran menembakkan gelombang rudal ke Israel dan mengirim drone ke Azerbaijan, menimbulkan empat korban luka.
Baca Juga: Staf Asing BP Dievakuasi dari Ladang Minyak Rumaila Irak Setelah Insiden Drone
Eskalasi ini muncul setelah usulan penghentian serangan AS diblokir di Washington, sementara putra pemimpin tertinggi Iran yang tewas muncul sebagai kandidat utama penggantinya. Situasi ini menunjukkan bahwa Teheran tidak akan mundur meski menghadapi tekanan internasional.
Hambatan Kapal dan Gangguan Pasokan Minyak
Menurut estimasi Reuters yang berdasarkan data pelacakan kapal dari platform MarineTraffic, sekitar 200 kapal—termasuk tanker minyak, gas alam cair (LNG), dan kapal kargo—masih berlabuh di perairan lepas pantai produsen utama Teluk.
Ratusan kapal lainnya tertahan di luar Selat Hormuz, tidak dapat memasuki pelabuhan. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia.
BP (BP.L) telah mengevakuasi staf asing dari ladang minyak Rumaila, Irak, setelah dua drone tak dikenal mendarat di dalam ladang tersebut, menurut sumber minyak Irak. Baghdad terpaksa menurunkan produksi minyak hampir 1,5 juta barel per hari karena keterbatasan penyimpanan dan ketidakmampuan memuat tanker, kata pejabat kepada Reuters.
Harga Minyak dan Gas Menguat
Harga minyak kembali naik sekitar 3% pada Kamis, memperpanjang reli yang sudah melonjak lebih dari 14% sejak pecahnya perang pada Sabtu. Gangguan pasokan akibat serangan AS-Israel terhadap Iran mendorong kenaikan ini.
Harga gas Eropa acuan juga melonjak lebih dari 5% menjadi 51,30 euro per megawatt-jam. Dalam seminggu terakhir, harga gas telah naik sekitar 50%.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyatakan bahwa Rusia bisa menghentikan pasokan gas ke Eropa saat ini, di tengah lonjakan harga energi akibat krisis Iran.
Baca Juga: Israel Gempur Teheran, Konflik AS–Iran Meluas dan Guncang Ekonomi Global
Qatar, yang menyuplai 20% kebutuhan LNG dunia, menghentikan produksi gas awal pekan ini karena konflik. Produsen besar lain seperti AS dan Australia memiliki kapasitas terbatas untuk menutupi kekurangan pasokan ini.
Uni Eropa kini menghadapi risiko dan biaya yang lebih tinggi untuk mengisi kembali penyimpanan gas dalam beberapa bulan mendatang akibat konflik Iran dan terganggunya pasokan LNG.
Uni Eropa masih mengimpor sebagian gas dari Rusia, dengan rencana menghentikan pasokan melalui pipa pada akhir 2027 dan melarang kontrak LNG jangka pendek baru mulai akhir April 2026.
Para importir Asia juga merasakan tekanan akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah. China meminta para penyuling untuk tidak menandatangani kontrak ekspor bahan bakar baru dan mencoba membatalkan pengiriman yang telah dikomitmenkan, kata beberapa sumber yang mengetahui situasi tersebut pada Kamis.













